Binanews.id — Berasal dari keluarga sederhana tidak menghalangi Aliyah Sakinah untuk memiliki mimpi besar. Putri seorang pekerja tambal ban dan ibu rumah tangga ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan.
Alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al Islami (UQI) Bogor tersebut berhasil melanjutkan pendidikan ke IPB University hingga kemudian menembus pendidikan tinggi di Eropa. Ia menempuh studi Sustainable Aquaculture di Universiteit Gent, Belgia, melalui beasiswa LPDP. Perjalanan Aliyah menuju Eropa tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang, kegagalan, dan perjuangan yang harus dilalui.
Aliyah Sakinah lahir di Bogor. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 1 Cisarua, kemudian melanjutkan ke Yayasan Pendidikan Cisarua (YPC). Sejak kecil, Aliyah mendapat pesan sederhana dari kedua orang tuanya yang kemudian menjadi prinsip dalam kehidupannya. “sekolah yang bener, jangan berbuat macam-macam yang bisa mengganggu sekolah” Pesan tersebut bukan membuat Aliyah membatasi mimpinya. Sebaliknya, pesan itu menjadi pengingat agar ia tetap rendah hati dan mengetahui kemampuan dirinya ketika mengejar sesuatu.
Menjadi Santri UQI dan Mulai Bermimpi ke Luar Negeri
Aliyah kemudian melanjutkan pendidikan di Pesantren Modern Ummul Quro Al Islami Bogor sebagai santri kelas 1PK.
Ketika menjadi santri, keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri sebenarnya sudah mulai tumbuh. Salah satu pemicunya adalah nasihat pimpinan pesantren, Kiai Helmy Abdul Mubin, Lc.
“Lihat kakak-kakak kalian di luar sana yang berhasil belajar di luar negeri,” demikian salah satu pesan yang masih diingat Aliyah.
Saat itu, menurut Aliyah, alumni pesantren yang melanjutkan studi ke luar negeri lebih banyak menuju negara-negara Timur Tengah. Sementara alumni yang melanjutkan pendidikan ke Eropa masih relatif sedikit.
Di lingkungan pesantren, Aliyah juga menemukan sosok guru yang menginspirasinya, yakni Ustazah Dede Iik Mudrikah. Ia mengaku tidak selalu mendapatkan nasihat secara langsung dari sang guru, tetapi metode mengajar dan kemampuan bahasa Inggris Ustazah Dede Iik Mudrikah membuatnya termotivasi.
“Dulu panutan saya adalah Ustazah Dede Iik Mudrikah. Beliau banyak memberikan nasihat, dan cara beliau mengajarnya yang baik, bahasa Inggrisnya juga baik, hal itu menginspirasi saya,” ungkapnya.
Selain belajar, Aliyah aktif mengikuti berbagai kegiatan pesantren. Ia terlibat dalam Pramuka, teater, dan drum band. Ia juga beberapa kali mengikuti perlombaan kepramukaan yang mewakili pesantren.
Dari UQI Menuju IPB
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Modern Ummul Quro Al Islami, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi datang.
Aliyah mendapat tawaran dari Ustaz Asep Umar untuk mengikuti program beasiswa santri berprestasi. Kesempatan tersebut membawanya ke IPB University dengan mengambil program studi Akuakultur.
Selama menjadi mahasiswa IPB, Aliyah tidak terlalu aktif dalam organisasi. Ia lebih banyak terlibat dalam kegiatan kepanitiaan dan kegiatan akademik.
“Selama kuliah gak terlalu aktif di organisasi, hanya di Himpunan Mahasiswa saja. Lebih aktif di kepanitiaan seperti acara seminar, expo, ospek, forum dialog para ahli perikanan dan lainnya,” ujarnya.
Di bidang akademik, Aliyah dan Timnya di IPB memperoleh pendanaan dua proposal dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk inovasi dalam bidang perikanan. Ia juga dipercaya menjadi teaching assistant di laboratorium. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting sebelum dirinya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Kembali ke Pesantren, Mimpi ke Luar Negeri kembali Tumbuh
Setelah menyelesaikan pendidikan di IPB, Aliyah memilih kembali mengabdikan diri di pesantren. Ia aktif mengajar dan menjalani kehidupan sebagai bagian dari lingkungan pendidikan yang membesarkannya.
Namun, keinginan untuk kembali melanjutkan pendidikan ke luar negeri ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Harapan itu kembali tumbuh ketika Aliyah sering mendengar nasihat Kiai Helmy kepada para santri.
“Anak-anakku, lihat kakak kelasmu yang berhasil belajar ke luar negeri.”
Pada saat yang sama, Aliyah memperoleh informasi bahwa salah seorang alumni UQI, Aziz Awwaludin, berhasil melanjutkan pendidikan ke Australia.
Ia kemudian mencoba menghubungi seniornya tersebut untuk mencari tahu bagaimana proses mendapatkan beasiswa dan apa saja yang harus dipersiapkan.
“Rasa ingin lanjut keluar negeri muncul lagi setelah mendengar nasihat dari Pak Kiai. Nah, akhirnya dari situ saya dapat kabar kalau ada alumni Ummul Quro yang belajar di Australia. Akhirnya saya coba tanya-tanya beliau, caranya bagaimana, syaratnya apa saja dan apa saja yang harus disiapkan,” tuturnya.
Empat Kali IELTS, Sebelum Akhirnya Berhasil
Perjalanan menuju Eropa ternyata tidak mudah. Aliyah mengikuti seleksi beasiswa LPDP dan berhasil lolos. Namun, tantangan berikutnya datang dari persyaratan kemampuan bahasa Inggris.
Nilai IELTS yang diperolehnya belum memenuhi persyaratan.
Aliyah tidak menyerah. Ia kembali mempersiapkan diri dan mengikuti tes IELTS berulang kali.
“Tiga kali test IELTS saya gagal. Akhirnya setelah keempat kali berhasil pada akhir 2018,” katanya.
Kegigihan tersebut akhirnya membuka jalan bagi Aliyah untuk berangkat ke Belgia pada September 2019.
Ia kemudian menempuh pendidikan Sustainable Aquaculture di Universiteit Gent, salah satu perguruan tinggi ternama di Belgia.
Merasakan Sistem Pendidikan Tinggi Eropa
Belajar di Belgia memberikan pengalaman baru bagi Aliyah. Ia merasakan sistem pendidikan yang menurutnya sangat sistematis dan terstruktur.
Berbagai sumber belajar telah disediakan bagi mahasiswa. Materi perkuliahan dapat diakses melalui platform pembelajaran bahkan sebelum kelas berlangsung.
“Sehari sebelum perkuliahan dimulai, materi sudah ada di platform yang disediakan sehingga mahasiswa bisa belajar terlebih dahulu,” jelasnya.
Akses terhadap jurnal internasional juga relatif mudah. Mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai sumber akademik untuk mendukung proses pembelajaran.
Menurut Aliyah, interaksi dengan dosen juga sangat terbuka. Mahasiswa memiliki waktu khusus untuk bertemu dan berdiskusi dengan dosen.
Menariknya, meskipun tercatat sebagai mahasiswa Universiteit Gent, kegiatan perkuliahan tidak selalu berlangsung di Kota Gent. Ia beberapa kali mengikuti kegiatan akademik di kota lain, bahkan mengikuti kelas di Belanda dan Prancis.
Menjadi Muslim di Tengah Kehidupan Eropa
Di balik pengalaman akademik yang menarik, Aliyah juga menghadapi tantangan sebagai seorang Muslim yang hidup di negara Eropa.
Salah satu tantangan yang dirasakan adalah sulitnya menemukan makanan halal, menjalankan ibadah, hingga menghadapi tindakan rasisme.
“Karena kita minoritas, nyari makanan halal susah. Terkadang kita juga menghadapi tindakan rasisme, bikin takut juga. Puasa di sana juga sampai 18 jam,” katanya.
Persoalan lain adalah mencari tempat untuk melaksanakan salat.
Dalam kondisi tertentu, Aliyah bahkan harus mencari tempat yang memungkinkan untuk beribadah.
“Saya pernah salat di bawah tangga, di tempat parkir, gudang, pokoknya tempat yang bisa dipakai buat salat,” ujarnya.
Ia juga pernah merasakan kekhawatiran karena identitasnya sebagai Muslim yang mengenakan hijab.
Menurut Aliyah, situasi tersebut semakin terasa ketika muncul aksi atau sentimen anti-hijab dan anti-Muslim.
Pengalaman serupa juga dirasakan ketika pandemi Covid-19. Sebagai warga Asia yang tinggal di Eropa, Aliyah mengaku pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.
“Saat Covid itu terasa juga. Karena saya warga Asia yang belajar disana, pernah kena intimidasi oleh oknum warga, dicap sebagai pembawa virus dan disuruh kembali ke negara asal.” tuturnya.
Namun, berbagai pengalaman tersebut tidak membuat Aliyah berhenti. Justru pengalaman hidup di Eropa memperkaya perspektifnya tentang pendidikan, keberagaman, toleransi, dan perjuangan sebagai seorang Muslim di negeri orang.
Dari Belgia Menuju United Nations
Aliyah kembali ke Indonesia pada 2021 setelah menyelesaikan pendidikannya di Belgia.
Sekembalinya ke tanah air, ia mulai mencari berbagai peluang profesional. Hingga akhirnya, ia memperoleh kesempatan untuk mengikuti program magang di United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), salah satu badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kesempatan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan karier Aliyah.
“Saya pulang dari Belgia itu tahun 2021. Setelah itu coba apply-apply, lalu dapat kesempatan magang di UNIDO dan alhamdulillah sampai sekarang,” katanya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang ditempuhnya tidak berhenti pada gelar akademik. Pengalaman di UQI, IPB, Belgia, hingga lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi rangkaian perjalanan yang terus membentuk dirinya.
Pesan Aliyah untuk Anak Muda
Bagi Aliyah, pengalaman hidup menjadi bukti bahwa pendidikan dapat membuka jalan bagi seseorang untuk mengubah masa depan.
Ia secara khusus berpesan kepada anak-anak muda yang berasal dari keluarga kurang mampu agar tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai alasan untuk berhenti sekolah.
“Kalau memang berasal dari keluarga yang tidak berada, harusnya lebih termotivasiatau terdorong lagi untuk sekolah tinggi karena itu yang akan menyelamatkan kita, mau kuliah S1 dan S2. Kehidupan ini kan persaingannya ketat,” ujarnya.
Menurutnya, peluang beasiswa sebenarnya cukup terbuka. Namun, mendapatkan beasiswa membutuhkan persiapan panjang dan proses yang tidak selalu mudah.
“Beasiswa gak sulit, tapi persiapan dan perjalanannya yang panjang. Maka kitanya harus sabar untuk menyusuri perjalanan tersebut,” katanya.
Kisah Aliyah menjadi gambaran bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari keluarga berada. Seorang anak dari keluarga sederhana, yang tumbuh dengan nasihat agar “tahu diri dan mengukur diri”, justru mampu mengukur dirinya untuk kemudian melangkah jauh dari Cisarua, UQI, IPB, hingga kampus di Eropa dan lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perjalanannya juga menunjukkan satu hal: keterbatasan ekonomi mungkin mempersempit pilihan, tetapi pendidikan, keberanian mencoba, dan kegigihan dapat membuka jalan yang lebih luas.[]
Editor : Fathurroji









