Pendidikan untuk Kemerdekaan, Perjuangan Lawan Kebodohan

Bisyral

- Redaksi

Jumat, 25 September 2026 - 16:34 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Jakarta- Pendidikan sejak dulu selalu berkaitan dengan pendidikan karakter. Nampaknya, pendidikan karakter dan tujuan sekolah adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dan dianggap sebagai “khittah”-nya pendidikan.

Banyak pihak memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menjadikan siswanya berkarakter sehingga mampu bertahan dan menjadi pemenang dari kerasnya persaingan dan ketidakpastian di masa depan.

Hal tersebut tentu tidak salah, tetapi membuat sistem pendidikan hanya berpusat pada tuntutan agar siswa berkarakter sesuai tuntutan masyarakat saat ini dan di masa depan saja juga terasa dangkal dan kurang tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendidikan seharusnya bertujuan membebaskan jiwa kita melalui pemahaman tentang dunia, mengapa berbagai hal, baik itu fenomena alam dan sosial terjadi sebagaimana ia terjadi, serta yang paling penting adalah tentang keberadaan dan bagaimana peran kita di tengah-tengah masyarakat.

Alih-alih membebaskan kita dari ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, pendidikan justru kerap melanggengkan kondisi tersebut. Siswa diajarkan menggunakan pola pikir ala era revolusi industri dimana tujuan pendidikan menghasilkan lulusan yang siap mengoperasikan mesin-mesin pabrik dan menghasilkan produk-produk massal yang dapat dengan cepat dikonsumsi masyarakat.

Siswa diatur duduk berbaris rapi, menghadap dan mendengarkan ceramah guru, menghafal fakta-fakta, dan kemudian mengikuti ujian. Pendidikan dengan pola ini tanpa kita sadari mengajarkan siswa hanya untuk memproses ulang fakta atau keadaan sosial di sekitar mereka tanpa pemahaman yang mendalam apalagi berempati dan menawarkan solusi.

Baca Juga:  Impian Semut Bergerak Keliling Dunia

Dengan kata lain, siswa diajarkan, untuk cukup beradaptasi dengan lingkungan, bekerja dengan pola yang sudah ada dan melanjutkan status quo agar mereka menjadi pemenang di tengah-tengah ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi. Pendidikan yang bermakna jauh melampaui hal itu.

Pendidikan bertujuan menciptakan peluang bagi warga negara, bukan hanya agar mampu menaiki tangga mobilitas sosial, tetapi individu-individu yang berkemampuan dan berperan dalam memperjuangkan ketidakadilan, kebodohan dan ketidaksetaraan yang akhirnya menciptakan dunia yang damai dan lebih baik.

Pendidikan seharusnya memampukan mereka untuk mengubah tantangan menjadi kesempatan, menukar ketidakpastian menjadi resiko yang dapat diukur dan berperan aktif dalam perubahan sosial. Pendidikan juga seharusnya dapat melahirkan momen-momen keberuntungan tak terduga (serendipity) yang dapat ditangkap oleh individu yang memang belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh.

SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) didirikan dengan semangat perjuangan melawan kebodohan dan ketidakadilan dengan cara menciptakan kelompok masyarakat berintelektual tinggi yang dapat menjadi agen perubahan dimanapun ia berada.

Pola pendidikan yang diterapkan di SMA KTB tergolong pendidikan yang tidak biasa. Siswa diajarkan dan ditanamkan pendidikan karakter yang tidak hanya diperlukan untuk bersaing di tingkat nasional dan global.

Pendidikan asrama di SMA KTB yang disebut sebagai Program Kebhayangkaran teriinspirasi oleh nilai-nilai Bhayangkara yang mengajarkan siswa untuk menjadi pengayom, pembela dan pejuang bagi diri mereka sendiri dan sesamanya.

Pengasuhan yang menjadi salah satu program utama dalam program kebhayangkaraan dilakukan oleh perwira-perwira polisi terpilih dan terseleksi dengan ketat dan dari berbagai tingkatan.

Baca Juga:  Inilah 9 Perguruan Tinggi Negeri Islam Terbaik di Indonesia 2026

Program ini memberikan para siswa pengalaman pengasuhan yang belum tentu dapat mereka terima di keluarga atau oleh masyarakat sekalipun. Pendidikan karakter di SMA KTB dilakukan dengan ketegasan namun penuh kasih sayang dan dibarengi dengan pembelajaran dan logika.

