Binanews.id | Bogor–Pendidikan merupakan kunci utama dalam membangun peradaban bangsa. Sulit rasanya memisahkan peradaban dari pendidikan, karena pendidikan berperan sebagai motor penggerak yang menentukan arah dan wajah suatu bangsa di masa depan. Dalam konteks ini, landasan paling fundamental dalam pendidikan adalah landasan filosofis.
Landasan filosofis mencakup nilai-nilai inti (core values), ide-ide imajiner, seperangkat etika, serta konsep-konsep abstrak yang diyakini oleh suatu bangsa, yang kemudian dimanifestasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, landasan filosofis berfungsi layaknya kompas yang mengarahkan ke mana dan bagaimana masyarakat akan berkembang.
Jika kita berbicara secara jujur mengenai kondisi bangsa Indonesia, sesungguhnya kita memiliki banyak pemikir besar dalam bidang pendidikan. Tokoh-tokoh seperti Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Hasyim Asy’ari, Tri Murti, dan Ki Hajar Dewantara merupakan figur-figur penting yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam merumuskan gagasan pendidikan yang kontekstual dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Gagasan-gagasan mereka lahir dari realitas masyarakat yang menjunjung tinggi nilai etika, budaya, dan spiritualitas.
Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa pemikiran-pemikiran besar dari para tokoh pendidikan tersebut belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang proporsional, bahkan cenderung belum terkonsepsikan secara utuh dalam sistem pendidikan nasional. Landasan filosofis pendidikan kita masih cenderung mengadopsi paradigma Barat.
Hal ini tercermin dalam berbagai aspek, mulai dari konsep kepemimpinan pendidikan, pendekatan pembelajaran, hingga kurikulum yang digunakan. Sekilas, fenomena ini tampak sebagai sesuatu yang wajar, namun dalam jangka panjang akan memengaruhi cara pandang kita terhadap pendidikan itu sendiri.
Secara historis, bangsa yang mampu menggali dan mengembangkan potensi internalnya—baik dalam aspek budaya, politik, maupun pemikiran para tokohnya—serta mampu menarasikannya kepada dunia, memiliki peluang besar untuk menjadi bangsa yang diperhitungkan dan bahkan diikuti oleh bangsa lain. Namun, realitas yang terjadi menunjukkan bahwa kita justru lebih akrab dengan pemikiran tokoh-tokoh Barat.
Kita lebih mengenal pendekatan dialog Paulo Freire atau metode Sokratik dibandingkan dengan pendekatan dialogis yang dipraktikkan oleh KH. Ahmad Dahlan. Kita juga lebih familiar dengan konsep pendidikan karakter Thomas Lickona dibandingkan dengan konsep etika yang dikembangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Demikian pula, metode pembelajaran inkuiri John Dewey lebih populer dibandingkan dengan praktik pendidikan yang dilakukan oleh H. Agus Salim dalam mendidik anak-anaknya.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menolak atau bersikap anti terhadap pemikiran Barat. Sebaliknya, tulisan ini mengajak pembaca untuk merefleksikan pentingnya menggali, mempelajari, mengonseptualisasikan, serta menarasikan kembali gagasan-gagasan para pendiri bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan.
Dengan menggali dan mengembangkan pemikiran para tokoh lokal, kita akan lebih mudah menemukan konsep pendidikan yang sesuai dengan jati diri bangsa. Ketika suatu bangsa mampu menarasikan dirinya sendiri, maka pada saat itulah bangsa tersebut akan lebih mudah mengenali identitasnya secara utuh.
Dengan demikian, permasalahan pendidikan bukan hanya tentang teknologi, manajemen, dan kurikulum yang digunakan, melainkan tentang ruh yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri. Pendidikan yang hanya berfokus pada kemajuan instrumental tanpa melihat pentingnya landasan filosofis niscaya akan tercabut dari identitas aslinya.
Upaya mempelajari, memahami, mengembangkan, dan menarasikan gagasan para tokoh pendidikan Indonesia merupakan langkah strategis dalam membangun ruh dan kemandirian intelektual sebuah bangsa. Dengan demikian, pendidikan bukan hanya menjadi ruang adopsi, tetapi juga ruang kreasi, budaya, dan nilai yang berasal dari diri kita sendiri.
Ketika hal ini berhasil dilakukan, maka kita tidak hanya mencetak manusia yang berakhlak dan cakap, tetapi juga manusia yang memahami jati dirinya serta menyadari tanggung jawab yang dipikul bagi kemajuan peradaban.
Tantangan ke depan adalah bagaimana para ahli pendidikan mampu menggali gagasan-gagasan dari para founding fathers yang menjadi fondasi untuk mensintesiskan pemikiran yang datang dari luar. Hanya dengan memahami dirinya sendiri, sebuah bangsa dapat tegak dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.[]









