Pendidikan Spiritual Sufistik sebagai Solusi Holistik untuk Kesehatan Mental Remaja Indonesia

Saiful Falah

Bisyral

- Redaksi

Selasa, 28 April 2026 - 06:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor – Fenomena meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja Indonesia menegaskan urgensi isu yang selama ini kerap berada di bawah permukaan perhatian publik.
‎
‎Datata Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 34,9% setara dengan sekitar 15,5 juta remaja berusia 10–17 tahun, mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
‎
‎Gangguan yang paling banyak dilaporkan meliputi depresi, kecemasan, stres pascatrauma, masalah perilaku, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).
‎
‎Dari keseluruhan temuan tersebut, 5,5% setara 2,45 juta remaja Indonesia memenuhi kriteria gangguan mental yang diakui secara klinis, dengan gangguan kecemasan sebagai diagnosis yang paling dominan.
‎
‎Meskipun prevalensinya tidak menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin secara umum, pola variasi tetap terlihat, seperti tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada remaja perempuan dan tingkat hiperaktivitas yang lebih tinggi pada remaja laki-laki.
‎
‎Yang lebih mengkhawatirkan adalah rendahnya tingkat pemanfaatan layanan kesehatan mental oleh remaja. Hanya 2,6% remaja yang melaporkan pernah mengakses layanan dukungan atau konseling dalam satu tahun terakhir.
‎
‎Mayoritas memilih menangani permasalahan secara mandiri atau melalui dukungan informal dari teman dan keluarga, sebuah kecenderungan yang mencerminkan kuatnya stigma sosial dan rendahnya literasi kesehatan mental dalam masyarakat. Sebagian besar pengasuh utama memilih untuk menangani masalah tersebut secara mandiri, sementara hambatan stigma, minimnya literasi kesehatan mental, serta akses yang terbatas menjadikan remaja sulit mendapatkan intervensi yang tepat.
‎
‎Situasi krisis kesehatan mental remaja saat ini merupakan ancaman serius terhadap masa depan bangsa, karena kualitas sumber daya manusia sangat bergantung pada kondisi mental generasi muda.
‎
‎Dalam konteks Indonesia, peluang besar terbuka untuk menggunakan pendekatan yang inklusif, kontekstual, dan mudah diakses, mengingat mayoritas penduduk Indonesia, sekitar 86–87% atau sekitar 244–247 juta jiwa tahun 2025, menganut agama Islam.
‎
‎Hal ini menandakan bahwa pendekatan kesehatan mental yang mengintegrasikan nilai dan budaya Islam, khususnya pendidikan spiritual sufistik, memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas.

Baca Juga:  PROUI Dukung Prabowo Libatkan Kampus Benahi Tata Kelola Kopdes Merah Putih

‎Pendidikan Spiritual Sufistik

‎Pendidikan spritual tampaknya sudah banyak dibahas secara luas oleh berbagai ahli.

Salah satunya Ahmad Suhailah, dia mengemukakan pendidikan spiritual adalah penanaman cinta Allah di dalam hati peserta didik yang menjadikannya mengharapkan ridha Allah SWT di setiap ucapan, perbuatan, sikap, dan tingkah laku, kemudian menjauhi hal-hal yang menyebabkan murka-Nya (Aziz, 2017).
‎
‎Pendidikan spiritual berbasis sufistik dapat pahami sebagai sebuah upaya sadar dan terencana dalam menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT. melalui upaya memperkenalkan asma dan keagungan-Nya sebagai Tuhan yang harus disembah, ditaati serta dilaksanakan segala aturan, ketentuan dan petunjuk-Nya, baik secara lahiriah maupun ruhaniah melalui latihan pembersihan jiwa sehingga terlahir jiwa yang suci, akal yang bercahaya, akhlak yang mulia serta badan yang bersih dan sehat.

Baca Juga:  5 Hal Penyakit Ginjal yang Sering Disalahpahami, Nggak selalu Cuci Darah

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perihal tersebut disebabkan adanya hubungan yang kokoh antara diri seseorang dengan Allah SWT senantiasa ridha dan pasrah sekaligus yakin akan pertolongan, hidayah dan taufik-Nya (Rohman, 2017).

‎Strategi pendidikan spiritual dipahami sebagai cara bagaimana mengajarkan pendidikan spiritual kepada anak sehingga diharapkan mereka mengalami pertumbuhan dan perkembangan spiritual secara optimal.

‎Secara umum, para remaja menunjukkan semangat belajar yang tinggi serta keterikatan kuat terhadap nilai-nilai agama dan keluarga. Namun, hasil observasi dan wawancara dengan guru dan siswa menunjukkan bahwa tantangan kesehatan mental tetap signifikan, terutama akibat pengaruh lingkungan sosial, tekanan akademik, serta posisi mereka sebagai minoritas di negara dengan mayoritas non-Muslim.

Baca Juga:  Rekonstruksi Pengalaman Belajar, Upaya Meminimalisir Pengangguran Terdidik

Meskipun tumbuh dalam lingkungan sekolah yang religius, para remaja menghadapi kompleksitas identitas ganda sebagai warga negara Thailand sekaligus bagian dari komunitas Muslim Melayu. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan konflik identitas, terutama ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan luar yang lebih sekuler.

Selain itu, beberapa wilayah di Yala masih memiliki dinamika keamanan yang belum sepenuhnya stabil, sehingga sebagian remaja menyimpan kecemasan laten terkait situasi sosial dan politik setempat.

Berbagai faktor tersebut memperkuat kebutuhan akan dukungan emosional dan terciptanya lingkungan sekolah yang aman secara psikologis bagi perkembangan mereka.

‎Implementasi dan pengembangan lebih lanjut melalui sistem pendidikan dan layanan sosial dapat menutup akses yang selama ini terbatas, mengurangi stigma, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia utuh secara fisik, mental, dan spiritual.

Rekomendasi ini bukan sekadar aspirasi, melainkan panggilan untuk aksi nyata berbasis bukti ilmiah dan pengalaman lapangan yang mendalam. Masa depan bangsa terletak pada kesehatan mental generasi muda, dan sufisme adalah kunci untuk menguatkan jiwa mereka dalam mengarungi era penuh tantangan.[]

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB