Angka Tidak Sekolah di Kecamatan Cibungbulang jadi Tantangan Serius

Irwan Maulana

- Redaksi

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang memiliki beragam potensi, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor per 16 Februari 2025, jumlah penduduk Kabupaten Bogor mencapai 5.721.620 jiwa. Jumlah tersebut menjadi modal besar bagi pembangunan daerah, namun sekaligus membutuhkan pengelolaan yang sistematis dan berkelanjutan agar dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Salah satu wilayah di Kabupaten Bogor adalah Kecamatan Cibungbulang yang terdiri atas 15 desa, yaitu Desa Cijujung, Situ Udik, Situ Ilir, Cibatok, Ciaruteun Udik, Cibatok I, Sukamaju, Cemplang, Galuga, Dukuh, Cimanggu I, Cimanggu II, Girimulya, Leuweung Kolot, dan Ciaruteun Ilir. Kecamatan ini memiliki 425 RT dan 125 RW dengan kepadatan penduduk mencapai 4.894 jiwa per kilometer persegi.

Selain memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, Kecamatan Cibungbulang juga memiliki potensi pertanian yang menjanjikan. Berdasarkan data Kecamatan Cibungbulang dalam Angka 2025 (BPS Kabupaten Bogor, Volume 37 Tahun 2025), produksi buah-buahan di wilayah ini mencapai 2.925 kuintal pisang, 3.880 kuintal rambutan, 508 kuintal mangga, 515 kuintal nangka, dan 665 kuintal durian per tahun. Potensi tersebut perlu terus dikembangkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui penguatan sektor pendidikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan masih adanya berbagai tantangan dalam pembangunan pendidikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tim Binanews.id, Angka Tidak Sekolah (ATS) di Kecamatan Cibungbulang masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan.

Baca Juga:  Makan Telur Rebus Tiap Hari? 5 Hal Ini Bisa Terjadi Pada Tubuh

Data ATS tahun 2026 mencatat terdapat 1.732 anak yang masuk kategori tidak sekolah. Jumlah tersebut terdiri atas 994 anak belum pernah bersekolah (BPB), 535 anak putus sekolah (drop out/DO), dan 412 anak lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan (LTM). Data ini menunjukkan bahwa permasalahan pendidikan di Kecamatan Cibungbulang tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan, tetapi juga akses awal terhadap pendidikan formal.

Kategori anak belum pernah bersekolah menjadi kelompok terbesar dibandingkan kategori lainnya. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya anak usia sekolah yang belum memperoleh akses pendidikan dasar secara optimal. Jika dibandingkan dengan jumlah anak putus sekolah dan lulus tidak melanjutkan pendidikan, tingginya angka BPB menunjukkan bahwa hambatan pendidikan telah terjadi bahkan sebelum anak memasuki sistem persekolahan.

Fenomena tersebut dapat menjadi indikator adanya persoalan struktural yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi keluarga, aksesibilitas layanan pendidikan, serta tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan. Kondisi ini sejalan dengan temuan Diky Ramadhan (2024) yang menyebutkan bahwa angka putus sekolah masih menjadi salah satu kendala dalam pencapaian tujuan pembangunan bidang pendidikan.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan Nevy Farista Aristin (2024) mengungkapkan beberapa faktor yang memengaruhi fenomena putus sekolah, antara lain:

  1. Jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal.

  2. Jenis pekerjaan orang tua.

  3. Latar belakang pendidikan orang tua.

  4. Tingkat pendapatan orang tua.

  5. Keterlibatan anak dalam kegiatan produktif rumah tangga.

Berdasarkan hasil wawancara Tim Binanews.id dengan Kepala Seksi Pendidikan dan Kesehatan Kecamatan Cibungbulang pada 11 Mei 2026, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan tingginya ATS di wilayah tersebut.

Baca Juga:  BMKG Ungkap Daftar 15 Daerah Berpotensi Hujan Lebat Hari Ini

1. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka tidak sekolah. Keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga membuat sebagian orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Meskipun pemerintah telah memberikan dukungan pendidikan dasar, berbagai biaya pendukung seperti transportasi, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan lainnya masih menjadi beban bagi sebagian keluarga.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan anak tidak pernah mengenyam pendidikan formal maupun berhenti di tengah perjalanan pendidikannya.

2. Aksesibilitas Pendidikan

Selain faktor ekonomi, aksesibilitas pendidikan juga menjadi penyebab penting tingginya ATS. Beberapa wilayah masih memiliki jarak yang relatif jauh dari fasilitas pendidikan yang tersedia.

Temuan ini diperkuat oleh data ATS yang menunjukkan tingginya jumlah anak tidak sekolah di Desa Situ Udik sebanyak 253 anak, Desa Cijujung sebanyak 251 anak, dan Desa Ciaruteun Ilir sebanyak 141 anak (Data ATS Kecamatan Cibungbulang, Februari 2026).

Tingginya jumlah ATS di wilayah tersebut menjadi dasar bagi pemerintah kecamatan untuk merencanakan relokasi sekolah dasar ke daerah yang memiliki keterjangkauan layanan pendidikan lebih rendah. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerataan akses pendidikan masih menjadi isu strategis dalam pembangunan pendidikan di tingkat lokal.

3. Rendahnya Kesadaran terhadap Pentingnya Pendidikan

Rendahnya kesadaran sebagian orang tua terhadap pentingnya pendidikan juga menjadi faktor yang cukup dominan. Masih ditemukan keluarga yang belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama bagi anak-anak mereka.

Kurangnya kesadaran dan dorongan dari keluarga menyebabkan sebagian anak tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi ini tercermin dari tingginya jumlah anak dalam kategori lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan, khususnya di Desa Sukamaju yang mencapai 80 anak.

Baca Juga:  Pertamina Patra Niaga Gandeng SRC, Outlet Bright Gas Mulai Hadir di Toko Kelontong

Data tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menyelesaikan suatu jenjang pendidikan belum tentu diikuti dengan keberlanjutan pendidikan pada jenjang berikutnya.

Perlunya Sinergi untuk Menekan Angka Tidak Sekolah

Secara umum, tingginya ATS di Kecamatan Cibungbulang dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan, dan rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan. Ketiga faktor tersebut secara langsung memengaruhi kesempatan anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Oleh karena itu, penanganan ATS tidak dapat dilakukan melalui satu pendekatan saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, pemerintah desa, serta masyarakat untuk mengatasi persoalan ini secara komprehensif.

Data ATS dapat menjadi dasar dalam penyusunan berbagai program intervensi berbasis data, seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Program Keluarga Harapan (PKH) sebagaimana dikemukakan oleh Ayu Nadila (2025). Selain itu, masyarakat juga dapat berperan aktif melalui dukungan ekonomi maupun peningkatan akses pendidikan bagi anak-anak yang rentan putus sekolah.

Upaya yang telah dilakukan Kecamatan Cibungbulang melalui koordinasi dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), pemerintah desa, serta perencanaan relokasi sekolah menunjukkan adanya pendekatan berbasis data dalam penanganan ATS. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah.

Dengan langkah yang terukur dan kolaboratif, pengurangan angka tidak sekolah di Kecamatan Cibungbulang diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan guna mewujudkan pemerataan akses pendidikan bagi seluruh anak.[]

Berita Terkait

Berapa Batas Konsumsi SKM Sehari? Ini Hitungan Porsi yang Perlu Diketahui
Pangkas BB 32 Kg Cuma dengan Kentang Kukus? Ini Penjelasannya
Apakah Penggunaan AC Bisa Cegah Kematian Akibat Panas Ekstrem? Ini Kata Pakar
Pelihara Ayam di Tengah Musim Influenza A, Perlukah Waspada? Ini Pesan Kemenkes RI
Ngopi Tiap Hari, Apa Efeknya Pada Tekanan Darah?
Manusia Pernah Ngebor Bumi sedalam 12 Km, Ini yang Ditemukan
1.076 Anak Tidak Sekolah Terdeteksi di Kota Bogor, Ini yang Diungkap Data JAPATI
Daun Kelor Bermanfaat untuk Redakan Stres Korban Perundungan

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Berapa Batas Konsumsi SKM Sehari? Ini Hitungan Porsi yang Perlu Diketahui

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Pangkas BB 32 Kg Cuma dengan Kentang Kukus? Ini Penjelasannya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Apakah Penggunaan AC Bisa Cegah Kematian Akibat Panas Ekstrem? Ini Kata Pakar

Selasa, 29 September 2026 - 11:29 WIB

Pelihara Ayam di Tengah Musim Influenza A, Perlukah Waspada? Ini Pesan Kemenkes RI

Sabtu, 26 September 2026 - 17:36 WIB

Ngopi Tiap Hari, Apa Efeknya Pada Tekanan Darah?

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB