Kang Abik di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Berbagi Tips Perkuat Literasi Santri

Tim Redaksi

- Redaksi

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor– Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (UQI) menjadi tempat berlangsungnya berbagi ilmu dan pengalaman bersama penulis novel ternama Indonesia, Dr. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A., yang dikenal luas dengan sapaan Kang Abik. Pertemuan yang berlangsung pada Ahad, 25 Oktober 2026 malam ini menjadi momentum untuk memperluas wawasan santri mengenai dunia literasi, kepenulisan, serta peran karya sastra dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Kehadiran Kang Abik di lingkungan pesantren menghadirkan kesempatan bagi para santri untuk mengenal lebih dekat sosok penulis yang telah melahirkan berbagai karya sastra Islami populer. Melalui kegiatan audiensi tersebut, lingkungan pesantren menjadi ruang pertemuan antara tradisi keilmuan Islam dan dunia kepenulisan yang memiliki jangkauan luas di tengah masyarakat.

Salah satu karya yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah novel Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza. Karya tersebut melanjutkan perjalanan novel Ayat-Ayat Cinta yang dikenal oleh pembaca Indonesia. Melalui cerita yang memadukan unsur cinta, keimanan, dan persoalan kemanusiaan, Kang Abik menghadirkan sastra sebagai sarana untuk mengajak pembaca memahami berbagai persoalan kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.

Baca Juga:  Nini, Pahlawan di Sebelah Rumah

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemilihan Gaza sebagai latar cerita memberikan dimensi kemanusiaan yang kuat dalam novel tersebut. Persoalan Palestina tidak hanya dihadirkan sebagai konflik yang diberitakan, tetapi juga melalui kehidupan manusia, perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Melalui pendekatan sastra, pembaca diajak untuk menumbuhkan empati serta memahami bahwa di balik setiap peristiwa kemanusiaan terdapat kehidupan dan masa depan yang patut diperjuangkan.

Kegiatan ini juga relevan dengan kehidupan santri yang tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan menyampaikan gagasan. Literasi menjadi salah satu bekal penting agar santri mampu memahami perkembangan masyarakat sekaligus berkontribusi melalui pemikiran dan karya yang bermanfaat. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki kedalaman ilmu serta kemampuan berkomunikasi secara kreatif.

Baca Juga:  KIP-K Terbatas, Mendikti Puji Semangat Kampus Beri Beasiswa Mandiri

Pengalaman Kang Abik dalam dunia kepenulisan turut menjadi inspirasi bahwa karya sastra dapat berperan sebagai media dakwah. Pesan keislaman dapat disampaikan melalui cerita yang menyentuh perasaan, menghadirkan keteladanan, dan mengajak pembaca melakukan refleksi terhadap kehidupan. Pendekatan ini membuka wawasan bahwa dakwah tidak terbatas pada mimbar, tetapi juga dapat hadir melalui buku, tulisan, dan berbagai media komunikasi lainnya.

Di tengah perkembangan teknologi digital, kemampuan literasi semakin dibutuhkan oleh generasi muda, termasuk para santri. Informasi yang tersebar luas perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memilah sumber informasi, serta menyampaikan pesan secara bertanggung jawab. Keterampilan tersebut dapat menjadi modal bagi santri untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan pengetahuan, memperkenalkan nilai-nilai pesantren, dan menghadirkan konten yang edukatif bagi masyarakat.

Baca Juga:  BNN dan RMI NU DKI Jakarta Sosialisasi Bahaya Pengguna Vape untuk Pesantren

Melalui audiensi bersama Kang Abik, Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami diharapkan semakin memperkuat semangat literasi di lingkungan pendidikan pesantren. Pertemuan antara tokoh kepenulisan dan komunitas santri dapat menjadi dorongan untuk membangun budaya membaca, menumbuhkan keberanian menulis, serta mengembangkan potensi generasi muda agar mampu melahirkan karya yang memiliki nilai keilmuan, keislaman, dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam perkembangan literasi dan dakwah di Indonesia. Santri tidak hanya berperan sebagai pencari ilmu, tetapi juga berpeluang menjadi penulis, pendidik, komunikator, dan penggerak perubahan melalui karya-karyanya. Semangat tersebut sejalan dengan pentingnya menghadirkan generasi yang berilmu, berakhlak, kreatif, serta mampu menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat luas. [Rahma]

Penulis : Siti Nur Rahmah

Berita Terkait

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Kemendikdasmen Dukung Literasi Media Anak yang Diluncurkan UNESCO
AISOFOLL Ke-17 Dorong Pembelajaran Bahasa Berbantuan Teknologi
Tren AI di Dunia Pendidikan Meningkat, Sanksi Tegas Mulai Diterapkan
Kemendikdasmen Bekali Guru untuk Tanggap Bencana Soal
Prof. J.M. Muslimin: Santri Bukan Generasi yang Tertinggal oleh Zaman
Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya
Dr. Faisal Rachmat Kembangkan Media Maze Tingkatkan Motorik Anak Berkebutuhan Khusus

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 12:55 WIB

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:23 WIB

Kemendikdasmen Dukung Literasi Media Anak yang Diluncurkan UNESCO

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:16 WIB

AISOFOLL Ke-17 Dorong Pembelajaran Bahasa Berbantuan Teknologi

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:55 WIB

Kang Abik di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Berbagi Tips Perkuat Literasi Santri

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:03 WIB

Tren AI di Dunia Pendidikan Meningkat, Sanksi Tegas Mulai Diterapkan

Berita Terbaru

Pendidikan

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:55 WIB