Aris Rinaldi, Tukang Kuli Galon Jadi Direktur Perusahaan. Ini Motivasi dari Kiai Helmi

Irwan Maulana

- Redaksi

Jumat, 29 Mei 2026 - 08:23 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Aris Rinaldi, pemuda berusia tiga puluh tahun ini merupakan alumni Pesantren Ummul Quro al Islami Leuwuliang Bogor asal Pamijahan. Sosok Aris merupakan sosok inspiratif terutama bagi anak-anak muda yang sedang berjuang meraih mimpi. Sosoknya yang bersahaja dan sederhana menjadikan dirinya mudah untuk didekati oleh setiap kalangan.

Bagi Aris, menjadi santri bukan hanya tentang belajar ilmu agama, tetapi juga tentang proses membentuk karakter dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan di pesantren mengajarkannya banyak hal, sampai saat ini karakter disiplinnya juga terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan di Pesantren. Menurutnya, aturan dan rutinitas yang ada di pesantren justru menjadi latihan untuk membangun tanggung jawab dan pengendalian diri.

“Waktu saya menjadi santri, saya mengikuti setiap aturan yang ada di pesantren, enggak neko-neko, waktunya belajar ya belajar, waktunya ibadah ya ibadah, waktunya makan ya makan, ternyata kebiasaan kecil ini yang membentuk kedisiplinan bagi diri saya,” ujarnya ketika wawancara dengan tim redaktur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aris menjelaskan bahwa kehidupan pesantren sangat teratur. Setiap kegiatan memiliki jadwal yang jelas, mulai dari bangun pagi, salat berjamaah, mengaji, belajar, hingga istirahat. Kebiasaan menjalani aktivitas secara tertib membuat dirinya terbiasa menghargai waktu dan menjalankan tanggung jawab dengan baik. Selain disiplin, ia juga belajar hidup mandiri dan sederhana. Tinggal jauh dari keluarga membuatnya harus mampu mengurus kebutuhan sendiri dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Di pesantren, para santri juga diajarkan untuk saling menghormati, membantu sesama, dan menjaga sikap kepada guru maupun teman.

Berhenti Kuliah Karena Tidak Ada Biaya

Selepas lulus dari Pesantren Ummul Quro Al Islami pada tahun 2014, Aris memiliki semangat yang besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Baginya, pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mengubah masa depan dan memperluas wawasan. Dengan dukungan dan ridho dari kedua orangtuanya, Aris akhirnya melanjutkan kuliah di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) mengambil jurusan Ekonomi Syariah.

Baca Juga:  Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Pilihan jurusan tersebut bukan karena ikut-ikutan teman, Aris memang memiliki ketertarikan yang kuat terhadap dunia ekonomi berbasis syariah. Ia merasa bahwa ilmu ekonomi syariah memiliki nilai yang sejalan dengan pendidikan pesantren yang telah ia jalani sebelumnya. Karena itu, ia menjalani masa awal perkuliahan dengan penuh semangat dan harapan besar agar suatu saat dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Akan tetapi, perjalanan pendidikan yang ia impikan ternyata tidak berjalan mulus. Di tengah masa kuliah, kondisi ekonomi keluarganya mengalami keterpurukan. Usaha orangtuanya mengalami penurunan hingga akhirnya jatuh dan mengalami kerugian besar. Keadaan tersebut membuat kondisi keuangan keluarga menjadi sangat sulit. Biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari mulai terasa berat untuk dipenuhi.

Melihat situasi itu, Aris merasa tidak tega apabila harus terus membebani orangtuanya. Meski memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan pendidikan, ia akhirnya mengambil keputusan yang cukup berat dalam hidupnya, yaitu berhenti kuliah dan memilih bekerja. Keputusan tersebut diambil bukan karena menyerah terhadap cita-cita, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap kondisi keluarga.

“Waktu itu saya masih semester tiga, jadi waktu dapat kabar dari orangtua usaha mereka jatuh, bahkan minus, wah itu saya nge-down yang akhirnya membuat saya untuk berhenti kuliah.”

Bekerja Menjadi Kuli Galon

Setelah memutuskan berhenti kuliah di Universitas Ibn Khaldun Bogor, Aris sempat merasa bingung menentukan arah hidupnya. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit, ia berusaha mencari pekerjaan agar tetap bisa mandiri dan membantu orangtua. Kesempatan itu datang ketika salah satu saudaranya yang memiliki usaha galon isi ulang mengajaknya bekerja.

Setiap hari Aris berkeliling mengantarkan galon ke rumah-rumah warga. Pekerjaan tersebut dijalaninya dengan penuh kesabaran meski cukup melelahkan. Namun bagi Aris, pekerjaan apa pun selama halal tetap harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Ia mengaku nilai-nilai yang diajarkan di pesantren membuatnya tidak merasa gengsi.

Baca Juga:  Hari Guru Sedunia 5 Oktober, Apa Bedanya dengan Hari Guru Nasional? Cek Sejarahnya

“Di pesantren saya diajarkan untuk tidak gengsi. Nasihat almarhum Pak Kiyai Helmi, beliau tidak ingin alumni UQI menganggur selepas lulus,” ujarnya.

Di tengah perjalanan hidupnya, sang saudara kemudian memberi nasihat agar Aris berani merantau demi mencari pengalaman dan kehidupan yang lebih baik. Nasihat itu akhirnya mendorong Aris untuk pergi ke Sukabumi dan bekerja di sana. Keputusan merantau tersebut menjadi awal perjalanan baru dalam hidupnya untuk terus belajar, berkembang, dan bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.

Bekerja di Koperasi dan Melanjutkan Studi

Saat merantau ke Sukabumi, Aris mendapatkan pekerjaan di sebuah koperasi. Pekerjaan tersebut menjadi titik awal perubahan dalam hidupnya. Perlahan, ia mulai merasakan adanya perbaikan ekonomi dibandingkan sebelumnya. Meski harus memulai dari bawah, Aris tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan.

Dalam bekerja, Aris selalu berusaha memberikan yang terbaik. Ia memegang teguh nasihat dari almarhum Kiyai Helmi di pesantrennya. “Buatlah sejarah yang baik dimanapun kamu berada.” Nasihat sederhana itu menjadi motivasi besar bagi dirinya untuk bekerja dengan maksimal.

Di tengah kesibukan pekerjaannya di koperasi, Aris mulai kembali memikirkan cita-citanya yang sempat tertunda, yaitu melanjutkan pendidikan tinggi. Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia akhirnya memutuskan untuk kembali kuliah di STAI Laa Roiba hingga lulus.

“Gak jadi masalah, kerja di Sukabumi lalu kuliah di Cibinong, hari Minggunya khusus istirahat, alhamdulillah akhirnya lulus juga.” ujarnya.

Keputusan tersebut menunjukkan semangat Aris untuk terus belajar dan memperjuangkan masa depannya meskipun harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah.

Mendirikan Perusahaan

Setelah beberapa waktu bekerja di Sukabumi, Aris akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerjanya. Ia mulai berpikir untuk membangun usaha sendiri agar memiliki kesempatan berkembang lebih besar. Dengan keberanian dan tekad yang kuat, Aris kemudian mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan barang bersama dengan saudaranya yang sekarang dikenal PT Adiguna Putra Perkasa (APP).

Perjalanan membangun usaha tidak berjalan mudah. Pada tahun-tahun pertama, Aris menghadapi banyak tantangan dan penolakan plus modal yang masih minim. Berbagai pengajuan kerja sama maupun tender yang diajukan sering kali belum membuahkan hasil. Meski demikian, ia tidak memilih menyerah. Baginya, setiap kegagalan adalah bagian dari proses belajar untuk menjadi lebih baik.

Baca Juga:  Kemendagri Gaungkan Gerakan ASRI dari Kota Bogor

Di tengah berbagai kesulitan tersebut, Aris selalu mengingat nasihat almarhum Pak Kiyai Helmi yang sangat membekas dalam hidupnya, “Ridho Allah itu ada pada ridho orangtua.” Nasihat itu menjadi pegangan kuat bagi dirinya dalam menjalani usaha. Setiap kali hendak mengajukan tender atau memulai langkah penting dalam bisnisnya, Aris selalu meminta doa dan restu dari ibunya.
“Setiap kali saya coba pengajuan tender, saya selalu minta doa ibu dan alhamdulillah perusahaan kami bisa berkembang seperti sekarang,” ujarnya.

Bagi Aris, keberhasilan bukan hanya soal kerja keras, tetapi juga tentang doa, restu orangtua, dan ketekunan dalam menghadapi setiap proses kehidupan.

Semuanya Tentang Kebermanfaatan

Bagi Aris, membangun perusahaan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi atau memperkaya diri. Ia memiliki keyakinan bahwa usaha yang dijalankan harus mampu memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama lingkungan sekitar. Karena itu, sejak awal mendirikan perusahaan, ia selalu berusaha menanamkan nilai kebermanfaatan dalam setiap langkah usahanya.

“Niat saya buka usaha ini supaya bisa memberikan manfaat. Saya ingat nasihat Ustadz Niam waktu di pesantren, siapa yang menanam maka akan menuai, jadi terus saja menanam hingga nanti suatu saat akan datang waktu kita menuai,” ujarnya.

Nasihat tersebut menjadi pegangan hidup Aris dalam bekerja dan menjalankan usaha. Ia percaya bahwa setiap kebaikan yang dilakukan, sekecil apa pun, akan memberikan hasil di kemudian hari. Karena itu, ia tidak hanya fokus pada perkembangan bisnis, tetapi juga berupaya membantu sesama melalui berbagai bentuk kepedulian.

Selain itu, Aris juga sangat berhati-hati dalam mengelola keuangan perusahaan. Ia khawatir apabila di dalam harta perusahaan terdapat hak orang lain yang belum ditunaikan. Oleh sebab itu, perusahaannya selalu berkomitmen untuk mengeluarkan zakat dan sedekah. Baginya, keberkahan usaha tidak hanya berasal dari keuntungan, tetapi juga dari kejujuran serta kepedulian terhadap sesama.[]

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB