Binanews.id | Jakarta- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendukung penguatan literasi media dan informasi melalui peluncuran panduan keluarga UNESCO edisi bahasa Indonesia bertajuk ( Growing Up in a Connected World: A Family Guide for the Digital Age )
Panduan tersebut diharapkan membantu orang tua dan pendidik mendampingi anak agar mampu menggunakan teknologi secara aman, bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Peluncuran berlangsung dalam rangka Pekan Literasi Media dan Informasi Global 2026 di Jakarta, melalui kolaborasi UNESCO, Kemendikdasmen, dan Yayasan AIERA.
Materi panduan mencakup berbagai tantangan di ruang digital, mulai dari kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat, perlindungan privasi, disinformasi, perundungan siber, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Fadli Zon, mengatakan literasi media bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Lebih dari itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, menghormati perbedaan, serta menggunakan informasi secara etis.
Menurutnya, ruang digital juga menjadi tempat terbentuknya nilai dan identitas budaya. Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam membangun etika digital anak.
“Orang tua tidak harus menguasai seluruh teknologi, tapi perlu hadir sebagai pendamping,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Kantor Regional UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menegaskan bahwa literasi media dan informasi merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, pendidik, keluarga, masyarakat sipil, perusahaan teknologi, hingga generasi muda.
Ia menilai anak-anak perlu dibekali kemampuan mengevaluasi informasi, memeriksa sumber, mengenali manipulasi, serta berinteraksi secara bertanggung jawab di ruang digital.
“Walaupun anak-anak kita mampu menggunakan teknologi, belum tentu mereka mampu untuk menggunakannya dengan bijak dan aman,” ujarnya.
Maki juga berharap panduan tersebut dapat diintegrasikan ke dalam fitur Ruang Orang Tua pada platform Rumah Pendidikan agar semakin mudah diakses oleh keluarga.
Perwakilan Yayasan AIERA, Suraida Syukur, menyampaikan bahwa penerjemahan panduan ke bahasa Indonesia bertujuan memperluas akses sekaligus menyesuaikan materi dengan konteks keluarga di Tanah Air.
Ia berharap panduan tersebut tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga dimanfaatkan dalam diskusi dan pelatihan bagi orang tua serta pendidik di sekolah maupun komunitas.
Melalui peluncuran ini, keluarga dan pendidik diharapkan semakin siap menghadapi tantangan era digital. Pendampingan yang tepat dinilai penting untuk membangun kebiasaan anak dalam berpikir kritis, memeriksa informasi sebelum membagikannya, serta menjaga etika saat berinteraksi di dunia maya.








