Ia bahkan menjalankan peran sebagai konselor. Mahasiswa datang membawa persoalan yang berbeda-beda. Ada yang sekadar membutuhkan teman berbicara, tetapi ada pula persoalan yang membutuhkan ruang privat.
“Saya disini juga bertugas sebagai konselor, banyak mahasiswa yang datang kepada saya untuk konsultasi,” ucapnya.
Bagi Rici, persoalan mahasiswa tidak selalu dapat dilihat hanya dari sisi akademik. Ada karakter, pola pikir, nilai, lingkungan pergaulan, serta persoalan personal yang ikut memengaruhi kehidupan mahasiswa.
Karena itu, ia melihat pengalaman di luar kelas sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Apa yang pernah dialaminya sendiri menjadi dasar dalam melihat mahasiswa. Ia pernah menjadi anak desa, mahasiswa penerima beasiswa, pedagang kecil, aktivis organisasi, tenaga kependidikan, hingga kemudian dosen.
Rangkaian pengalaman itu membuatnya memahami bahwa seseorang dapat belajar dari banyak tempat.
Menghadapi Anak Muda di Tengah Arus Digital
Perhatian Rici terhadap mahasiswa juga membuatnya banyak memikirkan tantangan generasi muda saat ini. Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan bersama karakter, etika, nilai agama, dan kemampuan memilih lingkungan.
Ia melihat fenomena FOMO dan OVT sebagai salah satu tantangan yang muncul ketika anak muda berhadapan dengan derasnya arus informasi digital.
“Kalau kita punya prinsip punya karakter kita tidak akan ikut-ikutan, kita punya cara untuk menghadapi masalah,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Anak muda juga membutuhkan pegangan agar tidak mudah terbawa arus.
Lingkungan pertemanan juga menjadi perhatian. Rici mengingatkan bahwa seseorang perlu memahami bahwa lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap kebiasaan dan cara berpikir.
“Jangan salah memilah dan memilih teman juga,” katanya. Ia kemudian mengibaratkan pertemanan seperti seseorang yang berada di dekat penjual minyak wangi: sedikit banyak, wanginya dapat ikut terbawa.
Bagi Rici, membangun karakter berarti juga belajar memilih lingkungan yang dapat membantu seseorang berkembang.
Menyiapkan Karier Sebelum Gelar Wisuda
Salah satu pesan Rici kepada anak muda berkaitan dengan persiapan karier. Menurutnya, mahasiswa tidak perlu menunggu wisuda untuk mulai memikirkan masa depan profesional. Persiapan justru dapat dimulai sejak seseorang masih berada di bangku kuliah.
Pengalaman hidupnya sendiri menjadi contoh dari gagasan tersebut. Ketika masih mahasiswa, ia sudah aktif berorganisasi, berwirausaha, mengikuti berbagai kegiatan, sekaligus mulai bekerja di lingkungan IPB.
“Siapkan karir sejak jauh-jauh hari, karir itu disiapkan semenjak masih mahasiswa bukan sebelum atau sesudah wisuda,” katanya.
Selain kemampuan dan pengalaman, ia mengingatkan pentingnya menjaga jejak digital.
Di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, aktivitas seseorang di media sosial dapat menjadi bagian dari rekam jejak dirinya. Karena itu, menurut Rici, anak muda perlu berhati-hati ketika menggunakan media sosial.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Baginya, seseorang perlu terus mengembangkan kemampuan, tetapi juga memahami kapan harus beristirahat dan memulihkan diri.
Gagasan tersebut ia hubungkan dengan konsep Seven Habits, khususnya pentingnya mengasah kemampuan sekaligus menjaga keseimbangan diri.
Tetap Menjadi Diri Sendiri, tetapi Memberi Manfaat
Saat ini, selain menjadi Dosen Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University, Rici dipercaya sebagai Asisten Direktur Pengembangan Karier dan Kewirausahaan IPB. Dalam perannya sebagai Asisten Direktur, ia membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, memperluas jaringan, serta memfasilitasi dan mengembangkan program kewirausahaan untuk mahasiswa.
Baginya, karakter, mindset, jejaring adalah kunci untuk membangun kebermanfaatan. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya fokus di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam kegiatan organisasi di luar kelas. “Kalau kita punya wadah, kebermanfaatan akan lebih luas,” Ujarnya.
Jika melihat perjalanan Rici dari masa kecil hingga menjadi dosen, terdapat satu benang merah yang terus bertahan: pengalaman harus membawa manfaat.
Nilai itu pertama kali ia dapatkan dari orangtua. Kemudian berkembang melalui berbagai pengalaman yang ia jalani sendiri.
Dari sawah sang kakek, ia mengenal kehidupan pertanian. Dari orangtuanya, ia mengenal perdagangan. Dari Pramuka dan organisasi sekolah, ia belajar kepemimpinan. Dari BEM, ia belajar berdiskusi dan menyampaikan gagasan. Dari berjualan, ia belajar kewirausahaan. Dari delapan tahun bekerja di IPB, ia mendapatkan pengalaman kelembagaan dan kemahasiswaan. Dan sebagai dosen, pengalaman-pengalaman itu kemudian ia bawa untuk mendampingi mahasiswa.
Karena itu, pesan Rici kepada generasi muda sebenarnya merupakan rangkuman dari perjalanan hidupnya sendiri.
Editor : Fathurroji
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









