Binanews.id | Jakarta–Dulu saat awal nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor, saya dihadapkan dengan pertanyaan, “Ke Gontor, apa yang kau cari?”. Ini sebenarnya pertanyaan Kiyai kepada para santri yang datang ke pesantrennya.
Pertanyaan itu sangat menyentakkan kesadaranku. Apa sih sebenarnya yang ingin saya peroleh dari Gontor? Kenapa saya jauh-jauh memilih Gontor sebagai persinggahan dalam hidupku, padahal ada banyak pesantren dan sekolah di sekitar rumahku.
Setiap santri mungkin memiliki jawaban berbeda atas pertanyaan tersebut. Ada yang datang ke Gontor karena mengikuti jejak ayahnya, kakaknya atau kerabatnya. Ada yang ke Gontor karena ingin menjadi ustadz, ulama, cendekiawan muslim atau menjadi tokoh-tokoh lain yang menjadi preferensinya.
Saya sendiri masuk Gontor murni karena birrul walidain, ingin berbakti kepada orangtua, manut dawuh orangtua, karena ayahku menginginkanku mondok di situ.
Meskipun berawal dari sedikit ‘terpaksa’, lama-lama saya merasakan sendiri bahwa memang ada sesuatu yang lain yang saya peroleh dengan nyantri di Gontor.
Ada banyak nilai-nilai yang menyatu dalam laku hidup yang mungkin tidak saya peroleh jika menuntut ilmu di tempat lain. Gontor tidak hanya mengajarkan ilmu, keterampilan, kecakapan dan kemandirian. Gontor menanamkan falsafah dan nilai-nilai yang diperlukan dalam hidup.
Di Gontor, nilai-nilai itu bukan hanya menjadi narasi yang diajarkan melalui lisan. Nilai-nilai itu menjadi nafas yang menjiwai kehidupan sehari-hari para santri, guru dan kiyai. Inilah yang menjadikan alumni Gontor memiliki ‘shibghoh’, sebuah warna identitas yang membedakan dengan yang lain.
Ribuan alumni telah dilahirkan oleh Gontor. Mereka tersebar di seantero pelosok negeri. Sebagian lagi berpencar sebagai diaspora di berbagai belahan dunia. Mereka berkiprah di bermacam-macam profesi.
Ada yang menjadi ulama atau kiyai, cendekiawan, akademisi, diplomat, jurnalis, politisi, pegawai negeri dan swasta, militer, polisi, jaksa, hakim, pengusaha, pedagang, petani, guru dan bidang-bidang lain.
Melalui tangan para alumni Gontor, banyak pesantren, masjid, sekolah, madrasah, perguruan tinggi, lembaga-membaga Islam dan kemanusian berdiri. Tak terhitung jumlah alumninya yang mengisi mimbar-mimbar masjid, majlis-majlis taklim, forum-forum kajian dan ilmiah untuk membimbing dan mencerahkan umat. Sebagian lain mengawetkan dan mengembangkan tradisi ilmu dengan pena melalui tulisan. Sebagian lain masuk dalam pemerintahan untuk ikut berjibaku menggerakkan roda pemerintah dan mengawal perjalanan ibu pertiwi. Banyak pula yang menjadi penggerak sentra-sentra ekonomi untuk menebarkan kemanfaatan.
Kini dalam usia 100 tahun perjalanan, Gontor memanggil para alumninya untuk pulang menjenguk ‘Ibu’. Saatnya berkumpul kembali dengan para santri, kiyai, dan teman-teman dahulu. Saatnya bersujud membersamai kiyai dan santri untuk mengungkap syukur kepada Allah atas usia yang semakin matang.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Gontor, kiyai tidak bertanya lagi, “Ke Gontor, apa yang kau cari?”. Kiyai akan bertanya kepada para alumninya, “Ke Gontor, apa yang kau beri?”.
Sejatinya Gontor tidak minta apa-apa kepada para alumninya. Sesuai gagasan utama reuni “Seratus tahun merintis pendidikan holistik. Menginspirasi Dunia. Membangun peradaban”.
Dengan tema ini Gontor seakan ingin bertanya kepada para alumni. _“Sudahkan kalian penjadi inspirasi dan panutan bagi dunia kecil di sekelilingmu. Bagi keluargamu, lingkunganmu dan masyarakat di sekitarmu”. “Sudahkah kalian ikut berperan membangun peradaban (Islam)? Meski hanya menjadi sebutir pasir dan setetes semen yang tertanam dalam fondasi bangunan peradaban Islam yang kokoh?”_.
Jika kita malu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, rasanya kita harus pulang ke Gontor.
Kembali ke Gontor bukan hanya sekedar untuk bertemu dan bernostalgia dengan teman-teman saat nyantri. Kembali ke Gontor untuk menghirup oksigen Gontor yang masih bersih. Kembali ke Gontor untuk meneguk mata air yang masih murni. Kembali ke Gontor untuk menyantap nasehat dan wejangan Kiyai. Kembali ke Gontor untuk me-recharge jiwa agar lebih berenergi.
Saya teringat nasehat Kiyai agar hidup kita di masyarakat jangan menjadi orang yang wujuduhu ka’adamihi (keberadaannya seperti ketiadaannya). Hidup sekali hiduplah yang berarti, begitu petuah Kiyai.
(Jakarta, 21 Agustus 2026, Menyambut Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Gontor)
Editor : Fathurroji









