Pepi Januar Pelita: Dari Krisis Koperasi, Menjadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Irwan Maulana

- Redaksi

Kamis, 3 September 2026 - 07:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor – Tidak semua orang menemukan jalan hidupnya melalui pendidikan yang ditempuh. Ada kalanya, justru keadaan yang memaksa seseorang keluar dari zona nyaman, belajar dari persoalan, lalu menemukan bidang yang akhirnya menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Hal itulah yang dialami Pepi Januar Pelita.

Latar belakang pendidikan Pepi sebenarnya tidak secara langsung berkaitan dengan ekonomi maupun perkoperasian. Ia menempuh pendidikan di MI Muallimin, SMPN 1 Leuwiliang, kemudian SMAN 1 Leuwiliang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di STT Telematika Cakrawala dengan mengambil jurusan Informatika.

Pendidikan formalnya kemudian berlanjut ke jenjang magister di UHAMKA pada Program Studi Administrasi Pendidikan. Namun, perjalanan karier Pepi justru membawanya semakin jauh ke dunia koperasi dan ekonomi kerakyatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini, ia dipercaya sebagai Ketua Koperasi Khoiru Ummah, Ketua Koperasi Sekunder Surya Madani, Ketua DEKOPINDA Kabupaten Bogor, serta dosen di Universitas Muhammadiyah Bogor Raya.

Di balik berbagai jabatan tersebut, ada sebuah cerita tentang krisis, tuntutan keadaan, dan kemauan untuk terus belajar.

Krisis yang Mengubah Jalan Hidup

Ketertarikan Pepi terhadap dunia ekonomi tidak lahir dari bangku kuliah. Ia justru masuk ke dunia tersebut karena sebuah persoalan yang harus diselesaikan.

Ketika itu, Koperasi Khoiru Ummah, yang sebelumnya bernama BMT Khoiru Ummah mengalami fase krisis. Salah satu persoalan yang muncul berkaitan dengan tata kelola lembaga.

Situasi tersebut membuat Pepi harus mengambil peran. Ia dituntut memahami persoalan ekonomi, keuangan, sekaligus tata kelola koperasi.

“Tertarik dengan dunia ekonomi sebetulnya karena tuntutan. Dulu waktu itu Koperasi Khoiru Ummah dulu namanya BMT Khoiru Ummah. Sat ini mengalami fase krisis salah satu masalahnya adalah terkait tata kelola. Saya kemudian akhirnya mempelajari dunia ekonomi secara otodidak, melalui pelatihan, dan sharing dengan para pakar,” ungkapnya kepada Binanews.id.

Krisis tersebut bukan persoalan sederhana. Kepercayaan anggota menjadi taruhan. Bahkan, koperasi menghadapi situasi ketika sebagian anggota ingin menarik dananya, sementara kondisi likuiditas lembaga sedang melemah.

“Saat itu sampai ada forum rapat anggota luar biasa dan ada yang bertanya apakah mau dilanjut atau tidak? Pada saat itu memang dibutuhkan orang yang dapat mengatasi lembaga ini dari krisis.Saat itu juga banyak anggota koperasi yang ingin menarik dananya sedangkan likuiditasnya melemah,” kisahnya.

Bagi Pepi, situasi itu menjadi titik balik. Ia yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi harus belajar dengan cepat. Buku, pelatihan, diskusi dengan para ahli, hingga pengalaman langsung mengelola koperasi menjadi ruang belajar yang tidak kalah penting dari pendidikan formal.

Baca Juga:  Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Dari persoalan itulah kompetensinya di bidang ekonomi perlahan terbentuk. Pepi belajar bahwa mengelola sebuah lembaga tidak cukup hanya mengandalkan teori. Ada persoalan nyata yang harus dihadapi, ada keputusan yang harus diambil, dan ada kepercayaan anggota yang harus dijaga.

Belajar dari Lapangan, Tumbuh Bersama Koperasi

Perjalanan Pepi juga tidak bisa dilepaskan dari aktivitas organisasinya di lingkungan Muhammadiyah. Ia pernah aktif di IRM dan IPM. Kiprahnya kemudian berkembang hingga dipercaya menjadi Ketua Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PDM Kabupaten Bogor.

Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua DPS Koperasi Al Hijrah. Pengalaman organisasi tersebut memberikan fondasi penting bagi Pepi dalam memahami bagaimana sebuah lembaga dibangun, dikelola, dan dikembangkan.

Menariknya, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi seseorang tidak selalu lahir dari jurusan pendidikan yang ditempuh.

Pepi adalah contoh bagaimana kebutuhan, pengalaman, dan kemauan belajar dapat membentuk keahlian baru.

Dari dunia informatika, administrasi pendidikan, organisasi, hingga akhirnya menjadi penggerak koperasi, setiap fase dalam perjalanan Pepi seperti saling melengkapi.

Khoiru Ummah, Dari Kebutuhan Santri Menjadi Lembaga yang Berkembang

Nama Khoiru Ummah sendiri memiliki sejarah panjang. Cikal bakalnya bermula dari Kepontren Muallimin pada 1994. Pada awalnya, lembaga tersebut dibentuk untuk memenuhi kebutuhan para santri.

Namun, perjalanan waktu menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru. Lembaga tersebut kemudian mengalami transformasi menjadi BMT, berkembang menjadi KSPPS, dan selanjutnya melahirkan beberapa entitas usaha.

“Dulu awal berdirinya Khairu Ummah waktu itu masih Kepontren Muallimin yang hanya memenuhi kebutuhan santri saja. Sekarang ada perubahan yaitu pada penguatan bisnis dan juga pada aspek sosial.”

Transformasi tersebut menunjukkan bahwa koperasi tidak harus berhenti pada aktivitas simpan pinjam. Bagi Pepi, koperasi harus mampu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Khoiru Ummah kemudian memperluas layanan melalui berbagai produk, pembiayaan, penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), serta berbagai model penyaluran manfaat kepada masyarakat.

Perkembangan itu membuat koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga memiliki peran sosial.

“Dulu kami hanya mampu memenuhi beberapa asnaf karena memang ada keterbatasan, sekarang alhamdulillah kami sudah mampu memenuhi semua akomodasi asnaf. Sekarang dengan adanya jumlah anggota sebanyak 15600. Kontribusi kami beragam dan kompleks, salah satunya pada aspek kesehatan. Saat ini bukan hanya menghimpun simpanan dan menyalurkan pembiayaan tapi juga pada pengelolaan aset agar lebih sejahtera.”

Koperasi Bukan Hanya Bicara Uang

Bagi Pepi, ukuran keberhasilan koperasi bukan semata-mata berapa besar dana yang berhasil dihimpun atau berapa banyak pembiayaan yang disalurkan.

Lebih dari itu, koperasi harus mampu menciptakan manfaat bagi anggotanya dan masyarakat. Karena itu, Khoiru Ummah mulai mengembangkan kiprah di berbagai bidang, termasuk sosial dan kesehatan. Kerja sama juga dibangun dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan, peternak, dan petani.

Semakin besar kapasitas ekonomi yang dimiliki koperasi, semakin besar pula ruang untuk memberikan manfaat. Di sinilah Pepi melihat koperasi sebagai sebuah ekosistem.

Baca Juga:  BPRS Amanah Ummah, Dakwah First Business Follow

Koperasi bukan hanya tempat masyarakat menyimpan atau meminjam uang. Koperasi dapat menjadi wadah untuk mengembangkan aset, membuka akses ekonomi, memperkuat usaha anggota, sekaligus menjalankan fungsi sosial.

Keyakinan Pepi pada Koperasi

Keyakinan Pepi terhadap koperasi berangkat dari filosofi yang sederhana tetapi mendasar: kekeluargaan, kebersamaan, dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari karakter bangsa Indonesia.

“Koperasi itu penting, filosofi koperasi itu berangkat dari nilai-nilai karakter bangsa seperti kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong yang kemudian dilembagakan dalam bentuk regulasi. Hal ini tentu saja memperkuat Pasal 33 pada Undang-Undang Dasar 1945. Kemudian UU nomor 25 tahun 1992 menyatakan secara eksplisit bahwa peran dan fungsi koperasi dijadikan sebagai soko guru perekonomian bangsa,” ujarnya.

Pepi melihat koperasi memiliki akar yang kuat dalam sistem ekonomi Indonesia.

Di tengah berkembangnya konglomerasi, kapitalisasi, dan neoliberalisme, ia menilai koperasi tetap memiliki ruang untuk bertahan karena membawa nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Koperasi saat ini sudah berumur 79 tahun, artinya koperasi saat ini masih senantiasa sesuai dengan nilai-nilai bangsa. Tentu diumur yang 79 tahun ini bukan hal sepele kita anggap. Koperasi akan senantiasa eksis sebab sesuai dengan nilai dan karakteristik bangsa kita.”

Menurutnya, keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga dapat menjadi instrumen untuk memperkuat perekonomian masyarakat di tingkat desa.

Ia melihat program tersebut sebagai salah satu bentuk keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Menghadapi Era Digital dan Pinjaman Online

Keyakinan terhadap koperasi bukan berarti Pepi menutup mata terhadap tantangan. Sebaliknya, ia melihat koperasi harus berubah jika ingin tetap dipercaya generasi masyarakat yang semakin terbiasa dengan layanan digital.

“Tantangan internalnya adalah yang datang dari koperasi itu sendiri. Misalnya adalah digitalisasi koperasi. Koperasi harus senantiasa merelevankan diri dengan kondisi saat ini. Masyarakat kita hari ini sudah berubah, layanan juga harus berubah dan harus menyamai perbankan. Masyarakat kita dihadapkan pada pilihan yang banyak, kalau koperasi tidak bisa beradaptasi maka akan tersingkir misal bagaimana pengembangan financial technology,” paparnya.

Digitalisasi menjadi salah satu pekerjaan rumah penting. Layanan koperasi harus semakin mudah, cepat, transparan, dan mampu memenuhi ekspektasi masyarakat modern.

Persaingan juga datang dari layanan pinjaman online atau pinjol yang menawarkan proses cepat dan praktis.

