Ibnu Sina dan Krisis Berpikir Bangsa Indonesia

Muchamad Arif Kurniawan (Dosen Universitas Islam Bogor)

Irwan Maulana

- Redaksi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bukan sekali, bukan sepuluh kali, bahkan empat puluh kali Ibnu Sina menghatamkan Metafisika, sebuah karya Aristoteles itu. Setiap kata sudah melekat di benaknya, setiap kalimat bisa ia lantunkan tanpa melihat halaman. Namun, di hadapan satu buku ini, kecerdasannya seolah membentur tembok batu: ia tidak mengerti apa-apa.
Hingga suatu hari, dalam sebuah perjalanan biasa di pasar Bukhara, tangannya terusik oleh sebuah buku tipis di lapak seorang pedagang. Buku karya Al-Farabi, seorang filsuf yang menulis risalah kecil di dalam Fī Aghrāḍ mā baʿd al-Ṭabīʿa yang mengurai maksud dan roh dari Metafisika Aristoteles yang selama ini menghantuinya. Kemudian Ibnu Sina duduk dan membuka halaman pertama, dan sesuatu di dalam kepalanya, akhirnya, menyala.
Kisah ini bukan sekadar tentang kecerdasan Ibnu Sina. Kisah ini merupakan ketekunan di hadapan kebingungan, tentang seorang Ibnu Sina yang tidak menyerah hanya karena ia tidak mengerti, yang justru menjadikan ketidakmengertian itu sebagai bahan bakar, bukan alasan untuk berhenti. Empat puluh kali. Bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang berharga di balik tembok itu, dan ia bersedia membenturkan dirinya terus-menerus sampai tembok itu retak.
Berangkat dari kisah tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang dapat diajukan saat ini: mengapa gambaran masyarakat kita begitu takut pada kebingungan? Di suatu titik, kebingungan telah berubah menjadi sesuatu yang memalukan. Tidak tahu jawaban berarti tidak pintar. Tidak mengerti materi berarti tertinggal. Mengulang berkali-kali berarti lambat. Kita telah membangun sebuah budaya belajar yang menghukum proses dan hanya merayakan hasil, dan anak-anak kita tumbuh di dalamnya, menyerap pesannya jauh sebelum mereka sadar.
Maka, ketika anak-anak kita ingin memecahkan soal dalam materi di sekolah, materi yang membutuhkan lebih dari sekadar hafalan, materi yang meminta mereka berpikir, respons pertama bukanlah rasa ingin tahu. Respons pertama adalah ancaman. Kalau aku tidak bisa ini, apa artinya?
Ibnu Sina tidak hidup dalam budaya seperti itu. Atau mungkin ia hidup, tapi ia menolak tunduk padanya. Ia membawa Metafisika itu ke mana-mana. Ia baca di pasar, di perjalanan, di sela-sela waktunya. Kebingungannya tidak ia sembunyikan, ia jadikan teman perjalanan. Dan justru karena itu, ketika pencerahan datang dari lapak seorang pedagang buku biasa, ia siap menerimanya. Kepala yang selama ini bekerja keras itu akhirnya punya tempat untuk meletakkan semua kepingannya.
Inilah yang luput dari percakapan kita tentang pendidikan Indonesia saat ini. Kita terlalu sering berbicara tentang apa yang harus diajarkan, tetapi jarang bertanya tentang apa yang anak-anak kita rasakan ketika mereka tidak mengerti. Apakah mereka merasa aman untuk tidak tahu? Apakah ada ruang di kelas mereka untuk berkata, “Saya bingung, dan saya mau terus mencoba” tanpa takut ditertawakan, tanpa takut dianggap bodoh, tanpa tekanan bahwa waktu sudah habis dan materi harus lanjut?
Namun, pertanyaan itu tidak bisa berhenti di ruang kelas saja. Karena akar masalahnya bukan hanya soal metode mengajar, melainkan soal bagaimana kita, sebagai masyarakat Indonesia, memandang akal itu sendiri.
