Iqra’, Pesan Pendidikan yang Relevan di Era Digital

Oleh: Imronuddin (Dosen Universitas Islam Bogor)

Tedy

- Redaksi

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id. Bogor. Pernahkah kita berpikir, kenapa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. dimulai dengan perintah Iqra’? Perintah ini seakan mengingatkan manusia bahwa perjalanan hidup yang baik harus dimulai dari kemauan untuk belajar. Perintah iqra’ seharusnya tidak kita pahami hanya sebagai perintah untuk membaca buku atau tulisan. Membaca berarti berusaha memahami, meneliti, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekitar kita. Maka, sudahkah kita benar-benar menjadi manusia pembelajar?

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-‘Alaq ayat 1–5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Jangan Berhenti Belajar!! Kita hidup pada zaman ketika ilmu dan informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Hanya dengan sebuah telepon genggam, berbagai pengetahuan tersedia dalam hitungan detik. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu membuat manusia semakin berilmu. Kita dapat membaca ribuan informasi setiap hari, tetapi belum tentu memahami apa yang kita baca. Kita dapat melihat banyak berita, tetapi belum tentu mampu membedakan antara fakta dan informasi yang menyesatkan.
Di sinilah semangat iqra’ menjadi sangat penting. Membaca mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya, tidak tergesa-gesa menyimpulkan, dan tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Kita diajak untuk memahami, memeriksa, dan mencari kebenaran. Karena itu, jangan merasa cukup dengan ilmu yang telah dimiliki. Selama hidup, selalu ada sesuatu yang perlu dipelajari.

Belajar dengan Mengingat Allah Menariknya, Allah tidak hanya berfirman “Iqra’”, tetapi melanjutkannya dengan “bismi rabbika”. Tidak hanya diperintah membaca, namun diperintah membaca dengan (menyebut) nama Tuhanmu. Ini menjadi nasihat penting bagi siapa pun yang sedang mencari ilmu. Belajar dalam Islam bukan hanya untuk mendapatkan nilai, gelar, pekerjaan, jabatan, atau pujian manusia. Ilmu seharusnya membawa kita semakin mengenal Allah dan semakin baik dalam menjalani kehidupan. Ilmu tanpa akhlak akan menjadi sumber kesombongan. Kecerdasan tanpa iman dapat menyebabkan hilang arah. Karena itu, semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin rendah hati kita di hadapan Allah dan semakin besar manfaat kita bagi orang lain.

Jangan Hanya Membaca, Belajarlah Memahami Allah juga menyebut qalam atau pena dalam Q.S. Al-‘Alaq. Pena menjadi simbol bagaimana ilmu dicatat, dijaga, dan diwariskan.Pesan ini terasa semakin penting di era digital. Kita tidak lagi hanya berhadapan dengan buku dan tulisan, tetapi dengan jutaan informasi yang beredar melalui media sosial dan internet. Karena itu, budaya membaca harus disertai dengan kemampuan berpikir kritis. Jangan mudah membagikan informasi sebelum mengetahui kebenarannya. Jangan menjadikan sesuatu benar hanya karena banyak orang membicarakannya. Bacalah dengan ilmu. Periksalah dengan akal. Dan gunakanlah pengetahuan dengan akhlak.

Baca Juga:  Gerakan Intelektual: Pemetaan Pemuda Muhammadiyah dalam Menyelesaikan Masalah Pendidikan

Ilmu Harus Membawa Perubahan

Pada akhirnya, tujuan mencari ilmu bukan sekadar membuat kita mengetahui lebih banyak, tetapi membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Jika ilmu membuat kita semakin sombong, mungkin ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita belajar. Jika ilmu membuat kita gemar merendahkan orang lain, mungkin kita belum memahami hakikat ilmu. Sebaliknya, jika ilmu membuat kita semakin rendah hati, bijaksana, dan bermanfaat, di situlah ilmu menemukan maknanya. Q.S. Al-‘Alaq ayat 1–5 mengajarkan bahwa manusia pada awalnya tidak mengetahui banyak hal. Allah-lah yang mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya. Maka, tidak ada alasan untuk berhenti belajar. Tidak ada alasan untuk malu bertanya. Tidak ada alasan untuk merasa sudah cukup berilmu.

Mari kembali kepada pesan pertama wahyu: Iqra’. Bacalah, belajarlah, renungkanlah, dan amalkanlah. Sebab, kehidupan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi seberapa besar ilmu itu mampu mengubah diri kita menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Baca Juga:  Bukan Karena Malas, Kepala Perpusnas Ungkap Penyebab Minat Baca Indonesia

Baca Juga:  Mendiktisaintek Minta Rektor Tidak Banyak Buat Prodi, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB