Binanews.id | Bogor–Dalam setiap reuni, selalu ada saja cerita unik, lucu, dan menggelitik. Begitu pula yang saya alami dalam reuni Gontor pada 19-20 September 2026. Dalam lingkaran pertemanan alumni 1987, kami ramai-ramai menginap di kediaman Ketua Suku, Prof. Nurhadi Ihsan. Ketika waktu Subuh tiba, seperti biasa ada yang salat di musala terdekat, dan ada pula yang memutuskan salat berjamaah di tempat menginap.
Usai salat Subuh, Mang Ujang Soleh secara spontan mengambil posisi di depan dan langsung membuka pengajian, layaknya pengajian selepas Subuh di masjid atau musala.
Dalam acara reuni tahun ini, Mang Ujang memang berpenampilan berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu saat reuni serupa. Kali ini, ia melengkapi penampilannya dengan sebuah tongkat kayu yang diakuinya sebagai pemberian seseorang. Benda itu dinilai sangat istimewa karena berasal dari jenis kayu langka dan berharga mahal. Untuk itu, Mang Ujang tidak pernah melepaskan tongkat tersebut dari genggaman tangannya.
“Tidak semua orang bisa mendapatkan keberuntungan untuk memiliki tongkat itu,” ujarnya.
Pada awal pembicaraannya, Mang Ujang mengupas perihal kesehatan yang diakuinya sebagai tips kesehatan ala Nabi atau istilah umumnya thibbun nabawi, seperti metode bekam, minum habbatussauda, madu, dan sebagainya.
Sampai pada topik itu, pendengar mulai kurang tertarik. Umumnya, mereka juga sudah mengetahui perihal tersebut.
Karena mulai jenuh, ada saja peserta yang nakal meminta Mang Ujang menjelaskan soal urusan persenggamaan suami dan istri menurut Nabi seperti apa. Merasa tertantang untuk menjelaskan hal itu, Mang Ujang langsung mengeluarkan jurus ilmu yang menurutnya jarang sekali diketahui oleh orang lain.
Ia berujar dengan logat Sunda yang sangat meyakinkan:
“Jika kalian para lelaki ingin bisa memuaskan istri, maka cobalah resep ini,” ujarnya.
“Apa itu, Mang? Jelaskan dong!” teriak salah satu peserta.
“Ini caranya, ya. Ambil akar pohon kelapa, dicampur dengan akar pohon pinang, lalu direbus selama beberapa menit hingga masak. Setelah dingin, lalu diminum. Setelah itu dijamin, kualitas tegangan kalian akan meningkat tajam dan istri dijamin puas,” terang Mang Ujang sambil terkekeh.
“Ente sudah mempraktikkan belum?” tanya salah satu peserta yang lain.
Alih-alih menjawab, Mang Ujang mengalihkan pembicaraan pada penyebutan hadis Nabi untuk menguatkan argumentasinya.
Pada saat itulah muncul protes dari peserta lain yang menganggap hadis tersebut sangat lemah dan bahkan dianggap sebagai hadis palsu.
Berbagai respons bermunculan atas kuliah Subuh Mang Ujang pagi itu.
Ada yang sambil bercanda,
“Emang Nabi kagak ada kerjaan lain apa sampai ngurusi urusan persenggamaan suami istri?”
Ada pula yang menanggapinya sedikit serius. Menurutnya, yang dimaksud dengan thibbun nabawi tidak seperti itu, tetapi lebih berorientasi pada pola hidup sehat, tidak berlebihan dalam hal apa pun, dan sifatnya lebih pada pencegahan penyakit.
Jujur, saya tidak terlalu peduli dengan substansi ceramah Mang Ujang pagi itu. Saya justru menikmati kegaduhan yang muncul setelahnya.
Komentar-komentar lucu yang berseliweran di antara para alumni sungguh sangat menghibur.
Pada sisi yang berbeda, saya akhirnya sedikit merenung bahwa inilah salah satu keunikan perilaku umat Islam dalam upaya memahami dan menjalankan ajaran agamanya.
Dalam Islam, selain Al-Qur’an, ada Sunnah Nabi Muhammad saw. yang menjadi panduan utama dalam menjalani kehidupan. Sunnah Nabi menjelaskan, merinci, dan memberikan contoh bagaimana ajaran Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemeluk Islam memang harus meneladani kehidupan Nabi. Namun, persoalannya menjadi tidak mudah ketika perilaku dan praktik kehidupan Nabi harus dipahami dan diterapkan dalam konteks kehidupan masa sekarang.
Hal ini mengundang banyak pendapat yang berbeda-beda sehingga tidak heran jika kemudian memunculkan perdebatan di antara mereka yang memiliki pendapat berbeda.
Contohnya, ya, seperti yang diutarakan oleh Mang Ujang dan para pendengarnya.
Dalam banyak hal, jangan sampai kita bukan sedang berusaha mengikuti Sunnah Nabi, tetapi justru sedang mencari-cari hadis untuk membenarkan pendapat yang sudah lebih dulu kita yakini.
Pendapatnya sudah jadi, egonya sudah berdiri tegak, tinggal dicarikan dalil agar tampak lebih meyakinkan.
Jika kebetulan ada hadis yang cocok, langsung dianggap sebagai penguat. Kalau ada yang berbeda, hadisnya yang diperdebatkan, ditafsirkan ulang, atau dianggap tidak sesuai dengan zaman.
Tidak ada salahnya jika kita perlu lebih hati-hati.
Jangan sampai ajaran Nabi yang seharusnya menjadi petunjuk justru kita perlakukan seperti stempel untuk mengesahkan pendapat pribadi.
Sebab, kalau semua pendapat pribadi bisa dicarikan pembenaran dengan membawa nama Nabi, lama-lama bukan kita yang mengikuti Sunnah Nabi, tetapi Sunnah Nabi yang kita paksa mengikuti kemauan kita.
Jangan-jangan, resep Mang Ujang saja belum sempat teruji, tetapi hadisnya sudah lebih dulu dipaksa bekerja keras untuk membuktikan khasiatnya.
Ambyar!
‘Ala kulli hal, terima kasih, Mang Ujang Soleh Muhyidin, atas gagasan baiknya.
Saya memaknainya sebagai sebuah ajakan kepada kita semua agar menjalani sisa hidup ini dengan ringan, dengan tetap menebalkan tawakal, keikhlasan, dan kesabaran dalam setiap laku dan ucapan.
Termasuk terhadap tongkat istimewa itu, ya…. Cukuplah ia menjadi alat penyangga tubuh yang semakin renta, mencegah kita jatuh saat berjalan ke kamar mandi, atau menjadi pengusir ular ketika mengganggu di jalan.
Tongkat dan ramuan sakti semestinya justru menjadikan hidup kita semakin rendah hati dan semakin menguatkan sandaran hidup kita hanya kepada Allah semata.
Editor : Fathurroji









