Sandro dan Dunia Digital

Oleh: Nurodin (Dosen Universitas Islam Bogor)

Prabu

- Redaksi

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Perkembangan kehidupan manusia telah bertransformasi pada zaman berkemajuan teknologi yang menghadirkan berbagai tantangan dan dinamika hidup pada masyarakat modern. Praktik tradisional seperti “Sandro” atau pendekatan religius melalui konseling Islam. Keduanya sama-sama menawarkan jalan keluar berbasis spiritual, namun memiliki landasan dan metode yang berbeda.

Sandro, yang dikenal sebagai dukun di sejumlah daerah di Indonesia, kerap menjadi rujukan masyarakat untuk berbagai persoalan, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga urusan pribadi. Kini, praktik tersebut bahkan berkembang ke ranah digital melalui platform seperti TikTok dan WhatsApp, memperluas jangkauan layanan mereka. Konseling Islam hadir sebagai alternatif yang berlandaskan ajaran agama. Pendekatan ini menekankan pada bimbingan spiritual melalui Al-Qur’an, hadis, serta nilai-nilai keislaman, dengan tujuan membantu individu memahami masalah dan menemukan solusi tanpa melibatkan praktik mistis.

Baca Juga:  Menyalakan Pelita Tasawuf di Tengah Badai Megatrend

Sejumlah ulama menilai bahwa praktik perdukunan, termasuk Sandro, berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid apabila mengandung unsur meminta bantuan selain kepada Tuhan atau menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat. Mmasyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam memilih bentuk bantuan spiritual. Pakar bimbingan dan konseling Islam menjelaskan bahwa layanan konseling tidak hanya berfokus pada aspek religius, tetapi juga mempertimbangkan kondisi psikologis individu. Pendekatan ini dinilai lebih aman karena tidak melibatkan unsur penipuan atau eksploitasi, serta mendorong kemandirian dalam menghadapi masalah.

Baca Juga:  Anatomi Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9 Faktor Penghambat Kemajuan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga:  Siswa RI Borong Prestasi di Olimpiade Geografi Internasional, Perkenalkan Sistem Ronda

Fenomena masih kuatnya kepercayaan terhadap Sandro menunjukkan bahwa faktor budaya, tradisi, dan kebutuhan akan solusi cepat masih memengaruhi pilihan masyarakat. Minimnya literasi keagamaan dan digital juga menjadi tantangan tersendiri. Ke depan, diperlukan peran aktif berbagai pihak, termasuk tokoh agama, pendidik, dan pemerintah, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memilih layanan yang tidak hanya efektif, tetapi juga sesuai dengan nilai agama dan hukum yang berlaku.[]

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB