Binanews.id | Delapan belas tahun lalu, tepat pada 14 Juli 2008 pukul 19.00 WIB, ruang-ruang keluarga Indonesia berkenalan dengan dua pengangguran paling menghibur di layar kaca. Malam itu Global TV menayangkan episode perdana Abdel & Temon Bukan Superstar, sitkom produksi Multivision Plus tentang dua sahabat senasib yang selalu kompak mencari peruntungan.
Hari ini tanggal itu kembali datang. Bedanya, untuk pertama kalinya, ulang tahun tayangan itu diperingati tanpa Temon.
Simson Rarameha Ngadang, pria di balik nama Temon, meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) pukul 08.42 WIB di usia 59 tahun. Ia mengeluhkan nyeri dada kiri sebelum dilarikan ke RSUD Mampang Prapatan, namun nyawanya tak tertolong akibat serangan jantung dengan riwayat hipertensi. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin siang, hanya sehari sebelum tanggal yang delapan belas tahun silam mengubah hidupnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sulit membayangkan kebetulan yang lebih menyayat dari itu.
Sebab Bukan Superstar bukan sekadar judul di antara ratusan sinetron. Disutradarai Muchyar Syamas, sitkom itu bertahan hingga 390 episode sampai awal 2010, lalu beranak sekuel dari Abdel dan Temon Masih Bukan Superstar, Bukan Abdel dan Temon Biasa, hingga Abdel dan Temon Reunian. Bagi generasi yang tumbuh pada akhir 2000-an, jam tujuh malam identik dengan kejailan dua sahabat itu. Lawakan mereka tidak menghina siapa-siapa, hanya dua orang susah yang menertawakan kesusahannya sendiri, dan justru karena itu terasa dekat dengan penontonnya.
Kimia di layar itu tidak dibuat-buat, karena persahabatan keduanya memang nyata dan jauh lebih tua dari sitkomnya. Abdel Achrian lebih dulu menjadi penyiar Radio SK pada 1989, Temon menyusul pada 1992, dan sejak itu keduanya nyaris tak terpisahkan, melawak bersama, bermusik bersama, memandu acara bersama. Ketika kamera akhirnya menyorot mereka, penonton hanya menyaksikan kelanjutan dari keseharian dua sahabat.
Maka ketika kabar duka itu datang, yang paling remuk adalah separuh duet yang tersisa. Abdel sedang berada di Amerika Serikat saat sahabatnya berpulang. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Selamat jalan, Mon,” tulisnya di media sosial, disertai potongan video kebersamaan mereka. Lewat sambungan telepon yang diperdengarkan di pemakaman, tangisnya pecah saat meminta maaf tak bisa mengantar Temon sampai liang lahat.
Di Tanah Kusir, perpisahan itu berlangsung khidmat. Sang istri, Mae, menaburkan bunga sambil berbisik, “Sampai jumpa sayangku. Sampai jumpa lagi di sana, sayangku.” Tarzan Srimulat, Daus Mini, dan Mongol datang memberi penghormatan terakhir, sementara Agum Gumelar yang ikut melayat mengenangnya sebagai pribadi yang selalu ceria.
Di luar layar, Temon menyimpan cerita yang tak kalah menarik dari perannya. Ia lulusan Psikologi Universitas Indonesia yang dengan santai menertawakan dirinya sendiri karena baru lulus setelah sembilan tahun. Adiknya mengenang sisi lain yang jarang diketahui, sepanjang sekolah Temon nyaris tak pernah mengeluarkan biaya karena selalu disokong beasiswa. Ia meninggalkan sembilan anak, dan menurut putrinya, Reca, keinginan yang paling sering ia ucapkan sederhana saja, ingin seluruh keluarganya berkumpul di bawah satu atap.
Delapan belas tahun lalu, dua pengangguran di layar kaca itu bermimpi menjadi superstar dan selalu gagal dengan cara yang membuat seisi rumah tertawa. Waktu kemudian membuktikan yang sebaliknya. Bagi jutaan orang yang tumbuh bersama tayangannya, Temon tidak pernah menjadi bukan superstar. Ia sudah lama menjadi bintang di ruang keluarga mereka, dan bintang yang seperti itu tidak ikut padam oleh kematian.
Editor : Fathurroji









