Binanews.id | Bogor- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan, keberlangsungan pembelajaran di daerah terdampak bencana Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi sekolah.
Sebab, menurut Mu’ti, saat ini yang terpenting adalah menjaga keselamatan guru dsn murid di kawasan bencana.
“Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Mu’ti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, sebanyak 512 sekolah di tujuh kabupaten terdampak bencana.
Terdiri dari 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan.
Dampak bencana juga menyebabkan 52.268 murid di 276 sekolah terganggu pembelajaran akibat sekolah diliburkan, dan pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing dan di titik pengungsian.
Mu’ti menambahkan, bantuan dukungan untuk proses pembelajaran sudah bergerak ke beberapa wilayah terdampak bencana.
Bahkan di Labuan Bajo yang membawa bantuan untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran bagi warga sekolah yang terdampak sudah tiba. “Tim Kemendikdasmen yang sudah sampai di Labuan Bajo telah membawa bantuan yang berisi 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit untuk mendukung pembelajaran di masa darurat,” ujarnya.
Selain bantuan, Kemendikdasmen juga menyiapkan panduan pembelajaran di masa darurat di NTT.
Panduan ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan yang terdampak bencana.
“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin
Toni mengatakan bahwa pembelajaran tidak harus berlangsung dengan pola yang sama seperti dalam kondisi normal.
Sekolah diberikan ruang untuk menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan tingkat kerusakan, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi murid dan guru, serta situasi lingkungan sekitar.
Dalam pelaksanaannya, sekolah juga dapat memprioritaskan materi pembelajaran yang esensial dan relevan dengan kondisi murid.
Dukungan psikososial, keselamatan diri, literasi dan numerasi dasar, serta pemulihan rutinitas belajar menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Metode pembelajaran juga dapat disesuaikan, baik melalui pembelajaran tatap muka secara terbatas, pembelajaran mandiri, maupun metode lain yang memungkinkan sesuai dengan kondisi dan sumber daya yang tersedia.
Selain aspek akademik, panduan ini juga menempatkan aspek psikososial sebagai bagian penting dari proses pemulihan karena bencana dapat memberikan dampak emosional bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan.
Demi mendukung implementasi di lapangan, Kemendikdasmen juga menyediakan contoh-contoh pembelajaran yang dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dalam merancang kegiatan belajar sesuai kondisi pascabencana.
Editor : Fathurroji









