Binanews.id | Jakarta- Ramai anggapan generasi alpha yang dinilai lebih rentan stres dibanding generasi lain. Pakar IPB memberikan teknik sederhana buat orang tua untuk melatih anak dalam mengatasi stres.
Dr Yulina Eva Riany, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, melihat generasi alpha merupakan generasi yang tumbuh dengan kemudahan akses informasi. Dengan begitu, mereka lebih mudah mengetahui istilah psikologis.
“Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital dengan akses informasi luas sehingga lebih sering terpapar istilah psikologis melalui media sosial dan pergaulan. Ketika anak mengatakan ‘Aku stres’, respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung memberikan penilaian atau nasihat,” jelasnya dalam laman IPB University dikutip Selasa (3/11/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yulina menilai stres merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan tertentu. Pada anak, tekanan dapat berasal dari tuntutan akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat dalam keluarga.
“Stres perlu diwaspadai apabila berlangsung berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Tandanya dapat berupa perubahan pola tidur, kehilangan minat bermain, mudah marah, menarik diri, atau keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas,” ungkapnya.
Yulina menyarankan teknik sederhana ini untuk para orang tua bila anak terlihat stres. Pertama, ajarkan anak mengenali, menamai hingga menerima perasaannya. Kedua, ajarkan anak untuk menarik napas perlahan atau menghitung 1 hingga 10.
Ketiga, bila ada alat bantu untuk menenangkan diri anak bisa diberikan. Seperti squishy. Aktivitas meremas-remas squishy merupakan aktivitas sensorik berulang dapat membantu mereka mengalihkan perhatian dari situasi yang menegangkan.
Anak juga membutuhkan tidur cukup, asupan nutrisi, dan waktu bermain yang seimbang. Orang tua perlu menjadi teladan dalam mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat.
“Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap tekanan. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional,” pungkas Yulina.








