Binanews.id | Bogor– Tidak semua perjalanan menuju dunia akademik dimulai dari lingkungan yang dekat dengan kampus. Perjalanan Rici Tri Harpin Pranata justru berawal dari kehidupan yang sederhana di Jawa Timur.
Sejak kecil, ia akrab dengan sawah, hutan, dan kehidupan keluarga yang menjalankan aktivitas perdagangan. Sang kakek adalah petani, sementara orangtuanya berdagang. Dua lingkungan tersebut kemudian memberikan warna berbeda dalam pembentukan dirinya: satu mengajarkan kedekatan dengan kehidupan pertanian, sementara yang lain memperkenalkannya pada semangat kewirausahaan.
Dari Trenggalek, Rici kemudian melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Tulungagung. Setelah itu, perjalanan pendidikannya membawanya ke Bogor untuk menempuh pendidikan di IPB pada bidang Komunikasi dan Pembangunan.
Perjalanan tersebut akhirnya membawanya ke dunia organisasi mahasiswa, kewirausahaan, pekerjaan di lingkungan IPB, hingga menjadi dosen.
Namun, jika seluruh perjalanan itu ditarik ke belakang, ada satu prinsip sederhana yang terus muncul: menjadi manusia yang bermanfaat. “Nasihat orangtua saya yang saya pegang dari orang tua, bermanfaat walau sekecil apa pun, kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun,” katanya.
Dari Sawah dan Hutan, Ia Belajar Melihat Kehidupan
Masa kecil Rici berlangsung jauh dari suasana perkotaan. Ia tumbuh di Trenggalek dan kemudian menjalani masa SMP dan SMA di Tulungagung, lingkungan yang menurutnya dikelilingi gunung dan berada tidak jauh dari pantai.
Kehidupan tersebut membuat pertanian bukan sesuatu yang asing baginya. Sang kakek kerap mengajaknya ke sawah dan hutan.
“Kakek saya itu petani, kalau orangtua saya itu niaga, jadi gen niaga itu dari orangtua, kalau darah tani itu dari kakek,” kata Rici.
Kalimat tersebut menggambarkan dua pengaruh yang kemudian ikut membentuk dirinya.
Dari kakeknya, ia melihat bagaimana kehidupan pertanian berjalan. Dari orangtuanya, ia mengenal aktivitas niaga. Dua pengalaman tersebut kelak muncul kembali ketika ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Perjalanan dari desa menuju Bogor juga tidak dipandangnya sekadar sebagai perpindahan tempat. Bagi Rici, berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain merupakan bagian dari pengalaman yang memperluas cara pandang.
Ia kemudian menemukan bahwa pendidikan bukan hanya tentang berpindah dari satu jenjang sekolah ke jenjang berikutnya. Setiap lingkungan yang ditemui dapat memberikan pelajaran baru.
Pramuka dan Organisasi Menjadi Sekolah Kepemimpinan
Ketika masih sekolah, Rici sudah menunjukkan ketertarikan pada kegiatan organisasi. Pramuka menjadi salah satu aktivitas yang paling dekat dengannya. Ia mengikuti kegiatan kepramukaan sejak SD hingga SMA. Selain itu, ia aktif di MPK, Patroli Keamanan Sekolah, takmir, serta berbagai kegiatan dan perlombaan.
Keterlibatan tersebut membuat kepemimpinan menjadi pengalaman yang dijalani secara langsung, bukan sekadar konsep.
Ia beberapa kali dipercaya menjadi ketua kelas dan memimpin kegiatan sekolah. Dalam organisasi, ia belajar mengkoordinasikan kegiatan, berinteraksi dengan orang lain, sekaligus mengambil tanggung jawab.
“Saya dari kecil itu suka sekali pramuka, bahkan ibaratnya kalau dirobek, darah saya ini darah pramuka Pramuka,” ujarnya sambil bercanda.
Kebiasaan berorganisasi itu kemudian terbawa ketika Rici masuk IPB. Di kampus, ia aktif dalam BEM sejak semester pertama hingga semester delapan. Ia juga bergabung dalam kegiatan Karya Ilmiah serta mengikuti berbagai perlombaan dan kegiatan lain, termasuk duta lingkungan.
Editor : Fathurroji
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









