Nini, Pahlawan di Sebelah Rumah

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 05:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Binanews.id | Usia tidak pernah bisa disembunyikan. Hari demi hari berjalan sambil perlahan mengambil kekuatan yang ada dalam tubuh manusia. Wajah yang dulu dipuji karena cantik akan berubah dimakan waktu. Ketampanan yang pernah memikat pun perlahan memudar. Tenaga melemah, langkah tidak lagi cekatan, penglihatan mulai kabur, pendengaran tak setajam dulu. Pada akhirnya, usia menggerus setiap jengkal tubuh hingga manusia kembali melebur dengan tanah.

Tidak ada yang benar-benar tersisa dari fisik manusia. Raga pasti binasa. Foto-foto hanya menjadi penanda bahwa seseorang pernah muda, pernah kuat, pernah berdiri gagah. Namun bahkan gambar pun perlahan memudar. Yang bertahan paling lama hanyalah kenangan dan jasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap kali pulang ke rumah orang tua, ada satu bangunan sederhana yang selalu membangkitkan ingatan. Bangunan itu masih berdiri seperti dua puluh tahun lalu, bahkan mungkin lebih lama lagi. Halamannya lengang. Pagar pipa di sekelilingnya sebagian sudah bolong di sana-sini, seperti gigi orang tua yang mulai tanggal satu per satu.

Di bagian depan ada serambi yang cukup luas. Tempat itu sanggup menampung lebih dari dua puluh orang dewasa atau tiga puluh anak-anak. Serambi sederhana itu menyimpan banyak kenangan masa kecilku.

Setiap menjelang magrib, setelah azan berkumandang, ibu selalu mengucapkan satu kata yang dulu terasa berat di telinga: “ngaji.”

Aku sering mencari alasan agar bisa lolos. Kadang pura-pura tidur, kadang memegangi perut sambil meringis kesakitan. Namun ibu tidak mudah ditawar. Jika sudah menyuruh, maka aku harus berangkat. Jarak rumah ke tempat ngaji sebenarnya sangat dekat, hanya dibatasi tembok. Bahkan kadang aku cukup meloncat untuk sampai ke sana. Tetapi rasa malas memang selalu punya banyak alasan.

Baca Juga:  Hijrah Menuju Cahaya

Di serambi itulah aku pertama kali mengenal huruf hijaiyah. Di sana aku belajar bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Di sana pula aku diajarkan tata cara bersuci, syarat sah sholat, hingga mengenal sepuluh malaikat.

Saat itu usiaku baru delapan tahun. Aku belajar membaca Al-Qur’an dengan penuh naik turun semangat. Pernah meminta pindah tempat mengaji karena bosan. Ibu mengizinkan, asalkan tetap mengaji. Aku sempat belajar di beberapa tempat, namun pada akhirnya kembali lagi ke serambi itu.

Pemilik rumah itu kami panggil Nini. Beliau adalah adik bungsu dari kakekku. Setiap magrib, Nini mengajariku dengan sabar. Dulu belum ada metode Iqra atau Qiroati. Anak-anak belajar langsung dari surat Al-Fatihah, lalu berlanjut ke An-Naas dan terus sampai “Amma Yatasaalun”.

Saat berhasil menyelesaikan juz amma, rasanya seperti mencapai prestasi besar. Anak yang tamat juzamma dianggap sudah mampu membaca Al-Qur’an. Ada teman yang sampai dibuatkan syukuran dengan nasi kuning dan bakakak ayam kampung. Maka ketika aku berhasil menuntaskannya, ada kebanggaan luar biasa dalam diriku.

Baca Juga:  Menggurui Guru

Namun kini, setiap kali mengingat momen itu, aku sadar ada sosok besar di balik kebahagiaan masa kecil tersebut. Sosok itu adalah Nini.

Tanpa beliau, mungkin aku terlambat mengenal Al-Qur’an. Tanpanya, mungkin aku belum memahami pentingnya wudhu dan sholat sejak kecil. Tanpanya, mungkin aku tidak mengenal nilai-nilai agama sedini itu.

Kini usia Nini sudah jauh berubah. Tubuhnya yang dulu tegak kini membungkuk. Gigi mulai tanggal. Rambut memutih dan berguguran. Langkahnya tak lagi kuat berjalan jauh. Waktu benar-benar menggerus fisiknya.

Namun ada satu hal yang tidak ikut rapuh yaitu semangatnya.

Sampai hari ini (saaat tulisan dibuat 17 Desember 2014), Nini masih setia mengajari anak-anak mengaji di serambi yang sama. Meski jumlah murid tidak sebanyak dulu, suara anak-anak mengulang bacaan Al-Qur’an masih terdengar di sana.

Lebih dari lima puluh tahun beliau mendedikasikan hidup untuk mengajar ngaji. Tiga generasi sudah belajar di tangannya. Dan selama itu pula, tak pernah sekali pun beliau meminta bayaran.

Siapa pun yang datang akan diterima. Bahkan anak-anak yang datang tanpa membawa buku tetap diajari. Jika tidak punya turutan, di rumah Nini selalu tersedia.

Bagi beliau, mengajar ngaji bukan pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

Di zaman ketika banyak hal diukur dengan materi, sosok seperti Nini menjadi pengingat bahwa masih ada orang-orang yang mengabdi tanpa menghitung untung rugi. Mereka bekerja dalam sunyi, tetapi pengaruhnya menjalar panjang seperti bola salju yang terus membesar.

Baca Juga:  Pemkab Bogor: Pemerataan Kualitas Pendidikan menjadi Prioritas Utama

Ratusan murid pernah belajar di tangan Nini. Sebagian kini menjadi guru ngaji. Sebagian lagi mengajari anak-anak mereka membaca Al-Qur’an. Amal itu terus mengalir, bahkan mungkin hingga kelak beliau tiada.

Fisik manusia memang mudah dilupakan. Tetapi kebaikan tidak.

Aku mungkin sudah samar mengingat seperti apa wajah Nini puluhan tahun lalu. Aku lupa detail suaranya ketika masih muda. Namun cara beliau mengajariku membaca Al-Qur’an masih sangat jelas dalam ingatan.

Dari situlah aku memahami bahwa menjadi pahlawan tidak selalu harus mengangkat senjata. Tidak harus berdiri di medan perang. Ada pahlawan yang bekerja diam-diam di serambi kecil, mengajari anak-anak mengeja huruf hijaiyah dengan penuh kesabaran.

Dan mungkin, bangsa ini tetap berdiri kuat karena masih memiliki orang-orang seperti Nini.

Usia akan mengambil kekuatan fisik manusia sedikit demi sedikit. Namun ilmu yang diajarkan dengan tulus bisa hidup jauh lebih lama dibanding usia pemiliknya. Kebaikan yang ditanam dengan ikhlas akan terus tumbuh, bahkan ketika tubuh sudah renta. Karena itu, jangan pernah meremehkan peran seorang guru ngaji, seorang ibu, atau siapa pun yang mengajarkan kebaikan dalam diam. Bisa jadi, merekalah pahlawan sejati yang jasanya paling lama dikenang.[]

 

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB