Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor

Tedy

- Redaksi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Ponorogo — Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka dalam rangka pengukuhan empat Guru Besar pada 27 September 2026. Salah satu akademisi yang dikukuhkan adalah Syamsuddin Arif sebagai Guru Besar (Profesor) bidang Filsafat Islam Abad Pertengahan (Medieval Islamic Philosophy).

Dalam pengukuhannya, Syamsuddin Arif menyampaikan pidato berjudul “On Islamic Philosophy, Mind (‘Aql), and the Question of Originality”. Pidato tersebut diterbitkan oleh UNIDA Gontor Press.

Syamsuddin Arif, yang lebih dikenal dengan panggilan Ustadz Syam, merupakan akademisi dan cendekiawan yang aktif dalam berbagai forum keilmuan. Ia kerap diundang untuk mengisi kajian Islam, menjadi khatib Jumat, hingga menjadi pembicara dalam forum ilmiah internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia juga dikenal sebagai peneliti senior di INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), lembaga yang turut didirikannya bersama Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi. Selain itu, Syamsuddin Arif pernah menjadi bagian dari redaksi majalah Islamia, yang banyak digunakan sebagai rujukan dalam berbagai kajian dan penelitian keislaman.

Syamsuddin Arif merupakan salah satu cendekiawan Indonesia lulusan ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), bersama sejumlah tokoh lainnya seperti Ugi Suharto dan Hamid Fahmi Zarkasyi.

Baca Juga:  Sebanyak 4,634 juta Santri Terverifikasi secara By Name By Address

Ia juga dikenal memiliki kemampuan dalam sejumlah bahasa, antara lain Arab, Inggris, Jerman, Yunani, Ibrani, dan Prancis. Selain itu, ia merupakan seorang hafiz Al-Qur’an.

Saat ini, Prof. Syamsuddin Arif, M.A., Ph.D. dikenal sebagai Guru Besar yang menekuni bidang filsafat Islam, logika, kajian orientalisme, serta studi Melayu-Indonesia. Ia merupakan alumnus ISTAC, lembaga yang didirikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Mendalami dan Membedah Filsafat Islam

Dalam pidato pengukuhannya, Syamsuddin Arif menelusuri sejumlah persoalan mendasar dalam filsafat Islam yang dibahas melalui beberapa bagian utama.

Pembahasan diawali dengan makna filsafat serta kedudukannya dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk konsep ḥikmah, falsafah, dan ‘ulūm al-awā’il.

Selanjutnya, ia membahas perdebatan klasik mengenai keberadaan filsafat Islam, termasuk pertanyaan apakah filsafat Islam dapat disebut sebagai disiplin yang berdiri sendiri. Pembahasan tersebut mencakup persoalan definisi, penamaan—apakah filsafat Arab, filsafat Islam, atau filsafat Muslim—periodisasi, serta urgensi dan tantangan dalam mempelajari filsafat Islam.

Konsep ‘Aql dalam Filsafat Islam

Salah satu bagian penting dalam pidato tersebut membahas konsep ‘aql atau akal secara lebih mendalam.

Pembahasan mencakup analisis leksikal, penggunaan istilah ‘aql dalam Al-Qur’an dan hadis, kedudukannya dalam tradisi Peripatetik-Neoplatonik, hingga pemetaan berbagai tradisi filosofis yang berkembang dalam sejarah pemikiran Islam.

Baca Juga:  Prof. Dr. Sofyan Sjaf: Dari Kendari Menemukan Jalan Akademik di IPB University

Dalam konteks tersebut, ‘aql dibahas sebagai fakultas bawaan, daya pemahaman, serta kemampuan yang berkaitan dengan kepekaan spiritual dan moral.

Sebagai sintesis, ‘aql dipaparkan dalam empat makna utama, yaitu sebagai fakultas intelektual alami, pengetahuan niscaya (ḍarūrī), pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh, serta daya diskresi praktis dan kemampuan penguasaan diri.

Memperkuat Kajian Filsafat Islam di UNIDA Gontor

Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari perkembangan kajian filsafat Islam di UNIDA Gontor. Kehadiran Guru Besar di bidang Filsafat Islam turut memperkuat ruang akademik bagi pengembangan kajian filsafat Islam secara lebih serius dan mendalam.

Pengukuhan para Guru Besar juga menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan tradisi akademik UNIDA Gontor. Tradisi intelektual yang berakar dari lingkungan pesantren di Gontor terus mengalami perkembangan, dari Institut Studi Islam Darussalam (ISID) hingga menjadi universitas.

Dalam konteks kajian Islam, kehadiran Prof. Syamsuddin Arif dalam Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam jenjang S2 UNIDA Gontor turut memperkuat jejaring keilmuan yang menghubungkan tradisi intelektual Gontor dengan wacana filsafat Islam internasional, termasuk tradisi keilmuan yang berkembang di ISTAC dan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Baca Juga:  Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026

Perjalanan Pendidikan dan Karier Akademik

Perjalanan keilmuan Prof. Syamsuddin Arif dimulai dari KMI Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia menyelesaikan pendidikannya pada 1989 dan kemudian mengabdi dengan mengajar Al-Qur’an di Majlis Qurra’ wa-l Huffazh di Bone, Sulawesi Selatan.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan S1 di International Islamic University Malaysia (IIUM) dan lulus pada 1996. Pendidikan S2 dan S3 kemudian ditempuh di ISTAC-IIUM Malaysia, masing-masing diselesaikan pada 1999 dan 2004.

Selain itu, Syamsuddin Arif juga menempuh program doktor kedua di Johann Wolfgang von Goethe University, Frankfurt, Jerman.

Dalam perjalanan akademiknya, ia aktif sebagai peneliti senior INSISTS dan kerap menjadi pembicara tamu di berbagai perguruan tinggi, di antaranya STIBA Makassar, Universitas Gadjah Mada (UGM), serta sejumlah kampus lainnya.

Ia juga telah menghasilkan sejumlah karya, salah satunya buku berjudul Filsafat Kebenaran dan Ilmu Pengetahuan yang diterbitkan oleh INSIST Press.

Bukan Sekadar Seremoni Akademik

Pengukuhan Prof. Syamsuddin Arif sebagai Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan bukan sekadar seremoni akademik. Momentum tersebut menunjukkan bahwa kajian filsafat Islam klasik, termasuk pembahasan mengenai konsep-konsep mendasar seperti ‘aql, masih memiliki ruang yang luas untuk dikaji secara serius dalam lingkungan akademik.

Kajian tersebut mempertemukan basis tradisi pesantren dengan perkembangan standar keilmuan internasional. Dari ruang akademik UNIDA Gontor, tradisi intelektual tersebut terus memiliki ruang untuk dikembangkan dan didialogkan dengan perkembangan studi filsafat Islam kontemporer. (Ted)

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison
Josephina Masneuw Janwarin: Menjaga Literasi Tetap Hidup di Sekolah

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB