Julizar Idris Anak Tanjung Enim yang Jadi Komisaris PLN EPI dan Peduli Pendidikan

Irwan Maulana

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 06:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor — Perjalanan menuju Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, bukan perjalanan yang singkat. Dari Palembang, perlu waktu sekitar enam jam untuk mencapai daerah yang dikenal sebagai kawasan tambang itu. Di sanalah Julizar Idris tumbuh, belajar, dan mulai memupuk mimpi yang kelak membawanya menjadi akademisi, birokrat, sekaligus Komisaris PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI).

Bagi Julizar, kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam atau kemajuan teknologi. Ada tiga pilar yang menurutnya harus terus dijaga: etos kerja, persatuan nasional, dan budaya literasi.

Ia meyakini Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi bangsa maju. Namun, tantangan terberatnya adalah menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi yang sering kali memecah perhatian masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masa kecil Julizar dihabiskan di kampung halamannya. Ia menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Sumatera Selatan sebelum pindah ke Yogyakarta saat duduk di kelas dua SMA. Dari kota pelajar itulah langkahnya berlanjut ke Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menekuni Teknik Elektro.

Pilihan itu membentuknya sebagai seorang teknokrat. Namun, jalan hidupnya tidak berhenti pada dunia teknik.

Pada 2007, ia bertemu dengan Prabowo Subianto dan mulai terlibat dalam perjuangan pengabdian kepada negara, bahkan sebelum Partai Gerindra resmi didirikan. Pengalaman tersebut membuka ketertarikannya pada ilmu sosial, politik, pemerintahan, dan wawasan kebangsaan.

Baca Juga:  Pendidikan Bermutu untuk Semua Wujudkan Asta Cita Presiden

Rasa ingin tahunya mendorong Julizar melanjutkan studi S2 Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan kemudian menempuh pendidikan Administrasi Publik di Universitas Brawijaya. Baginya, belajar adalah cara memperluas kontribusi bagi bangsa.

Ketika Cita-Cita Akademik Menjadi Kompas Hidup

Dunia akademik ternyata telah memanggilnya sejak lama. Sejak 2013, Julizar mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI). Kini ia mengajar Administrasi Publik di Institut Kemandirian Nusantara (IKNUS) Banten dengan jabatan akademik Associate Professor atau Lektor Kepala.

Yang menarik, mimpi menjadi akademisi sudah tumbuh sejak ia masih anak-anak. “Waktu kecil kalau ditanya nama, saya menjawab ‘Prof. Dr. Julizar Idris’. Terdengar lucu, tetapi justru itu menjadi cita-cita saya. Cita-cita itulah yang menuntun saya. Pelan-pelan, tetapi akhirnya sampai,” ungkapnya kepada Binanews saat ditemui di Bogor beberapa waktu lalu.

Kenangan itu menunjukkan bahwa cita-cita bukan sekadar angan, melainkan arah yang menuntun langkah seseorang dalam jangka panjang.

Julizar menegaskan bahwa keberhasilan tidak pernah datang secara instan. Ia menyebut nilai paling berharga yang diwariskan orang tuanya adalah kerja keras dan ketekunan.

“Orang tua selalu mengajarkan bahwa segala sesuatu bisa diraih dengan keyakinan dan kerja keras. Nilai itu yang terus saya pegang sampai sekarang,” tuturnya.

Nilai tersebut menjadi benang merah perjalanan hidupnya, dari anak kampung di Tanjung Enim hingga menempati berbagai posisi strategis di dunia pendidikan dan pemerintahan.

Baca Juga:  Madrasah Diniyah Takmiliyah akan Diakui, Ini Dua Model Kolaborasinya

Menolak Mental Inferior Bangsa

Ketika berbicara tentang kebangsaan, nada suara Julizar berubah lebih serius. Ia melihat Indonesia sebagai bangsa dengan sejarah panjang dan warisan peradaban yang besar. Namun, ia juga menyadari masih ada sebagian masyarakat yang memandang bangsa lain selalu lebih unggul.

Menurutnya, generasi muda harus kembali percaya pada kemampuan bangsanya sendiri dan memahami sejarah Indonesia secara lebih utuh.

Ia mengingatkan bahwa politik “pecah belah” pernah menjadi strategi kolonial untuk melemahkan Indonesia. “Jangan mau dipecah belah oleh siapa pun. Dahulu politik kolonial memecah hubungan antara rakyat dan para pemimpinnya. Jangan sampai pola seperti itu terulang dalam kehidupan berbangsa sekarang,” katanya.

Di tengah era media sosial, tantangan itu menjadi semakin rumit. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, termasuk informasi yang belum tentu benar. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi tersebut dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat.

Julizar mencontohkan sikap Presiden Prabowo Subianto setelah kontestasi Pilpres 2014 dan 2019 sebagai teladan dalam menjaga persatuan nasional. “Kita sudah memiliki contoh bahwa setelah kompetisi politik selesai, yang harus dikedepankan adalah persatuan dan pembangunan bangsa. Semangat seperti itu harus terus dijaga,” ujarnya.

Selain persatuan, Julizar percaya bahwa kekuatan terbesar Indonesia terletak pada karakter masyarakatnya. Ia menilai bangsa Indonesia dikenal tangguh, pekerja keras, dan memiliki daya juang tinggi.

Baca Juga:  Gus Kikin Jadi Ketua Umum PBNU, Menelusuri Jejak Keluarga Pesantren dan Kepemimpinannya

Ia menolak keras pandangan yang membuat bangsa Indonesia merasa lebih rendah dibanding bangsa lain. “Kita tidak boleh menjadi bangsa yang inferior, kita punya budaya yang luhur dan pernah juga menguasai banyak wilatah di masa dulu”

Literasi: Benteng Melawan Kebodohan

Menjelang akhir wawancara, Julizar kembali pada isu yang sangat ia tekankan: literasi. Ia melihat rendahnya minat baca sebagai salah satu akar persoalan bangsa.

“Perkuat literasi, karena dengan literasi yang kuat, otak kita tidak mudah dibodohi. Masalah kita sekarang adalah malas membaca. Padahal sumber bacaan sangat banyak, tinggal kemauan kita untuk membaca,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tradisi membaca memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca, sehingga budaya literasi seharusnya menjadi bagian dari karakter generasi muda Indonesia.

Dari kisah hidup Julizar Idris, tampak bahwa perjalanan pribadi dapat menjadi cermin gagasan besar tentang bangsa. Anak yang tumbuh di Tanjung Enim itu kini berbicara tentang Indonesia dengan perspektif seorang teknokrat, akademisi, sekaligus pemerhati kebangsaan.

Ia percaya masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan masyarakat untuk: bekerja keras, menjaga persatuan, dan membangun tradisi literasi yang kuat.

Tiga hal itulah yang menurut Julizar akan menentukan apakah Indonesia mampu berdiri tegak sebagai bangsa maju dan berdaya saing di tingkat global.[]

 

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB