Binanews.id | Perkembangan kehidupan manusia telah bertransformasi pada zaman berkemajuan teknologi yang menghadirkan berbagai tantangan dan dinamika hidup pada masyarakat modern. Praktik tradisional seperti “Sandro” atau pendekatan religius melalui konseling Islam. Keduanya sama-sama menawarkan jalan keluar berbasis spiritual, namun memiliki landasan dan metode yang berbeda.
Sandro, yang dikenal sebagai dukun di sejumlah daerah di Indonesia, kerap menjadi rujukan masyarakat untuk berbagai persoalan, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga urusan pribadi. Kini, praktik tersebut bahkan berkembang ke ranah digital melalui platform seperti TikTok dan WhatsApp, memperluas jangkauan layanan mereka. Konseling Islam hadir sebagai alternatif yang berlandaskan ajaran agama. Pendekatan ini menekankan pada bimbingan spiritual melalui Al-Qur’an, hadis, serta nilai-nilai keislaman, dengan tujuan membantu individu memahami masalah dan menemukan solusi tanpa melibatkan praktik mistis.
Sejumlah ulama menilai bahwa praktik perdukunan, termasuk Sandro, berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid apabila mengandung unsur meminta bantuan selain kepada Tuhan atau menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat. Mmasyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam memilih bentuk bantuan spiritual. Pakar bimbingan dan konseling Islam menjelaskan bahwa layanan konseling tidak hanya berfokus pada aspek religius, tetapi juga mempertimbangkan kondisi psikologis individu. Pendekatan ini dinilai lebih aman karena tidak melibatkan unsur penipuan atau eksploitasi, serta mendorong kemandirian dalam menghadapi masalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena masih kuatnya kepercayaan terhadap Sandro menunjukkan bahwa faktor budaya, tradisi, dan kebutuhan akan solusi cepat masih memengaruhi pilihan masyarakat. Minimnya literasi keagamaan dan digital juga menjadi tantangan tersendiri. Ke depan, diperlukan peran aktif berbagai pihak, termasuk tokoh agama, pendidik, dan pemerintah, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memilih layanan yang tidak hanya efektif, tetapi juga sesuai dengan nilai agama dan hukum yang berlaku.[]









