KH. Syukron Ma’mun Sang Singa Podium Wafat, Dunia Dakwah Islam Kehilangan Ulama Kharismatik

Tim Redaksi

- Redaksi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:52 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor– Kabar duka menyelimuti dunia dakwah Islam Indonesia. KH. Syukron Ma’mun, ulama kharismatik yang dikenal luas dengan julukan Singa Podium sekaligus pendiri Pondok Pesantren Daarul Rahman, dikabarkan wafat pada Minggu (18/10/2026). Kepergiannya menjadi kehilangan bagi keluarga, para santri, serta masyarakat yang selama ini mengenal kiprah dan perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam.

K.H. Syukron Ma’mun merupakan salah satu tokoh agama yang dikenal melalui kemampuan orasinya yang kuat, tegas, dan penuh semangat. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia mendedikasikan diri untuk berdakwah, mengajarkan ilmu agama, serta membina generasi muda melalui pendidikan pesantren. Sosoknya dikenal bukan hanya sebagai pendakwah, melainkan juga sebagai pendidik yang berupaya menanamkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.

Julukan Singa Podium yang melekat pada dirinya menggambarkan kepiawaiannya dalam menyampaikan ceramah di hadapan jamaah. Melalui gaya bicara yang tegas dan penguasaan materi keagamaan, ia mampu menarik perhatian masyarakat ketika menyampaikan pesan-pesan dakwah. Kiprahnya menjadikan podium sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ilmu, mengajak masyarakat memahami ajaran Islam, dan memperkuat kehidupan beragama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjalanan Hidup dan Pendidikan Keagamaan

KH. Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki kedekatan dengan tradisi keilmuan Islam. Ayahnya, KH Ma’mun Nawawi, bersama keluarga besarnya turut membentuk lingkungan yang mendorong dirinya mengenal pendidikan agama sejak usia dini.

Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat (SR). Selain mengikuti pendidikan umum pada pagi hari, ia juga belajar di Madrasah Miftahul Ulum pada siang hari. Perpaduan pendidikan umum dan agama tersebut menjadi bagian awal perjalanan intelektualnya sebelum melanjutkan pendidikan ke sejumlah pesantren.

Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP, KH. Syukron Ma’mun melanjutkan pendalaman ilmu agama di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Ia kemudian menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, selama kurang lebih enam tahun hingga menyelesaikan pendidikan Kulliyatul Mu’allimin.

Sekitar 1966, ia melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam Gontor, yang kemudian dikenal sebagai Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Ia tercatat sebagai salah satu lulusan awal program sarjana muda di lembaga tersebut dan memperoleh gelar B.A.

Baca Juga:  Harlan Bestari Bengardi: Perjalanan Anak Kuli Bangunan hingga Jadi CEO & CO Founder Pestigo

Pengalaman pendidikan di berbagai lembaga tersebut menjadi bekal penting dalam perjalanan dakwahnya. Ilmu yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dikembangkan melalui kegiatan mengajar, ceramah, dan pembinaan umat di berbagai daerah.

Memulai Dakwah Sejak Menjadi Santri

Perjalanan dakwah KH. Syukron Ma’mun telah dimulai sejak dirinya masih menjadi santri kelas V di Pondok Modern Darussalam Gontor. Semangatnya dalam menyampaikan ajaran Islam tumbuh sejak usia muda, bahkan ketika ia masih berada dalam lingkungan pendidikan pesantren.

Pada awal 1967, ia mulai berdakwah ke sejumlah wilayah di Jawa Timur, di antaranya Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, dan Magetan. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembentukan dirinya sebagai seorang mubalig yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat.

Aktivitas dakwah pada masa itu tidak selalu berjalan mudah. Situasi sosial dan konflik antarkelompok pemuda di sejumlah daerah membuat kegiatan menyampaikan ceramah membutuhkan keberanian dan keteguhan. Meski menghadapi berbagai tantangan, perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang memperluas jangkauan dakwah sekaligus memperkuat kiprahnya di tengah masyarakat.

Pada tahun yang sama, KH. Syukron Ma’mun berangkat ke Jakarta untuk memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama. Ia belajar kepada Habib Ali bin Husein di Bungur dan mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang.

Perjalanan tersebut memperlihatkan kesungguhannya dalam menambah pengetahuan agama. Baginya, aktivitas dakwah tidak dapat dilepaskan dari proses belajar dan memperdalam ilmu. Dengan bekal keilmuan yang terus dikembangkan, kiprahnya sebagai pendakwah semakin meluas.

Kiprah Dakwah yang Menjangkau Berbagai Daerah

Sekitar 1971, KH. Syukron Ma’mun mulai mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Pada waktu yang sama, ia aktif mengisi pengajian di masjid, majelis taklim, dan Islamic Center di wilayah DKI Jakarta.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas dakwahnya semakin berkembang hingga menjangkau berbagai wilayah Nusantara. Ia berdakwah di sejumlah daerah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga wilayah lainnya di Indonesia.

Tidak hanya dikenal di dalam negeri, dakwah KH. Syukron Ma’mun juga meluas ke luar negeri, termasuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Jangkauan tersebut menunjukkan bahwa aktivitasnya dalam menyampaikan ajaran Islam tidak terbatas pada satu wilayah, melainkan berkembang mengikuti kesempatan untuk bertemu dan membina masyarakat.

Baca Juga:  Aris Rinaldi, Tukang Kuli Galon Jadi Direktur Perusahaan. Ini Motivasi dari Kiai Helmi

Kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu ciri yang membuatnya dikenal luas. Melalui ceramah, ia menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan gaya yang tegas dan penuh keyakinan. Julukan Singa Podium kemudian menjadi identitas yang melekat pada perjalanan dakwahnya.

Kepergiannya pun menjadi momentum untuk mengenang kembali peran seorang ulama dalam membangun kedekatan masyarakat dengan ilmu agama. Perjalanan panjangnya menunjukkan bahwa dakwah membutuhkan ketekunan, keberanian, dan kesediaan untuk terus belajar.

Belajar Organisasi dan Politik dari KH. Idham Chalid

Selain memiliki kiprah dalam bidang dakwah, KH. Syukron Ma’mun juga memiliki pengalaman dalam organisasi dan politik. Ketika tiba di Jakarta pada 1967, ia tinggal bersama KH. Idham Chalid, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan.

Selama tinggal bersama KH. Idham Chalid hingga sekitar 1975, KH. Syukron Ma’mun tidak hanya mengikuti pengajian, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai organisasi dan politik. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya tentang kehidupan sosial serta peran tokoh agama dalam masyarakat.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa kiprah seorang ulama dapat berkembang dalam berbagai bidang. Selain memberikan pemahaman keagamaan, seorang tokoh agama juga dapat berkontribusi melalui pendidikan, organisasi, dan kehidupan sosial.

Pengalaman yang diperolehnya kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang sebelum ia merintis lembaga pendidikan Islam sendiri. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian yang terus melekat dalam sejarah hidupnya.

Mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman

Salah satu warisan penting K.H. Syukron Ma’mun adalah Pondok Pesantren Daarul Rahman yang dirintis sekitar 1975. Pesantren tersebut berpusat di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan dikembangkan sebagai lembaga pendidikan Islam untuk membina generasi santri.

Sebelum merintis Daarul Rahman, ia dipercaya menjadi direktur Pondok Pesantren Daarul Ma’arif. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya dalam dunia pendidikan pesantren.

Pendirian Daarul Rahman memperlihatkan bahwa perhatian K.H. Syukron Ma’mun tidak hanya tertuju pada dakwah melalui ceramah. Ia juga berupaya membangun lembaga yang dapat memberikan pendidikan agama secara berkelanjutan kepada generasi muda.

Melalui pesantren, pembinaan santri dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pembelajaran ilmu agama hingga pembentukan kedisiplinan dan karakter. Pesantren menjadi salah satu sarana penting dalam menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Baca Juga:  Fadzar Firdaus jadi Petugas Haji Arab Saudi, Ini Rahasia Amalan dari KH Helmi Abdul Mubin

Daarul Rahman kemudian berkembang dengan sejumlah cabang, di antaranya di Leuwiliang, Bogor, serta Sawangan, Parung. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan lembaga pendidikan yang didirikannya dalam melanjutkan pengabdian di bidang pendidikan Islam.