“Orang kalau mau pinjam ke pinjol gampang, gak usah pake agunan, kalau ke koperasi kan ada agunan karena kita bicara sistem. Sebetulnya dua duanya ada resiko masing-masing oleh karena itu koperasi juga harus jeli dalam melihat masalah ini dengan tetap mempertimbangkan resiko yang ada,” tutrurnya.

Bagi Pepi, koperasi tidak cukup hanya menyalahkan perubahan zaman. Koperasi harus membaca perubahan tersebut dan memperbaiki dirinya.

Tantangan Tidak Hanya Datang dari Dalam

Selain persoalan internal, koperasi juga menghadapi tantangan eksternal, terutama regulasi dan persepsi masyarakat. Pepi menilai ruang usaha koperasi perlu diperluas sehingga koperasi tidak hanya identik dengan aktivitas simpan pinjam.

Baca Juga:  Luis de la Fuente, Pelatih Spanyol yang Dulu Dianggap Bukan Siapa-siapa

“Menurut saya koperasi harus diperluas lagi ruang lingkup layanannya. Koperasi harus bisa mengurus tambang, tander, dll. Pemerintah perlu mengatur agar koperasi ini tetap terjaga eksistensinya di tengah permasalahan yang ada. Misalnya pinjol dan perbankan. Kalau perbankan tidak bisa dikendalikan, nanti layanan koperasi akan dimasuki juga.

Ia juga menyoroti perlunya pembaruan regulasi perkoperasian dan peningkatan kualitas tata kelola.

Menurutnya, pengelolaan koperasi perlu dilakukan secara profesional, termasuk penerapan mekanisme fit and proper test bagi pengelolanya.

Di sisi lain, pemberitaan negatif mengenai koperasi juga dinilai dapat memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.

“Sekarang isu-isu koperasi yang bermasalah banyak sekali di media. Berita-berita tersebut harus diimbangi dengan berita positif tentang koperasi. Hal tersebut membawa kesalahan berpikir masyarakat mengenai koperasi,” tegasnya.

Dari Anak Desa Menjadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Jika melihat perjalanan Pepi, ada satu benang merah yang menarik. Ia bukan lulusan fakultas ekonomi. Ia tidak memulai kariernya sebagai praktisi perbankan atau profesional keuangan. Namun, sebuah krisis membuatnya belajar.

Dari sana, ia menemukan dunia baru. Ia belajar secara otodidak, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan para ahli, dan menguji pengetahuannya melalui pengalaman langsung.

Proses tersebut kemudian membawanya menjadi Ketua Koperasi Khoiru Ummah, Ketua Koperasi Sekunder Surya Madani, Ketua DEKOPINDA Kabupaten Bogor, sekaligus akademisi.

Kisah Pepi menunjukkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu lurus. Kadang, seseorang justru menemukan potensi terbaiknya ketika menghadapi persoalan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Krisis yang awalnya menjadi ancaman bagi Khoiru Ummah justru menjadi ruang pembelajaran bagi Pepi. Dari sana tumbuh kompetensi, pengalaman, sekaligus keyakinan bahwa koperasi dapat menjadi instrumen penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat.

Koperasi dan Masa Depan Desa

Kini, harapan Pepi tidak berhenti pada keberlangsungan satu koperasi. Ia ingin koperasi ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat, terutama di desa yang memiliki beragam potensi tetapi sering kali belum dikelola secara optimal.

“Saya berharap kepada presiden agar menjadikan koperasi ini sebagai institusi, pola, atau model juga falsafah agar dapat mengelola potensi desa,” ujarnya.

Ia menilai perhatian terhadap koperasi di berbagai tingkatan pemerintahan masih perlu diperkuat.

“Menurut pandangan saya, di level manapun koperasi ini belum optimal baik dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten kota, dan belum bisa dibuktikan pada tingkat lokal.”

Karena itu, ia berharap pemerintah kembali memahami akar filosofi koperasi sebagaimana tercantum dalam konstitusi.

“Saya berharap juga kepada pemerintah agar membaca kembali dan memahami pasal 33 di UUD 45 itu, atau juga UU mengenai perkoperasian. Ini penting agar pemerintah dan kita mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai koperasi. Menjalankan koperasi sebetulnya juga menjalankan amanat konsitusi. Penting hal ini dibaca ulang agar terbangun kesadaran kolektif.”

Pada akhirnya, perjalanan Pepi Januar Pelita bukan sekadar kisah seseorang yang berhasil menduduki sejumlah posisi strategis.

Lebih dari itu, ia adalah cerita tentang kemauan untuk belajar ketika keadaan menuntut, keberanian menghadapi krisis, dan keyakinan untuk terus membangun ekonomi berbasis kebersamaan.

Dari ruang-ruang pendidikan di Leuwiliang, perjalanan organisasi Muhammadiyah, hingga dunia koperasi, Pepi menemukan satu keyakinan: bahwa kemajuan ekonomi tidak selalu harus dibangun dengan logika persaingan. Ada ruang untuk tumbuh bersama. Dan bagi Pepi, ruang itu bernama koperasi.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB