Binanews.id | Pohon durian sering dianggap lebih berharga dibanding pohon jambu air. Bukan karena batangnya lebih besar atau tingginya menjulang lebih gagah, melainkan karena buah yang dihasilkannya memiliki nilai yang lebih tinggi. Pertanyaannya sederhana: mengapa durian lebih mahal? Jawaban yang paling jujur barangkali karena rasanya yang dianggap lebih nikmat oleh banyak orang.
Dari situ, kita belajar satu hal mendasar: nilai tidak selalu ditentukan oleh tampilan luar, tetapi oleh apa yang dihasilkan. Jika pohon dikenang karena buahnya, maka manusia dikenang karena perbuatannya.
Perbuatan manusia setidaknya terbagi menjadi dua. Pertama, yang bersifat nyata, karya yang bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan langsung. Kedua, yang bersifat abstrak, jasa yang mungkin tak berwujud, tetapi dampaknya hidup dalam ingatan banyak orang.
Kita tidak pernah bertemu dengan Sir Thomas Alva Edison, namun hampir semua dari kita mengenal namanya. Dari sebuah bola lampu yang ia ciptakan, namanya melampaui zaman. Ia telah tiada, tetapi karyanya membuatnya tetap hadir di tengah kehidupan manusia. Begitu pula Sunan Ampel. Berabad-abad telah berlalu sejak beliau wafat, namun jasanya dalam menyebarkan Islam di Nusantara membuat namanya terus hidup. Makamnya tak pernah sepi dari peziarah, menjadi bukti bahwa jasa mampu melampaui batas usia.
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi…,” tulis Khairil Anwar dalam ungkapan yang terasa teatrikal. Ia memang wafat di usia muda, namun kata-katanya seakan menemukan jalannya sendiri menuju keabadian. Hari ini, ia tetap dikenang sebagai pelopor Angkatan 45 dalam dunia sastra Indonesia. Umur boleh berhenti, tetapi karya membuat seseorang terus berjalan.
Di hadapan kita, terbentang beribu bahkan berjuta lembar kosong dari sebuah buku bernama kehidupan. Sejak lahir, kita telah dibekali pena dan tinta oleh orang tua, meski sering kali seadanya. Dengan itulah kita mulai menulis. Jika tinta itu terasa kurang, kehidupan menyediakan banyak sumber lain di setiap jengkal langkah yang kita tempuh.
Setiap keberhasilan adalah cerita yang layak ditulis. Setiap kegagalan adalah pelajaran yang perlu dicatat. Setiap pengalaman adalah guratan penting yang membentuk siapa kita. Karena sesungguhnya, guru terbaik dalam hidup adalah pengalaman itu sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” Dari sini, arah hidup menjadi lebih jelas: bukan sekadar menjadi, tetapi memberi.
Menjadi manusia yang berjasa tidak harus menunggu panggung besar. Ia tidak mensyaratkan jabatan, tidak menuntut popularitas, tidak dibatasi usia, bahkan tidak bergantung pada kekayaan. Berjasa adalah dorongan alami manusia untuk menjalankan fungsi terbaiknya sebagai khoirul makhluk, makhluk yang dimuliakan karena kemampuannya memberi manfaat.
Manusia yang ringan tangan membantu sesama adalah mereka yang telah memahami hakikat dirinya sebagai makhluk sosial. Sebaliknya, ketika bantuan yang diberikan masih menyimpan harapan akan balasan, di situlah nilai itu mulai berkurang. Keikhlasan adalah ruh dari setiap perbuatan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa banyak manfaat yang kita hasilkan. Seperti pohon yang tak diukur dari batangnya, tetapi dari buahnya, manusia pun akan dikenang bukan dari apa yang ia miliki, melainkan dari apa yang ia berikan.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “seberapa besar kita hari ini,” melainkan “buah apa yang sudah kita hasilkan untuk orang lain?” Karena boleh jadi, dari situlah nama kita akan tetap hidup, bahkan ketika kita telah lama tiada.[]









