Binanews.id | Bogor–Apa jadinya jika sisa potongan buah dan kulit buah yang biasanya langsung berakhir di tong sampah dapur, kini disulap menjadi camilan lezat yang berdaya jual tinggi? Inovasi inilah yang dihadirkan oleh tim IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) kepada warga Desa Wisata Pentingsari pada Minggu (11/10/2026). Dospulkam adalah program pengabdian skala nasional dari IPB, di mana tim ini adalah salah satu dari sekian banyak tim dosen yang terjun ke berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan pelatihan pengolahan produk pangan ini menjadi salah satu sesi yang paling mencuri perhatian warga, terutama kaum ibu-ibu yang merupakan pengelola desa wisata, pengelola homestay dan warung makan. Mereka antusias melihat limbah yang biasanya merepotkan dan terbuang ternyata memiliki potensi menjanjikan.
Sentuhan Ahli Gizi, Ubah Limbah Jadi “Cuan”
Untuk memastikan kualitas olahan limbah pangan ini tidak hanya bisa dimakan, tetapi juga lezat, higienis, dan layak dijual ke wisatawan, tim IPB menghadirkan ahlinya. Firman Muhammad Basar, Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi IPB, hadir untuk memandu sesi pelatihan ini secara langsung.
Di bawah arahan Firman, warga diajak untuk menyadari potensi besar dari sisa buah-buahan apkir (imperfect produce) dan kulit buah—seperti kulit buah naga, kuliah buah melon dan bagian putih kulit semangka—yang kerap terbuang begitu saja dari meja makan penginapan.
“Kulit buah ini sebenarnya menyimpan potensi rasa dan tekstur yang luar biasa jika kita paham teknik mengolahnya. Hari ini, kita belajar tahapan produksinya secara higienis, mulai dari menetralisir rasa pahit dan getah menggunakan air garam, menguatkan teksturnya dengan air kapur sirih agar renyah, hingga tahapan pemasakannya,” jelas Firman dengan detail.
Firman kemudian mendemonstrasikan secara langsung tahapan menyulap kulit buah tersebut menjadi dua jenis produk unggulan: manisan legit dan keripik renyah. Para peserta diajarkan teknik merebus kulit buah dengan larutan gula pekat beraroma kayu manis untuk dijadikan manisan kering. Selain itu, Firman juga mengenalkan prinsip penggorengan vakum suhu rendah (vacuum frying) agar manisan kulit buah yang dihasilkan tetap renyah tanpa merusak warna dan teksturnya.
Kemandirian Pangan dan Suvenir Otentik Desa
Hasil olahan inovatif ini tidak hanya sekadar bisa dikonsumsi sendiri oleh warga, tetapi diproyeksikan secara serius menjadi produk suvenir unggulan Desa Wisata Pentingsari. Dengan teknik pengemasan kedap udara dan pelabelan yang menarik dan informatif, camilan olahan limbah ini memiliki nilai tambah ekonomi yang sangat tinggi.
“Harapannya, melalui pelatihan ini masyarakat benar-benar bisa mandiri menghasilkan produk camilan yang lezat, unik, dan berdaya jual. Wisatawan yang datang nantinya tidak hanya menikmati pemandangan alam Pentingsari, tapi bisa berbelanja dan membawa pulang oleh-oleh khas, yang diolah langsung oleh warga dari hasil penerapan prinsip pariwisata bebas sampah (Zero Waste),” tutur Firman optimis.
Ketua Tim Dospulkam IPB, Rici Tri Harpin Pranata, juga menekankan bahwa inovasi kuliner ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang. “Kami berharap ke depannya hasil kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi bisa dikembangkan menjadi salah satu objek wisata mandiri,” tuturnya. Menyambut baik inisiatif tersebut, Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Ibu Ciptaningtyas, mengungkapkan harapan besarnya agar program ini dapat berlanjut di masa depan. “Program dari IPB ini sangat baik sekali, harapan saya apa yang diajarkan oleh tim tidak sampai di sini saja. Semoga inovasi ini dapat terus diterapkan secara berkelanjutan untuk mendukung kelestarian eduwisata kita,” jelas Ibu Ciptaningtyas.