Di tengah kesibukannya mengelola pesantren, K.H. Syukron Ma’mun tetap aktif berdakwah dan mengisi pengajian. Hal ini memperlihatkan bagaimana pendidikan dan dakwah berjalan beriringan dalam perjalanan pengabdiannya.

Mengenang Sosok Ulama dan Pendidik

Wafatnya K.H. Syukron Ma’mun menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenang perjalanan hidup dan kontribusinya dalam dunia Islam Indonesia. Ia dikenal sebagai ulama yang menggabungkan aktivitas dakwah dengan pengembangan pendidikan pesantren.

Julukan Singa Podium bukan sekadar menggambarkan kemampuannya berbicara di hadapan jamaah, melainkan juga menjadi penanda perjalanan panjangnya dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Dari masa menjadi santri hingga berdakwah ke berbagai daerah, ia terus menjalankan peran sebagai mubalig dan pendidik.

Sementara itu, keberadaan Pondok Pesantren Daarul Rahman menjadi bagian penting dari warisan perjuangannya. Lembaga tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada umat dapat diwujudkan melalui pembinaan generasi muda dan pengembangan pendidikan Islam.

Perjalanan hidupnya juga memberikan gambaran bahwa proses menuntut ilmu merupakan bagian penting dalam membangun kapasitas seorang pendakwah. Pendidikan di pesantren, pertemuan dengan para ulama, pengalaman mengajar, dan aktivitas organisasi menjadi bagian yang membentuk perjalanan pengabdiannya.

Warisan Ilmu dan Perjuangan Dakwah

Kepergian seorang ulama tidak menghapus nilai ilmu dan keteladanan yang telah dibagikan selama hidupnya. Pemikiran, pengajaran, serta lembaga pendidikan yang dibangun dapat menjadi bagian dari warisan yang diteruskan oleh generasi berikutnya.

K.H. Syukron Ma’mun meninggalkan jejak melalui aktivitas dakwah yang menjangkau berbagai wilayah serta pendirian Pondok Pesantren Daarul Rahman. Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui beragam cara, baik dengan menyampaikan ilmu secara langsung maupun membangun lembaga pendidikan yang berkelanjutan.

Bagi para santri, pendidik, dan generasi muda, kisah hidupnya dapat menjadi dorongan untuk terus menuntut ilmu, memperkuat akhlak, serta menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Sosok K.H. Syukron Ma’mun akan dikenang melalui perjalanan panjangnya sebagai pendakwah, pendidik, dan pendiri pesantren. Julukan Singa Podium menjadi bagian dari identitasnya, sedangkan perjuangan dalam dakwah dan pendidikan menjadi warisan yang memiliki arti penting bagi perkembangan kehidupan keislaman di Indonesia. [Rahmah]

Penulis : Siti Nur Rahmah

Berita Terkait

Santri Kreator, Dzieka Farehatunnisa Bawa Nama Kampus UIB ke Tingkat Nasional
Kiprah Kinarto Berorganisasi, Sekilas Profil Calon Ketum DMI Kota Bogor
Aziza Luthfia, Mahasiswi UIB yang Raih Gelar Photogenic Duta Kampus Indonesia
Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Santri Kreator, Dzieka Farehatunnisa Bawa Nama Kampus UIB ke Tingkat Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 - 05:48 WIB

Kiprah Kinarto Berorganisasi, Sekilas Profil Calon Ketum DMI Kota Bogor

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:52 WIB

KH. Syukron Ma’mun Sang Singa Podium Wafat, Dunia Dakwah Islam Kehilangan Ulama Kharismatik

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:26 WIB

Aziza Luthfia, Mahasiswi UIB yang Raih Gelar Photogenic Duta Kampus Indonesia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara

Berita Terbaru

Pendidikan

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:55 WIB