Binanews.id | Prancis datang ke Dallas dengan barisan penyerang paling menakutkan di turnamen ini, dipimpin Kylian Mbappe yang sedang memuncaki daftar pencetak gol. Sembilan puluh menit kemudian mereka pulang tanpa satu pun tembakan ke gawang di sepanjang babak pertama, tertinggal untuk pertama kalinya di turnamen, dan tersingkir. Spanyol menang 2-0 pada semifinal Piala Dunia 2026, Selasa (14/7/2026), lewat penalti Mikel Oyarzabal dan gol Pedro Porro.
Statistik malam itu merangkum wajah Spanyol sepanjang turnamen. Dari tujuh pertandingan menuju final, gawang mereka baru kebobolan satu kali. Tim yang dijuluki para pengamat sebagai mesin paling sempurna di Amerika itu kini hanya berjarak satu kemenangan dari menyamai generasi emas 2010, menunggu pemenang laga Inggris kontra Argentina di final New Jersey, Minggu (19/7/2026).
Dan di pinggir lapangan Dallas Stadium, pria berusia 65 tahun yang membangun mesin itu merayakannya dengan caranya yang khas, nyaris tanpa selebrasi berlebihan. Luis de la Fuente memang tidak pernah menjadi pusat perhatian, bahkan ketika seluruh pekerjaannya kini berbicara lebih keras dari pelatih mana pun di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal tiga setengah tahun lalu, penunjukannya disambut Spanyol dengan kernyitan dahi. Ketika federasi mengumumkan penggantinya Luis Enrique selepas kegagalan di Qatar pada Desember 2022, sebagian besar publik bertanya-tanya siapa gerangan pria ini. De la Fuente bukan nama besar. Ia tidak pernah melatih klub raksasa, tidak punya karisma selebritas, dan penampilan perdananya di depan media berlangsung kikuk. Media Spanyol menyebutnya sekadar orang dalam federasi, pilihan murah yang tidak berkelas untuk tim sebesar La Roja.
Keraguan itu seakan terbukti cepat. Baru beberapa bulan menjabat, timnya dipermalukan Skotlandia 0-2 di Glasgow dan gelombang tuntutan pemecatan langsung datang. Musim panasnya bertambah kelam ketika ia ikut bertepuk tangan saat pidato Luis Rubiales di tengah skandal yang mengguncang sepak bola Spanyol, tindakan yang kemudian ia sesali dan minta maafkan secara terbuka. Sulit membayangkan awal yang lebih buruk bagi seorang pelatih timnas.
Namun orang-orang yang mencibir itu tidak mengenal jalan hidupnya. De la Fuente lahir di Haro, kota kecil penghasil anggur di La Rioja, pada 1961. Sebagai pemain, ia bek kiri didikan akademi Athletic Bilbao yang ikut merasakan dua gelar La Liga pada awal 1980-an, karier yang terhormat tapi jauh dari gemerlap. Justru setelah gantung sepatu ia menemukan panggilannya, yakni membesarkan pemain muda.
Bertahun-tahun ia bekerja dalam senyap di akademi dan tim-tim junior, sebelum federasi Spanyol merekrutnya pada 2013. Di sanalah fondasi hari ini diletakkan. Ia menjuarai Piala Eropa U-19 pada 2015, Piala Eropa U-21 pada 2019, dan membawa pulang perak Olimpiade Tokyo. Anak-anak asuhnya di tim junior itulah yang kini menjadi tulang punggung tim seniornya. Oyarzabal yang mengeksekusi penalti semalam dan Fabian Ruiz yang mengatur irama lini tengah sama-sama alumni skuad U-21 juaranya. De la Fuente tidak mewarisi tim ini dari siapa-siapa. Ia menanamnya sendiri, sabar, selama satu dekade.
Jawaban atas para peragu datang bertubi-tubi setelah awal yang buruk itu. Ia mempersembahkan trofi UEFA Nations League 2023, gelar pertama Spanyol dalam sebelas tahun. Setahun kemudian ia menyapu bersih tujuh laga Piala Eropa 2024, menumbangkan tuan rumah Jerman, Prancis, lalu Inggris di final, dan menjadikan Spanyol juara Eropa empat kali, terbanyak sepanjang sejarah. Malam di Dallas kemarin bahkan terasa seperti pengulangan, sebab di semifinal Piala Eropa itu pun korbannya Prancis.
Yang membedakan De la Fuente dari para pendahulunya bukan revolusi taktik yang rumit, melainkan keseimbangan. Spanyol era dia tetap memelihara umpan-umpan pendek warisan tiki-taka, tapi kini dilengkapi pertahanan sekeras baja dan kegilaan anak-anak muda macam Lamine Yamal di sepertiga akhir. Gol kedua semalam menggambarkan semuanya, seorang bek kanan, Porro, bertukar umpan satu dua dengan Dani Olmo di tepi kotak penalti lalu menuntaskannya dengan tenang, seolah pola itu sudah dilatih ribuan kali.
Pria pendiam yang taat beribadah itu tidak pernah membalas ejekan masa lalu dengan kata-kata. Di Spanyol kini beredar kelakar bahwa satu-satunya kesalahan De la Fuente adalah tidak terlihat seperti pelatih hebat. Minggu nanti di New Jersey, ia berkesempatan menutup lelucon itu untuk selamanya. Orang yang dulu dianggap bukan siapa-siapa tinggal selangkah dari takhta tertinggi sepak bola dunia.[]
Editor : Fathurroji









