Gus Kikin Jadi Ketua Umum PBNU, Menelusuri Jejak Keluarga Pesantren dan Kepemimpinannya

Tim Redaksi

- Redaksi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Jombang — KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin ditetapkan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas, Jombang, pada 27 hingga 31 Agustus 2026.

Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-8 tersebut dikenal memiliki ikatan kuat dengan tiga pesantren besar di Jombang, yakni Tebuireng, Seblak, dan Paculgowang.

Latar belakang keluarga pesantren, pengalaman panjang dalam organisasi, serta kiprahnya di dunia usaha menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk karakter kepemimpinan Gus Kikin. Ia dinilai memiliki perpaduan antara tradisi keilmuan pesantren, kemampuan manajerial, pengalaman profesional, dan wawasan kebangsaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelum ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, namanya semakin menguat setelah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur memberikan mandat kepadanya untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Lahir dari Keluarga Pesantren

Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah Maksum, dua tokoh yang memiliki peran dalam perkembangan pesantren dan kehidupan sosial keagamaan di Jombang.

Dari kedua orang tuanya, Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam sekaligus nilai pengabdian kepada masyarakat.

Ayahnya, KH Mahfudz Anwar (1912-1999), dikenal sebagai ulama yang menguasai fikih, tafsir, gramatika Arab, serta ilmu falak. Ia merupakan keturunan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.

Pesantren Paculgowang memiliki hubungan historis dengan lingkungan pesantren Tebuireng dan Seblak. Hubungan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari jaringan keluarga dan keilmuan yang melekat dalam perjalanan Gus Kikin.

Dari garis ibunya, Gus Kikin juga memiliki hubungan dengan keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama, Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Baca Juga:  Rintisan BPRS Amanah Ummah: Memilih Orang Amanah, Bukan Bankir

Nyai Abidah Maksum merupakan putri KH Maksum bin Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim. KH Maksum bin Ali dikenal sebagai ulama ahli falak sekaligus penulis kitab Amtsilah at-Tashrifiyah. Sementara Nyai Khoiriyah merupakan putri KH Hasyim Asy’ari.

Dengan garis keturunan tersebut, Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari.

Tiga Lingkungan Pesantren

Hubungan keluarga tersebut membuat Gus Kikin tidak hanya memiliki keterikatan dengan Tebuireng sebagai pesantren yang kemudian dipimpinnya, tetapi juga dengan Seblak dan Paculgowang.

Dalam tradisi pesantren, hubungan keluarga antarkiai memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan dan hubungan sosial antarpesantren.

Pernikahan KH Mahfudz Anwar dengan Nyai Abidah Maksum menjadi salah satu titik pertemuan dua jalur keluarga pesantren. Dari keluarga tersebut lahir sejumlah tokoh, di antaranya KH Abdul Halim Mahfudz (Gus Lim), pengasuh Pondok Pesantren Seblak; KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin); serta almarhum KH Abdul Wachid Mahfudz (Gus Wahid).

Latar belakang tersebut memberikan Gus Kikin pengalaman hidup dalam lingkungan pesantren yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga hubungan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Pendidikan Agama dan Pengalaman Profesional

Gus Kikin memperoleh pendidikan keislaman langsung dari sang ayah. Sementara pendidikan umum ditempuh di Jombang, mulai dari MI Parimono, SMPN 1 Jombang, hingga SMPP yang kini dikenal sebagai SMAN 2 Jombang.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan pendidikan di akademi pelayaran.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan profesional Gus Kikin. Pendidikan dan pengalamannya di bidang pelayaran kemudian bersinggungan dengan dunia bisnis dan pengelolaan organisasi.

Sebelum aktif dalam kepemimpinan pesantren dan NU, Gus Kikin dikenal memiliki pengalaman di dunia profesional dan usaha. Salah satu kiprahnya berada di sektor minyak dan gas bumi melalui PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan nasional yang mendapat amanah mengelola South East Madura Block.

Pengalaman di dunia usaha menjadi salah satu aspek yang melengkapi latar belakangnya sebagai tokoh pesantren. Dunia bisnis menuntut kemampuan dalam mengelola sumber daya, membangun jaringan, mengambil keputusan, serta membaca peluang.

Baca Juga:  Apakah Penggunaan AC Bisa Cegah Kematian Akibat Panas Ekstrem? Ini Kata Pakar

Kemampuan tersebut menjadi relevan ketika diterapkan dalam organisasi sosial-keagamaan seperti NU yang memiliki struktur organisasi luas dan bidang pengabdian yang beragam.

Dari PWNU Jawa Timur hingga PBNU

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Gus Kikin mendapatkan berbagai amanah organisasi. Ia pernah dipercaya menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur menggantikan KH Marzuqi Mustamar.

Selanjutnya, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

Jawa Timur memiliki posisi penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama karena wilayah ini memiliki jaringan pesantren yang luas serta basis warga NU yang besar. Memimpin PWNU Jawa Timur dengan demikian memberikan pengalaman tersendiri dalam mengelola organisasi dengan struktur dan karakter masyarakat yang beragam.

Rekam jejak tersebut kemudian menjadi salah satu alasan munculnya dukungan terhadap Gus Kikin untuk maju dalam bursa kepemimpinan PBNU.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, menilai Gus Kikin memiliki kapasitas kepemimpinan yang lengkap.

“Seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya,” kata KH Junaidi.

Kepemimpinan Tidak Hanya Berbasis Keilmuan

Pandangan tersebut menggambarkan tantangan kepemimpinan organisasi keagamaan di tengah perubahan zaman. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memahami tradisi dan keilmuan agama, tetapi juga harus mampu mengelola organisasi secara profesional.

Menurut KH Junaidi, Gus Kikin memiliki kemampuan yang lebih utuh. Selain berlatar belakang pesantren dan memiliki pengalaman organisasi, Gus Kikin juga merupakan pengusaha serta memiliki jaringan yang dapat dikembangkan.

Ia juga disebut pernah memiliki pengalaman di bidang media televisi.

Dukungan terhadap Gus Kikin kemudian menguat setelah PWNU Jawa Timur dan PCNU se-Jawa Timur memberikan mandat kepadanya.

Wakil Rais PWNU Jatim, KH Abdul Matin Djawahir, menegaskan bahwa pencalonan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi Gus Kikin, melainkan hasil kesepakatan organisasi.

Baca Juga:  Belajar Hidup dari Paman Gober

“Ini bukan keinginan pribadi beliau. Kita tanya beliau siap atau tidak, katanya siap. Murni pendapat PCNU. Alhamdulillah seluruh PCNU bersama PWNU satu garis mengusung kiai,” katanya.

Menurutnya, selain memiliki hubungan keluarga dengan KH M Hasyim Asy’ari, Gus Kikin juga mempunyai pengalaman organisasi yang matang, termasuk pengalaman hingga tingkat PBNU. Ia juga menggambarkan Gus Kikin sebagai sosok yang teduh, tidak gaduh, dan mengutamakan ukhuwah.

Amanah dan Tanggung Jawab

Mandat untuk memimpin organisasi sebesar NU tentu bukan sekadar persoalan jabatan. Bagi tokoh pesantren, kepemimpinan dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.

Gus Kikin sendiri menyikapi mandat tersebut secara sederhana. Ia menempatkan pencalonan sebagai amanah, bukan sebagai ambisi pribadi. Ia menyatakan kesiapan menjalankan tugas apabila mendapatkan kepercayaan dari para muktamirin.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari gagasan kepemimpinan yang dibawanya, yakni memperkuat fondasi organisasi, menjaga sanad keilmuan, serta meningkatkan peran NU dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kehidupan kebangsaan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan adab dalam perjalanan NU ke depan.

Perpaduan Tradisi Pesantren dan Tantangan Zaman

Perjalanan Gus Kikin memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan pengalaman profesional dan organisasi.

Ia lahir dari keluarga ulama, tumbuh dalam lingkungan pesantren, memiliki hubungan genealogis dengan KH Hasyim Asy’ari, menjadi pengasuh Tebuireng, berkiprah di PWNU Jawa Timur, serta memiliki pengalaman di dunia usaha.

Perpaduan pengalaman tersebut menjadi modal kepemimpinan yang berbeda. Tradisi pesantren memberikan fondasi keilmuan, nilai, dan pengabdian. Pengalaman organisasi membentuk kemampuan mengelola struktur dan membangun konsolidasi. Sementara dunia usaha memberikan pengalaman mengenai manajemen, jaringan, dan kemandirian ekonomi.

Dari Tebuireng, Seblak, dan Paculgowang, Gus Kikin membawa sejarah panjang keluarga pesantren Jombang menuju panggung kepemimpinan NU di tingkat nasional.

Kini, setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU, tantangan berikutnya adalah bagaimana latar belakang, pengalaman, dan gagasan tersebut diterjemahkan menjadi program nyata bagi organisasi dan warga Nahdlatul Ulama.

Kepemimpinan Gus Kikin pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh kuatnya akar genealogis dan tradisi pesantren, tetapi juga oleh kemampuannya menjawab kebutuhan NU di tengah perubahan sosial, pendidikan, ekonomi, teknologi, dan kehidupan kebangsaan yang terus berkembang.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB