Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Menteri Agama RI)

Tim Redaksi

- Redaksi

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok uin khas jember

dok uin khas jember

Binanews.id | Jakarta–Pesantren bukan sebatas tempat orang belajar agama. Pesantren adalah salah satu ruang penting tempat bangsa ini merawat nilai, karakter, dan jati dirinya. Karena itu, berbicara tentang pesantren sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan umat dan masa depan bangsa.

Pesantren memiliki karakter yang khas. Kekhasan itu harus dijaga. Bukan berarti pesantren kemudian berjalan sendiri dan terlepas dari pembinaan negara. Justru di sinilah diperlukan perkawinan yang semakin kuat, antara karakter kepesantrenan dengan kebijakan pendidikan nasional. Jika keduanya dipertemukan dengan baik, yang lahir bukan penyeragaman, melainkan penguatan.

Pesantren mempunyai peran penting sebagai penjaga ideologi bangsa. Kita tidak perlu sibuk mencari atau menyusun ideologi baru. Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai kesepakatan luhur para pendiri bangsa. Tugas kita adalah merawat dan menghidupkannya dalam perilaku sehari-hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting. Beragama tidak cukup hanya dengan memiliki religiousness, yaitu keterikatan pada simbol dan praktik keagamaan. Kita membutuhkan religious mindedness, cara berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama. Agama tidak berhenti di masjid, madrasah, atau pesantren. Ia harus hadir dalam cara kita memperlakukan sesama, menjaga lingkungan, menghormati perbedaan, dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.

Baca Juga:  Jangan Hukum Pesantrennya, Hukum Pelakunya

Orang yang memiliki religious mindedness tidak hanya bertanya, “Apa yang agama katakan?” tetapi juga, “Bagaimana nilai agama itu menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan?”

Karena itu, pesantren juga merupakan penjaga identitas umat. Identitas bukan hanya pakaian, bahasa, simbol, atau tradisi yang tampak dari luar. Identitas yang lebih dalam adalah cara berpikir, akhlak, tradisi keilmuan, dan orientasi hidup. Makna identitas umat sangat luas yang terimplementasi dalam kehidupan khas.

Pesantren memiliki warisan keilmuan yang panjang. Di dalamnya terdapat tradisi membaca, mengkaji, berdiskusi, menghormati guru, menghargai perbedaan pendapat, serta menghubungkan ilmu dengan akhlak. Warisan seperti inilah yang harus terus dirawat agar umat tidak kehilangan akar ketika menghadapi perubahan zaman.

Baca Juga:  Ibnu Sina dan Krisis Berpikir Bangsa Indonesia

Namun ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu pesantren harus menjadi penjaga kompas kemanusiaan. Dunia boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Kecerdasan buatan boleh semakin canggih. Tetapi manusia tetap membutuhkan arah. Apalagi saat ini ada perkembangan ASI (Artificial Super Intelligence) yang memiliki kecanggihan luar biasa dibandingkan AI yang kita kenal belakangan ini.

Kita membutuhkan kompas untuk membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak dilakukan; mana yang membawa kemaslahatan dan mana yang menimbulkan kerusakan. Agama pada akhirnya bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memuliakan manusia.

Karena itu, pesantren harus mampu melahirkan manusia yang kuat iman, luas ilmu, baik akhlaknya, dan luas kemanusiaannya. Santri tidak cukup hanya menjadi orang yang saleh secara individual. Ia juga harus memiliki kepedulian terhadap masyarakat, bangsa, lingkungan, dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Ibu adalah Madrasah Pertama: Mengembalikan Arah Pendidikan dari Rumah

Inilah tantangan pesantren di masa depan. Pesantren harus tetap menjadi pesantren. Karakternya jangan hilang. Tradisinya jangan tercerabut. Tetapi pada saat yang sama, pesantren tidak boleh menutup diri dari perkembangan zaman.

Pesantren harus berakar kuat, tetapi tidak kehilangan pandangan ke depan. Jika karakter kepesantrenan bertemu dengan kebijakan pendidikan yang baik, jika nilai agama bertemu dengan kecintaan kepada bangsa, dan jika kedalaman spiritual bertemu dengan kepedulian kemanusiaan, maka pesantren tidak hanya akan melahirkan orang-orang yang memahami agama.

Pesantren akan melahirkan manusia yang beragama dengan pikiran yang terang, berbangsa dengan hati yang lapang, dan berkemanusiaan dengan akhlak yang mulia. Di situlah pesantren menemukan makna strategisnya bagi Indonesia.[]

Sumber Berita: kemenag.go.id

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan
Iqra’, Pesan Pendidikan yang Relevan di Era Digital

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB