18 Tahun Lalu Bukan Superstar Tayang Perdana, Kini Temon Pamit Selamanya

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Delapan belas tahun lalu, tepat pada 14 Juli 2008 pukul 19.00 WIB, ruang-ruang keluarga Indonesia berkenalan dengan dua pengangguran paling menghibur di layar kaca. Malam itu Global TV menayangkan episode perdana Abdel & Temon Bukan Superstar, sitkom produksi Multivision Plus tentang dua sahabat senasib yang selalu kompak mencari peruntungan.

Hari ini tanggal itu kembali datang. Bedanya, untuk pertama kalinya, ulang tahun tayangan itu diperingati tanpa Temon.

Simson Rarameha Ngadang, pria di balik nama Temon, meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) pukul 08.42 WIB di usia 59 tahun. Ia mengeluhkan nyeri dada kiri sebelum dilarikan ke RSUD Mampang Prapatan, namun nyawanya tak tertolong akibat serangan jantung dengan riwayat hipertensi. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin siang, hanya sehari sebelum tanggal yang delapan belas tahun silam mengubah hidupnya.

Baca Juga:  Ira Oktovi Mulyani Raih Winner 1 Puteri Muslimah Nusantara Jawa Barat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sulit membayangkan kebetulan yang lebih menyayat dari itu.

Sebab Bukan Superstar bukan sekadar judul di antara ratusan sinetron. Disutradarai Muchyar Syamas, sitkom itu bertahan hingga 390 episode sampai awal 2010, lalu beranak sekuel dari Abdel dan Temon Masih Bukan Superstar, Bukan Abdel dan Temon Biasa, hingga Abdel dan Temon Reunian. Bagi generasi yang tumbuh pada akhir 2000-an, jam tujuh malam identik dengan kejailan dua sahabat itu. Lawakan mereka tidak menghina siapa-siapa, hanya dua orang susah yang menertawakan kesusahannya sendiri, dan justru karena itu terasa dekat dengan penontonnya.

Kimia di layar itu tidak dibuat-buat, karena persahabatan keduanya memang nyata dan jauh lebih tua dari sitkomnya. Abdel Achrian lebih dulu menjadi penyiar Radio SK pada 1989, Temon menyusul pada 1992, dan sejak itu keduanya nyaris tak terpisahkan, melawak bersama, bermusik bersama, memandu acara bersama. Ketika kamera akhirnya menyorot mereka, penonton hanya menyaksikan kelanjutan dari keseharian dua sahabat.

Baca Juga:  Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Maka ketika kabar duka itu datang, yang paling remuk adalah separuh duet yang tersisa. Abdel sedang berada di Amerika Serikat saat sahabatnya berpulang. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Selamat jalan, Mon,” tulisnya di media sosial, disertai potongan video kebersamaan mereka. Lewat sambungan telepon yang diperdengarkan di pemakaman, tangisnya pecah saat meminta maaf tak bisa mengantar Temon sampai liang lahat.

Di Tanah Kusir, perpisahan itu berlangsung khidmat. Sang istri, Mae, menaburkan bunga sambil berbisik, “Sampai jumpa sayangku. Sampai jumpa lagi di sana, sayangku.” Tarzan Srimulat, Daus Mini, dan Mongol datang memberi penghormatan terakhir, sementara Agum Gumelar yang ikut melayat mengenangnya sebagai pribadi yang selalu ceria.

Di luar layar, Temon menyimpan cerita yang tak kalah menarik dari perannya. Ia lulusan Psikologi Universitas Indonesia yang dengan santai menertawakan dirinya sendiri karena baru lulus setelah sembilan tahun. Adiknya mengenang sisi lain yang jarang diketahui, sepanjang sekolah Temon nyaris tak pernah mengeluarkan biaya karena selalu disokong beasiswa. Ia meninggalkan sembilan anak, dan menurut putrinya, Reca, keinginan yang paling sering ia ucapkan sederhana saja, ingin seluruh keluarganya berkumpul di bawah satu atap.

Baca Juga:  Pentingnya Generasi Muda Hadapi Transformasi Digital

Delapan belas tahun lalu, dua pengangguran di layar kaca itu bermimpi menjadi superstar dan selalu gagal dengan cara yang membuat seisi rumah tertawa. Waktu kemudian membuktikan yang sebaliknya. Bagi jutaan orang yang tumbuh bersama tayangannya, Temon tidak pernah menjadi bukan superstar. Ia sudah lama menjadi bintang di ruang keluarga mereka, dan bintang yang seperti itu tidak ikut padam oleh kematian.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB