Kasus Daycare Yogyakarta, Cerminan Bahaya Anak Mengintai Sekitar Kita

Tedy

- Redaksi

Selasa, 28 April 2026 - 07:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Binanews.id | Bogor – Rani Nurmega, Komisioner KPAI Kota Bogor, mengaku prihatin melihat maraknya kasus penyiksaan anak di panti maupun tempat penitipan anak yang ramai diberitakan di media massa. Hal ini menjadi perhatian penting bagi KPAI Kota Bogor agar kasus serupa tidak terjadi di wilayah tersebut. Hal itu diungkapkan dalam wawancara melalui sambungan telepon seluler.

Terungkapnya kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, menggemparkan publik. Kasus ini terus mencuat dalam pemberitaan berbagai media nasional dan menjadi pengingat bagi para orang tua untuk selalu waspada dalam menjaga anak-anak mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dilansir dari Kompas.com, aparat kepolisian menggerebek Little Aresha pada Jumat (24/4/2026) sore terkait dugaan kekerasan terhadap anak. Penggerebekan dilakukan oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Yogyakarta setelah menerima laporan masyarakat mengenai adanya dugaan perlakuan tidak semestinya terhadap anak-anak di lokasi tersebut.

Hingga Sabtu (25/4/2026) malam, polisi telah menetapkan 13 tersangka dalam kasus ini, yaitu kepala yayasan, kepala sekolah, dan 11 pengasuh daycare.

Baca Juga:  Jangan Asal Menang, Ini Rumus Sehat Saat Bertengkar

Sejalan dengan itu, Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, mengatakan bahwa dalam kasus ini terdapat dugaan adanya standar operasional prosedur (SOP) pengikatan tangan atau kaki anak-anak pada jam tertentu.“Diduga jauh lebih sistematis, artinya seolah ada SOP bahwa anak-anak pada jam tertentu mendapatkan perlakuan kaki atau tangan diikat dan orang tua tidak boleh melihat langsung,” demikian dikutip dari Tempo.co pada Ahad, 26 April 2026.

Menilik fakta yang ada, mulai dari anak-anak yang diikat kaki dan tangannya hingga ditempatkan di ruangan sempit tanpa pakaian yang layak, terungkap adanya kamar sempit yang diisi puluhan bayi. Kondisi ini dapat mengakibatkan kerusakan arsitektur otak akibat stres akut.

Kekerasan yang dialami balita di tempat penitipan seperti daycare menciptakan kondisi stres akut atau toxic stress. Secara biologis, kondisi tersebut bertindak sebagai neurotoksin yang dapat merusak pertumbuhan sinapsis di otak anak, terutama pada masa balita.

Baca Juga:  Diet Pengganti Beras Putih Solusi Terbaik, Apa Itu?

Menurut Danti Wulan Manunggal, psikolog dari Ibunda.id, ketakutan yang dialami anak merupakan sinyal darurat psikologis.

Dampak lain yang mungkin muncul meliputi:

  • Regresi, yaitu anak kembali mengompol atau mengisap jempol meski sudah melewati fase tersebut.

  • Somatisasi, yaitu gejala fisik yang diperparah kondisi psikis, seperti laporan adanya korban yang mengalami pneumonia.

Sedangkan dampak yang umum dialami korban antara lain:

Hiperaktivasi Poros HPA
Sistem respons stres (fight-or-flight) anak tetap berada pada posisi “ON” secara permanen. Kortisol berlebih menghambat pembentukan memori di hipokampus, sehingga anak sering terlihat “blank” atau sulit fokus.

Hipertrofi Amigdala
Pusat rasa takut di otak membesar dan menjadi terlalu sensitif. Akibatnya, anak selalu waspada (hypervigilance) dan mudah terkejut meski dalam situasi aman.

Gangguan Prefrontal Cortex (PFC)
Pusat logika dan kontrol emosi terhambat perkembangannya. Hal ini membuat anak kesulitan mengatur emosi dan cenderung bertindak impulsif di masa depan.

Baca Juga:  Khawatir Kanker Menyebar ke Tulang? SPECT-CT Bisa Bantu Deteksi

Helplessness
Tindakan pengikatan fisik mengirimkan pesan pada sistem saraf bahwa tubuh mereka bukan milik mereka sendiri, sehingga memicu perasaan tidak berdaya yang sangat mendalam.

Mengingat kompleksitas dampak pada struktur otak, pemulihan korban tidak bisa berlangsung instan. Danti menyarankan beberapa langkah intervensi yang dapat dilakukan orang tua:

Pertama, validasi perasaan
Ciptakan suasana rumah yang aman tanpa memaksa anak bercerita.

Kedua, terapi spesialis
Segera lakukan Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT) atau Play Therapy untuk membantu anak memproses memori traumatis.

Ketiga, observasi medis-psikologis
Memastikan tidak ada trauma fisik permanen yang memengaruhi saraf motorik anak akibat pengikatan.”Luka fisik mungkin sembuh dalam hitungan minggu, namun luka di ingatan tubuh (body memory) memerlukan kehadiran orang tua yang stabil dan bantuan profesional untuk pulih sepenuhnya,” tutup Danti dikutip yogyakarta.kompas.com.[]

 

Berita Terkait

Tips Memilih Laptop untuk Kerja dari Rumah agar Produktif dan Hemat Biaya
Downgrade Lifestyle Makin Marak, Pakar Ingatkan Jangan Tunda Medical Check-up
Khawatir Kanker Menyebar ke Tulang? SPECT-CT Bisa Bantu Deteksi
5 Hal Penyakit Ginjal yang Sering Disalahpahami, Nggak selalu Cuci Darah
Cara Membedakan Influenza A dengan Flu Biasa
Ciri Orang Egois Bisa Dilihat dari Perkataannya, Apa Saja?
Sederet Pemicu Perceraian, Bimbingan Perkawinan sebagai Pencegahan
Tips Memilih Travel Umroh untuk Keluarga Muslim di Bogor Jawa Barat

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Tips Memilih Laptop untuk Kerja dari Rumah agar Produktif dan Hemat Biaya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:24 WIB

Downgrade Lifestyle Makin Marak, Pakar Ingatkan Jangan Tunda Medical Check-up

Senin, 28 September 2026 - 17:00 WIB

Khawatir Kanker Menyebar ke Tulang? SPECT-CT Bisa Bantu Deteksi

Jumat, 25 September 2026 - 16:40 WIB

5 Hal Penyakit Ginjal yang Sering Disalahpahami, Nggak selalu Cuci Darah

Selasa, 22 September 2026 - 16:04 WIB

Cara Membedakan Influenza A dengan Flu Biasa

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB