Binanews.id | Bogor–Di tengah arus modernisasi dan perkembangan dunia pendidikan global, pesantren sering dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional yang fokus pada pembelajaran agama. Namun, di balik kesederhanaan lingkungan pesantren, lahir banyak generasi muda yang mampu menembus panggung dunia melalui ilmu pengetahuan, dedikasi, dan kerja keras.
Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Tatu Zakiyatun Nufus, alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami yang kini aktif berkiprah di dunia akademik nasional maupun internasional. Berawal dari seorang santri dengan hobi menulis, ia berhasil membuktikan bahwa latar belakang pesantren bukanlah penghalang untuk berkembang secara global. Perjalanan akademiknya menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda, khususnya para santri, untuk terus mengembangkan potensi diri di bidang pendidikan dan literasi.
Sejak masih mondok di pesantren, Tatu dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap dunia menulis dan pendidikan. Di tengah aktivitas pesantren yang padat, ia tetap menyempatkan diri membaca, menulis catatan kecil, dan mengembangkan kemampuan Bahasa khususnya Bahasa inggris. Kebiasaan sederhana itu perlahan membentuk karakter akademiknya. Baginya, menulis bukan hanya sekadar hobi, melainkan media untuk belajar, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Sebagai santri, ia pernah mengalami rasa minder, takut berbicara di depan umum, dan merasa kemampuannya masih jauh dari cukup. Namun, semangat belajar yang ditanamkan di pesantren membuatnya terus berkembang. “Pesantren mengajarkan bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat, dari sana saya memahami bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang,” ungkapnya.
Semangat itulah yang kemudian membawanya aktif dalam berbagai kegiatan akademik nasional dan Internasional. Ia dipercaya menjadi presenter dalam sejumlah konferensi Nasional & Internasional bergengsi, seperti ITELL- Salatiga dan Yogyakarta, ASIA TEFL – Malang, Korea Selatan & Chiang Rai-Thailand, TEFLIN-Aceh, hingga ICETOL di Turki beberapa bulan lalu.
Keikutsertaannya dalam forum-forum Internasional tersebut menjadi bukti bahwa santri Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Di hadapan akademisi dari berbagai negara, ia membawa gagasan tentang pendidikan, bahasa, dan pengalaman pembelajaran yang berakar dari nilai-nilai pesantren.
Moto hidup yang selalu ia pegang adalah “Think Locally, Act Globally.” Baginya, berkembang secara global tidak berarti meninggalkan identitas lokal. Justru nilai-nilai pesantren, kedisiplinan, dan pendidikan karakter menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya.
Kini, selain aktif sebagai peneliti dan penulis, beliau merupakan salah satu pengurus pesantren Al-Mansyuriyah yang berlokasi di Tangerang, dan aktifitas beliau pun mengajar di beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti UIN Syarif Hidayatullah- Jakarta, Universitas Pradita, dan Trisakti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui dunia pendidikan, Ia terus berupaya menginspirasi mahasiswa dan generasi muda agar tidak takut bermimpi besar. Di balik tirai kelas, ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membagikan pengalaman perjuangan hidupnya. Ia percaya bahwa pendidikan harus mampu membangun keberanian, kreativitas, dan semangat belajar yang berkelanjutan.
Kisah perjalanan Tatu Zakiyatun Nufus menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari fasilitas yang mewah atau lingkungan yang serba mudah. Kesuksesan dapat tumbuh dari ketekunan, konsistensi belajar, dan keberanian untuk mencoba. Bagi para santri dan generasi muda Indonesia, kisah ini membawa pesan sederhana namun kuat: jangan pernah takut bermimpi besar. Karena dari ruang kelas pesantren yang sederhana, seseorang tetap dapat melangkah menuju panggung dunia.
Think locally, act globally.
Sebuah prinsip hidup yang kini menjadi nyata dalam perjalanan seorang santri yang berhasil menginspirasi dunia.[]









