Binanews.id | Bogor — Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana di sekitar rumah. Hal tersebut dibuktikan Zahra Analiani, Mahasiswi Universitas Islam Bogor (UIB), yang meraih gelar Best Influencer Puteri Duta Lingkungan Hidup Jawa Barat 2026 melalui inovasi pemanfaatan lahan terbengkalai menjadi area penanaman sayuran.
Gelar tersebut diraih Zahra dalam ajang Pasanggiri Pemilihan Duta Lingkungan Jawa Barat 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Duta Lingkungan Provinsi Jawa Barat. Ajang ini mengusung tema “Sustainable Synergy: Empowering Youth, Technology, and Collaboration for Impactful Greener Future”, yang menekankan pentingnya sinergi pemuda, teknologi, dan kolaborasi untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau.
Zahra kepada Binanews menceritakan pengalaman perjuangannya mengikuti rangkaian seleksi yang diikuti 364 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. “Dari jumlah tersebut, hanya 150 peserta yang berhasil melaju ke tahap berikutnya,” kisahnya saat ditemui pekan lalu (5/10).
Pada tahap selanjutnya, peserta mengikuti video challenge yang bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. “Aku berhasil masuk tiga besar dalam tantangan video tersebut sebelum melanjutkan perjuangannya menuju babak final,” jelasnya.
Zahra juga menceritakan, persaingan semakin ketat ketika jumlah peserta disaring menjadi 60 finalis, terdiri atas 30 putra dan 30 putri. Para finalis kemudian harus menyelesaikan 10 tugas dalam waktu satu bulan. Tugas tersebut meliputi pembuatan video profil, pilot project, pengumpulan minyak jelantah, dan sejumlah kegiatan lain yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Di antara berbagai tugas tersebut, Zahra mengaku bahwa pilot project menjadi tantangan paling berat karena mengharuskannya menghasilkan karya nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ia kemudian memilih memanfaatkan lahan terbengkalai di depan rumahnya menjadi area penanaman sayuran. Dalam proyek tersebut, Zahra menggunakan genteng bekas dan botol plastik sebagai pembatas lahan, sedangkan kotoran kambing dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menanam berbagai sayuran, seperti sawi dan kangkung.
Melalui proyek ini, Zahra menunjukkan bahwa barang bekas dan lahan yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang produktif. Inisiatif tersebut juga menjadi contoh bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari lingkungan rumah dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Perjalanan Zahra hingga meraih penghargaan tersebut turut didukung pengalaman pendidikan dan organisasi yang dijalaninya sejak sekolah. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Laladon 03, kemudian melanjutkan ke SMP IT Cinta Rasul dan MA Darul Mustofa, Banten.
Selama menempuh pendidikan di pesantren, Zahra aktif dalam kepengurusan organisasi, Paskibra, dan kepramukaan. Ia juga pernah meraih juara kedua lomba Paskibra tingkat kecamatan saat kelas XI dan juara pertama ketika kelas XII.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawabnya. Zahra mengaku masih mengingat nasihat para guru di pesantren, terutama mengenai pentingnya kesungguhan dalam belajar dan mengamalkan apa yang dimiliki.
“Kalau belajar jangan setengah-setengah. Apa yang kita punya, mau sekecil apa pun, harus selalu diamalkan dan jangan sombong,” ungkap Zahra.
Setelah lulus dari pesantren, Zahra sempat berencana melanjutkan pendidikan ke luar daerah, sesuai saran salah seorang gurunya. Namun, orang tuanya menyarankan agar ia melanjutkan pendidikan di Bogor, mengingat sejak SMP hingga SMA ia telah tinggal jauh dari keluarga. Pada akhirnya, orang tua dan kakaknya membantu proses pendaftaran ke Universitas Islam Bogor.
Di tengah perjalanan sebagai mahasiswa, Zahra juga menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara kegiatan kampus dan persiapan mengikuti ajang duta lingkungan. “Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika aku harus menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himmpro), sementara keesokan harinya harus menjalani karantina finalis di Bandung,” kenangnya.
Setelah melewati berbagai kendala, termasuk perjalanan menuju Bandung yang tidak berjalan sesuai rencana, Zahra akhirnya tiba bersama finalis lainnya untuk mengikuti rangkaian kegiatan karantina.
Keberhasilan meraih gelar Best Influencer Puteri Duta Lingkungan Hidup Jawa Barat 2026 menjadi kesempatan bagi Zahra untuk memperluas kontribusinya dalam mengajak masyarakat menjaga kelestarian lingkungan. Baginya, kepedulian terhadap bumi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya sebatas slogan.
“Aku mengajak orang-orang di sekitar aku untuk menjaga lingkungan, karena kita bernapas karena bumi dan kita tinggal di bumi. Kita sudah memberi apa kepada bumi sampai tidak mau menjaga bumi?” tuturnya.
Zahra juga mengingatkan bahwa bumi merupakan tempat tinggal yang kelak diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dimulai sejak sekarang.
“Mari kita jaga bumi dan lingkungan, karena semua akan diwariskan ke anak cucu kita nanti,” pesannya.[Adhius]
Penulis : Adhius
Editor : Fathurroji









