Binanews.id | Ada cerita yang tak pernah usang, meski diceritakan berulang-ulang. Tentang seorang guru, tentang tekad, dan tentang doa yang pelan-pelan menjelma menjadi kenyataan.
Guru kami, KH. Helmy Abdul Mubin, sering mengisahkan awal mula berdirinya Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami. Tidak dengan nada membanggakan diri, justru dengan kerendahan hati yang membuat siapa pun yang mendengarnya diam sejenak, lalu berpikir.
“Pesantren ini didirikan dengan modal doa,” begitu beliau selalu memulai.
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk sebuah lembaga besar yang hari ini berdiri kokoh. Tapi di baliknya, ada perjalanan panjang yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Beliau bukan pengusaha. Bukan anak orang kaya. Bukan pejabat, apalagi anak pejabat. Tidak ada modal harta, tidak ada pengaruh, tidak pula ketenaran yang bisa dijadikan pintu masuk.
Saat tekad mendirikan pesantren benar-benar bulat, uang yang dimiliki hanya 250 ribu rupiah, tabungan dari bertahun-tahun mengajar di pesantren lain. Jumlah yang bahkan mungkin hari ini habis untuk sekali makan bersama keluarga besar.
Namun, cita-cita tidak selalu menunggu kesiapan materi. Kadang ia tumbuh dari kegelisahan yang lama dipendam.
Suatu hari, datang seorang utusan dari Australia ke tempat beliau mengajar. Ia mencari ustadz yang mampu berbahasa Inggris untuk mengajar di komunitas muslim di sana. Sayangnya, tidak ada yang memenuhi kualifikasi itu.
Peristiwa itu sederhana, tapi membekas. Dari sana lahir satu kesadaran: umat ini membutuhkan lembaga pendidikan yang tidak hanya kuat dalam Bahasa Arab, tetapi juga mampu menjangkau dunia dengan Bahasa Inggris.
Maka, lahirlah sebuah mimpi.
Dan seperti banyak mimpi besar lainnya, langkah pertama yang diambil bukan mencari investor, melainkan mendatangi para ulama. Sebanyak tujuh belas kiyai di Madura beliau temui, hanya untuk satu hal: meminta doa.
Ada yang memberi nasihat, ada yang memberi semangat, dan ada pula yang menitipkan selembar kertas berisi doa-doa dalam bahasa Arab. Semua itu dijaga, diamalkan, diulang dalam sunyi malam yang panjang.
Di titik ini, kita belajar sesuatu yang sering terlupakan: bahwa tidak semua perjuangan harus dimulai dengan uang. Ada yang dimulai dengan keyakinan, lalu dirawat dengan kesabaran.
Namun tentu saja, pesantren tidak bisa berdiri hanya dengan keyakinan. Tanah harus dibeli. Bangunan harus didirikan. Akses jalan harus dibuat. Semua butuh uang.
Dan di sinilah doa bertemu dengan ikhtiar.
Dari malam-malam panjang yang diisi tafakur, lahirlah sebuah ide yang tak biasa: sertifikat akhirat.
Sebuah konsep sederhana, tapi menyentuh. Orang-orang diajak “membeli” tanah yang akan dihibahkan untuk pesantren, dengan harapan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Dengan membawa sertifikat itu, beliau berkeliling Jakarta. Dari rumah ke rumah. Mengetuk pintu orang-orang yang bahkan tidak dikenal. Tidak ada rasa gengsi, karena yang diperjuangkan bukan diri sendiri, melainkan masa depan generasi.
Hasilnya belum cukup. Harga tanah saat itu 2.500 per meter, dan ada sekitar 6,000 meter yang harus dibebaskan.
Lalu beliau kembali ke tempat yang sama: doa.
Sampai akhirnya, jalan itu terbuka dari arah yang tak disangka. Seorang tukang masak yang juga mengajar ngaji, mempertemukan beliau dengan seorang juragan tanah Betawi. Dari pertemuan itu, lahir pinjaman sebesar 10 juta rupiah.
Cukup untuk melunasi tanah.
Cerita ini mengajarkan hal lain: bahwa pertolongan sering datang lewat orang-orang yang tidak kita duga. Kadang bukan dari lingkaran elite, tapi dari mereka yang selama ini kita anggap biasa saja.
Perjuangan belum selesai. Tanah sudah ada, tapi bangunan belum berdiri.
Doa kembali menjadi jalan.
Hingga suatu hari, seorang dokter menjadi perantara dengan saudaranya yang berniat membangun masjid. Niat itu bertemu dengan kebutuhan. Masjid pun mulai dibangun di atas lahan yang masih kosong.
Sementara itu, tempat tinggal sang pendiri hanya sebuah bedeng sederhana berukuran 3 x 2 meter. Dinding triplek, atap asbes, lantai tanah. Sebuah bale kecil menjadi tempat beristirahat.
Tidak ada kemewahan di sana. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat: keteguhan.
Waktu berjalan. Tiga puluh dua tahun berlalu.
Dari 20 santri di tahun pertama, kini jumlahnya mencapai 3,850 orang. Dari bangunan triplek dan kelas di bawah pohon, kini berdiri gedung-gedung kokoh. Dari lahan 6,000 meter, kini berkembang menjadi kurang lebih 7 hektar, dengan 4 hektar telah dibangun.
Semua tumbuh. Perlahan, tapi pasti.
Dan jika ditanya apa rahasianya, jawabannya tetap sama seperti di awal:
“Pesantren ini ada berkat doa.”
Mungkin di zaman yang serba cepat ini, kita terlalu sering mengukur segala sesuatu dengan angka dan logika. Berapa modalnya? Siapa backing-nya? Seberapa besar peluangnya?
Padahal ada satu hal yang sering luput dari hitungan: kesungguhan hati yang tidak lelah mengetuk langit.
Kisah ini bukan sekadar tentang pesantren. Ini tentang harapan. Tentang bagaimana sesuatu yang tampak mustahil, bisa menjadi nyata ketika manusia mau berusaha dan tidak berhenti berdoa.
Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa besar yang kita punya di awal. Tapi seberapa kuat kita bertahan dalam prosesnya.[]









