Binanews.id | Jakarta- Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan, sejumlah sekolah tetap mempertahankan metode pembelajaran konvensional berbasis kertas (Paper- Based Learning) untuk melatih kemampuan berpikir mandiri peserta didik.
SMA Krista Mitra dan SMA Penabur menjadi contoh sekolah yang menerapkan metode tulis-menulis tanpa bantuan AI. Selain kemampuan akademik, sekolah juga menekankan pembentukan karakter dan keterampilan sosial siswa.
Kepala SMA Krista Mitra, Suryono SPd, menegaskan bahwa peran guru tetap dibutuhkan, terutama dalam membangun karakter, hubungan sosial, dan keharmonisan antarmanusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Semarang dan Universitas Atma Jaya BSD turut menyosialisasikan etika penggunaan AI. Mahasiswa diperbolehkan menggunakan AI untuk membantu mencari ide (AI assisted), tetapi bukan sekadar menyalin hasil AI (AI generated).
Universitas Atma Jaya BSD juga menerapkan sanksi tegas terhadap penyalahgunaan AI, mulai dari nilai nol, nilai E, skorsing satu semester, hingga dikeluarkan dari kampus untuk pelanggaran berulang.
Upaya tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya mendukung proses belajar, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pembentukan karakter peserta didik.