Tidak ada hukuman fisik apabila siswa melanggar peraturan, yang ada para siswa diberikan ruang untuk refleksi, berpikir dan merestitusi tindakannya.

Kedisiplinan dan ketegasan sebagai bagian dalam pembinaan karakter memampukan siswa untuk menjadi sosok yang mawas diri, memiliki kepercayaan diri namun juga kerendahan hati dan empati yang diperlukan sebagai calon pemimpin saat ini dan di masa depan.

Pendidikan asrama di SMA KTB, sejalan dengan program akademik yang memadukan kurikulum nasional dan Internasional Baccalaureate Diploma Program.

Kurikulum nasional yang dalam era sebelumnya kerap menyebutkan sebagai kurikulum yang memerdekakan yang kemudian diperjelas oleh Kurikulum Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), sejalan dengan kurikulum IBDP yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis, kreatif dan anti status quo.

Siswa tidak hanya difasilitasi untuk memahami fenomena alam dan sosial kemudian menuangkan pemahamanya dalam kertas ujian namun juga ditantang untuk berpikir kritis dan kreatif dan menawarkan solusi dalam bentuk proyek penelitian berbasis disiplin akademik. Siswa juga diajarkan untuk tidak semata memandang ilmu pengetahuan sebagai benda mati yang tidak dapat diubah dan dikritisi.

Baca Juga:  Jangan Sepelekan Ijazah SMA, Dokumen Ini Bisa Perluas Peluang Karier

Ilmu pengetahuan dilihat sebagai konstruksi sosial yang mana pemahaman akan kebenaran mutlak (absolute truth) harus dapat dipisahkan dari konteks sosial bagaimana ilmu pengetahuan tersebut diproduksi, disebarkan dan diterapkan.

Kepedulian sosial dalam bentuk advokasi dan pelayanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kurikulum sekolah.

Pelayanan sosial tidak hanya dijadikan sebagai syarat kelulusan namun diajarkan sebagai sarana mengembangkan keahlian abad 21 antara lain kemampuan manajemen diri, komunikasi dan kolaborasi.

Pelayanan sosial diajarkan dengan semangat dan memandang bahwa masyarakat luas adalah mitra yang memiliki kemampuan bersama mereka untuk menciptakan dunia yang damai dan lebih baik.

Pendidikan sebagaimana yang dijalankan di SMA KTB patut dijadikan bahan percontohan yang mungkin dapat dijalankan secara luas di negeri ini. Pendidikan yang tidak hanya mengandalkan fasilitas mewah ala sekolah-sekolah internasional yang modern dan mentereng.

Namun pendidikan yang memanusiakan siswanya dan menjadikannya individu yang lebih baik dari hari ke hari.

Programnya tidak harus langsung sempurna, namun semangatnya adalah semangat senantiasa memperbaiki diri sendiri melalui refleksi kritis dan semangat perbaikan berkelanjutan.

Kita memiliki peluang menjadi bangsa yang besar, apabila kita mampu menjadikan warga negara yang tidak hanya cerdas dan berkeahlian tinggi namun juga generasi yang hidup dimana ketidakadilan, ketidaksetaraan kebodohan dapat dihapuskan. Namun kita berpacu dengan waktu. Harapan kita ada pada generasi penerus bangsa ini.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi
Bedah Buku “Pendidikan Islam Holistik” bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi di UQI Bogor
Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026
Pemkab Bogor Catat Indeks Integritas Pendidikan Daerah Naik Empat Poin
Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bakal Kembali Diterapkan Mulai 2027
Jangan Sepelekan Ijazah SMA, Dokumen Ini Bisa Perluas Peluang Karier
Ditjen Pesantren Gandeng Kemnaker Buka Akses Pelatihan Vokasi bagi Santri
Pentingnya Belajar Bahasa Inggris di Era Digital

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:48 WIB

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Bedah Buku “Pendidikan Islam Holistik” bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi di UQI Bogor

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Pemkab Bogor Catat Indeks Integritas Pendidikan Daerah Naik Empat Poin

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bakal Kembali Diterapkan Mulai 2027

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB