“Waktu diperkuliahan, dari semester 1-8 saya aktif di BEM gak nyentuh pramuka sekali,” ujarnya.
Bagi Rici, organisasi menjadi ruang untuk belajar banyak hal yang tidak selalu diperoleh dari perkuliahan. Di sana ia berhadapan dengan persoalan nyata, harus bekerja bersama orang lain, dan belajar mengambil keputusan.
Pengalaman tersebut kelak menjadi bekal penting ketika ia dipercaya memimpin BEM Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB.
Ketika Kritik Membuka Pintu Kesempatan
Menjadi Ketua BEM FEMA menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Rici. Pada masa itu, ia tidak hanya menjalankan kegiatan organisasi, tetapi juga aktif berdiskusi dan menyampaikan kritik terhadap kebijakan kampus. Sosok yang sering menjadi teman diskusinya adalah Prof. Arif Satria, yang ketika itu menjabat sebagai Dekan FEMA IPB.
“Ketika jadi ketua BEM dan itu menjadi titik balik menurut saya,” ujarnya.
Hubungan yang awalnya terbentuk melalui diskusi dan kritik kemudian berkembang menjadi kesempatan untuk belajar lebih jauh.
Ketika memasuki tingkat akhir kuliah, Rici mendapat kesempatan membantu berbagai aktivitas bersama Prof. Arif Satria. Salah satu pengalaman penting adalah ketika ia dikirim ke Raja Ampat, Papua, selama sekitar tiga bulan.
Saat itu, ia belum menyelesaikan skripsi. Di sisi lain, aktivitasnya sebagai mahasiswa dan pengurus organisasi juga belum selesai.
Dalam kondisi tersebut, Rici mendapat tawaran untuk membantu berbagai aktivitas Prof. Arif Satria. Ia kemudian menjalani beberapa peran sekaligus: menyelesaikan tugas akhir, menjalankan aktivitas organisasi, serta membantu kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
“Ya itu juga mungkin rencana Allah yang mengarahkan kesitu, saya ikuti beliau,” katanya.
Dari pengalaman tersebut, tanggung jawabnya semakin luas. Ia ikut menangani berbagai urusan mahasiswa, KKN, lomba, hingga kegiatan kemahasiswaan di FEMA. Pengalaman itu kemudian menjadi pintu masuk ke dunia profesional di IPB.
Karier Dimulai Sebelum Wisuda
Bagi sebagian mahasiswa, pekerjaan baru dimulai setelah memperoleh ijazah. Perjalanan Rici justru berbeda.
Ia sudah bekerja di IPB sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana. Setelah lulus, ia melanjutkan pekerjaan di lingkungan FEMA sebagai tenaga kependidikan dan membantu berbagai aktivitas di tingkat dekanat serta kemahasiswaan.
Ia mendampingi Prof. Arif Satria sejak 2014 hingga 2022, sekitar delapan tahun.
Periode tersebut menjadi fase panjang dalam pembentukan pengalaman profesionalnya. Selama berada di lingkungan kampus, ia tidak hanya belajar mengenai pekerjaan administratif, tetapi juga bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan kemahasiswaan dan aktivitas kelembagaan.
Ketika Prof. Arif Satria kemudian menjadi rektor, Rici tidak otomatis mengikuti perpindahan tersebut. Ia tetap berada di FEMA dan melanjutkan perannya di lingkungan fakultas.
Hingga akhirnya pada 2022, Rici merasa perlu mengembangkan diri dan memutuskan untuk mengakhiri fase tersebut.
“Saya ikut pak Arief statusnya sebagai tenaga kependidikan sampai 2022 jadi saya ikut pak Arif dari 2014-2022 delapan tahun,” katanya. Keputusan tersebut kemudian membawanya ke fase baru.
Ia diarahkan untuk menjadi dosen, sementara Prof. Arif Satria tetap menjadi mentor dalam perjalanan profesionalnya.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa karier Rici berkembang melalui tahapan yang saling berhubungan. Pengalaman sebagai mahasiswa, aktivis organisasi, tenaga kependidikan, pendamping kemahasiswaan, dan kemudian dosen bukanlah perjalanan yang terpisah.
Risol, Donat, dan Pelajaran tentang Berani Mencoba
Di balik perjalanan akademiknya, ada cerita lain yang tidak kalah penting: Rici pernah menjadi pedagang ketika masih mahasiswa.
Ia memperoleh beasiswa Bidikmisi. Namun, bantuan pendidikan tersebut tidak membuatnya berhenti mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Alih-alih hanya mengandalkan uang beasiswa, ia memilih berjualan. “Selama saya jadi mahasiswa sebetulnya saya banyak jualan, mulai dari semester satu sampai akhir. Saya jualan risol, donat, kue-kue di kelas,” kenangnya.
Ia juga memanfaatkan pasar kaget setiap minggu untuk berjualan thrift.
Aktivitas tersebut mungkin tampak sederhana jika dibandingkan dengan perjalanan akademiknya sekarang. Namun, justru dari pengalaman itulah Rici mendapatkan pelajaran tentang kewirausahaan secara langsung.
Ia belajar bahwa menjual barang membutuhkan keberanian memulai, membaca situasi, menghitung risiko, dan mencari strategi agar produk dapat terjual tanpa mengalami kerugian.
Pengalaman itu pula yang membuatnya melihat kewirausahaan secara lebih luas. “Jiwa Entepreneur dan kepemimpinan, kita berbicara mengenai mindset dan jiwa ya,” ujarnya.
Menurut Rici, entrepreneur bukan sekadar orang yang melakukan aktivitas jual beli. Ada kemampuan untuk melihat situasi, menentukan keputusan, menyusun strategi, dan menghadapi risiko.
Pandangan tersebut lahir bukan semata-mata dari teori. Ia pernah mengalami sendiri bagaimana harus memikirkan agar dagangan cepat habis tetapi tetap tidak merugi.
Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perspektif yang ia bawa ketika berkecimpung dalam pengembangan karier dan kewirausahaan.
Dari Pengalaman Menjadi Cara Mendidik
Perjalanan hidup Rici membuatnya memiliki pandangan bahwa pendidikan tidak berhenti pada persoalan akademik.
Pengalaman di organisasi membuatnya mengenal kepemimpinan. Pengalaman berjualan memperkenalkannya pada keberanian mengambil keputusan. Sementara pengalaman bekerja di lingkungan FEMA mempertemukannya dengan berbagai persoalan mahasiswa.
Ketika kemudian menjadi dosen, pengalaman tersebut menjadi bekal dalam berinteraksi dengan mahasiswa.
Editor : Fathurroji
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