Ada sebuah paradoks yang menyakitkan: kita mewarisi peradaban yang pernah menempatkan akal sebagai ibadah, namun kita hidup seolah-olah berpikir adalah ancaman. Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Rushd bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah bukti bahwa Islam pernah melahirkan tradisi intelektual yang tidak takut pada pertanyaan sulit, yang justru menjadikan pertanyaan sebagai jalan menuju kebenaran. Filsafat, bagi mereka, bukan lawan agama. Filsafat adalah cara akal bersujud pada kedalaman realitas yang diciptakan Tuhan. Lantas di mana kita sekarang?
Kita hidup di era di mana kata “filsafat” sudah cukup untuk membuat orang tua khawatir, di mana pertanyaan tentang hakikat kebenaran dianggap gejala iman yang goyah, bukan tanda akal yang sehat. Kita telah memisahkan dua hal yang para pendahulu kita satukan dengan sangat indah: kedalaman berpikir dan kedalaman beriman. Seolah-olah semakin kritis seseorang berpikir, semakin jauh ia dari Tuhan. Padahal Ibnu Sina membuktikan sebaliknya, bahwa empat puluh kali membaca adalah bentuk kerendahan hati di hadapan ilmu, dan kerendahan hati di hadapan ilmu adalah saudara kandung dari kerendahan hati di hadapan Pencipta ilmu itu sendiri.
Filsafat, dalam konteks masyarakat kita hari ini, bukan soal hafal nama-nama filsuf Yunani atau mampu mendebat teori epistemologi di kedai kopi. Filsafat adalah keberanian untuk bertanya mengapa sebelum menerima apa. Filsafat adalah kemampuan untuk duduk di tengah ketidakpastian tanpa langsung panik mencari jawaban instan. Filsafat adalah latihan untuk membedakan antara opini yang keras dan argumen yang kuat, sebuah keterampilan yang sangat kita butuhkan di zaman di mana kebisingan informasi dan hoaks bisa dengan mudah menjelma menjadi keyakinan.
Dan inilah yang membuat ketidakhadiran filsafat dalam keseharian kita menjadi masalah yang jauh lebih serius dari sekadar kurikulum di sekolah.
Ketika seseorang tidak terlatih berpikir filosofis, ia mudah menelan narasi pertama yang datang kepadanya karena narasi itu terasa pasti, terasa lengkap, terasa tidak perlu dipertanyakan. Sementara kenyataan selalu lebih kompleks dari narasi mana pun. Masyarakat yang tidak terbiasa hidup dengan kebingungan yang produktif adalah masyarakat yang rentan: rentan terhadap dogma yang menyamar sebagai agama, rentan terhadap propaganda yang menyamar sebagai kebenaran, rentan terhadap simplikasi yang menyamar sebagai kebijaksanaan.
Ibnu Sina selamat dari jebakan itu bukan karena ia lebih pintar dari semua orang, melainkan karena ia tidak menyamakan belum mengerti dengan tidak perlu mengerti. Ia tahu perbedaan antara batas kemampuannya dan batas dari ilmu itu sendiri. Dan ia terus bergerak di celah itu terus-menerus, dengan sabar, dengan rendah hati, dengan gigih.
Masyarakat Indonesia tidak kekurangan kecerdasan. Yang sering kita kekurangan adalah budaya yang memberi izin pada kecerdasan untuk bekerja dengan bebas, bebas bertanya, bebas tidak tahu, bebas membenturkan diri pada tembok sampai tembok itu retak. Selama kebingungan masih kita anggap aib, selama pertanyaan kritis masih kita curigai sebagai bibit kesesatan, kita akan terus mencetak generasi yang hafal banyak hal tetapi tidak mengerti apa-apa, persis seperti Ibnu Sina sebelum ia menemukan buku Al-Farabi itu, bedanya: Ibnu Sina tidak berhenti.[]

Baca Juga:  Kemana Akar Pendidikan Kita?

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB