Binanews.id | Bogor- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot tajam. Sejumlah pihak khawatir hal itu bisa berdampak ke berbagai sektor, termasuk menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Akademisi dan pakar ekonomi dari sejumlah kampus terkemuka di Malang memberikan beberapa tips agar warga bisa bertahan menghadapi dampak dari kondisi tersebut.
Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Saifullah, Kamis (04/06/2026), mengatakan, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS biasanya terjadi ketika permintaan dolar meningkat lebih tinggi dibandingkan rupiah.
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi ekonomi global, suku bunga AS naik, impor tinggi, ketidakpastian politik atau ekonomi, hingga keluarnya investasi asing dari Indonesia.
”Ketika rupiah melemah, dampaknya tidak langsung terasa sekaligus. Akan tetapi, dampaknya secara perlahan mempengaruhi harga barang, biaya hidup, usaha, hingga daya beli masyarakat,” katanya.
Dampak yang perlu diwaspadai masyarakat, menurut Yunan, misalnya kenaikan barang impor dan barang dengan bahan baku impor. Hal ini karena produk itu dibeli dengan dolar. Akibatnya, harga jual ke konsumen ikut naik.
Beberapa produk kemungkinan mengalami kenaikan harga, seperti elektronik, gawai, laptop, suku cadang kendaraan, obat-obatan tertentu, dan bahan pangan impor.
”Selain itu, BBM dan biaya transportasi berpotensi naik. Ini karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor minyak dan energi. Maka, saat dolar naik, biaya impor energi meningkat, ongkos distribusi naik, dan harga transportasi bisa terdampak naik. Kalau hal itu berlangsung lama, efeknya bisa menjalar ke naiknya harga kebutuhan sehari-hari,” ungkap Yunan.
Lebih parahnya lagi, jika kondisi ini tidak tertangani, dunia usaha, menurut Yunan, bisa tertekan. Bisnis yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami turunnya margin keuntungan dan kenaikan biaya produksi.
Jika kondisi memburuk, mereka bisa terdesak untuk mengurangi tenaga kerja.
Adapun Tips untuk masyarakat agar dapat bertahan dengan kondisi yang tidak pasti seperti sekarang ini.
Pertama, kurangi pengeluaran yang bergantung pada barang impor. Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu. Tunda pembelian barang sensitif terhadap dolar, seperti gawai baru, barang elektronik nonprioritas, atau barang hobi impor. Harga produk-produk tersebut diprediksi akan terus naik seiring berjalan nya kurs dolar.
Kedua, perkuat dana darurat anda. Saat ekonomi tidak stabil, dana darurat menjadi sangat penting. Idealnya, nilai dana darurat adalah 3-6 bulan pengeluaran rutin untuk karyawan atau 6-12 bulan untuk freelancer atau pengusaha. Dana itu bisa disimpan di instrumen yang mudah dicairkan.
ketiga, hindari utang konsumtif. Seperti paylater berlebihan, cicilan konsumsi, atau hutang berbunga tinggi. Dalam kondisi ekonomi melemah, kemampuan membayar anda bisa ikut tertekan.
keempat, fokus pada peningkatan skill (kemampuan) dan pendapatan. Dengan update kemampuan, kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji seperti berbisnis, berdagang, atau kegiatan lain nya.









