Binanews.id | Bogor- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memperkuat upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana gempa bumi melalui penyelenggaraan Sekolah Lapangan Gempa Bumi (SLG) 2026 yang digelar di SMK Negeri 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi nasional BMKG dalam membangun budaya sadar bencana sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Program Sekolah Lapang Gempa Bumi merupakan salah satu bentuk edukasi kebencanaan yang dikembangkan BMKG untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai karakteristik gempa bumi, langkah mitigasi, serta tindakan yang tepat sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh materi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan pelatihan praktis mengenai prosedur penyelamatan diri sehingga mampu menjadi agen penyebar informasi di lingkungan masing-masing.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala BMKG Prof. Dr. Ir. Teuku Faisal Fathan, Ph.D., IPU, anggota Komisi V DPR RI Marlyn Maisarah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Ade Hasrat, S.IP., M.Si, Danramil, Kapolsek, dan peserta dari berbagai unsur masyarakat. Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathan menegaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempa Bumi merupakan langkah nyata pemerintah dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana . “Hari ini kami menyelenggarakan Sekolah Lapang Gempa Bumi. Ini merupakan pelaksanaan yang kedua. Harapan kami kepada para peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi champion atau pionir di tengah masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan dan pemahaman mengenai mitigasi gempa bumi,” ujar Prof. Teuku Faisal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada kemampuan pemerintah dalam memberikan informasi, tetapi juga ditentukan oleh sejauh mana masyarakat memahami langkah-langkah penyelamatan yang benar. Oleh karena itu, peserta yang telah mengikuti pelatihan diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan BMKG dalam menyampaikan edukasi kepada keluarga, sekolah, lingkungan kerja, maupun masyarakat secara luas.
Prof. Teuku Faisal juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap ancaman bencana.
“Kegiatan ini didukung oleh Komisi V DPR RI, Ibu Marlyn Maisarah, Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Danramil, Kapolsek, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.
Lebih lanjut, Kepala BMKG mengungkapkan bahwa program Sekolah Lapang Gempa Bumi bukan hanya dilaksanakan di Kabupaten Bogor, tetapi juga telah menjadi program nasional yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, kegiatan serupa telah diselenggarakan di lebih dari 200 lokasi dan jumlahnya akan terus bertambah sesuai dengan kebutuhan daerah yang memiliki tingkat risiko bencana tinggi.
Selain Sekolah Lapang Gempa Bumi, BMKG juga secara konsisten menyelenggarakan Sekolah Lapang Tsunami dan berbagai program edukasi kebencanaan lainnya sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai potensi bahaya geologi dan hidrometeorologi. Program-program tersebut telah melibatkan lebih dari 20.000 peserta dari berbagai kalangan dan unsur masyarakat.
Menurut Prof. Teuku Faisal, capaian tersebut menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana. Meski demikian, BMKG akan terus memperluas jangkauan edukasi agar semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan menghadapi situasi darurat. Pemilihan Kabupaten Bogor sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempa Bumi juga memiliki pertimbangan strategis. Wilayah Bogor berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa aktif, termasuk pengaruh aktivitas zona subduksi di selatan Pulau Jawa serta beberapa sesar aktif di wilayah Jawa Barat. Kondisi tersebut menjadikan peningkatan kapasitas masyarakat sebagai salah satu langkah penting dalam mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana.
Melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi 2026, BMKG berharap tercipta masyarakat yang semakin tangguh, memiliki budaya sadar bencana, serta mampu berperan aktif dalam membangun lingkungan yang aman dan siap menghadapi berbagai potensi bencana. Oleh karena itu, banyaknya masyarakat yang memahami mitigasi bencana, diharapkan risiko yang ditimbulkan akibat gempa bumi dapat ditekan seminimal mungkin. Program edukasi seperti Sekolah Lapang Gempa Bumi menjadi bukti bahwa mitigasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, aparat keamanan, dan masyarakat, Indonesia diharapkan semakin siap menghadapi berbagai ancaman bencana di masa kini maupun masa mendatang.









