Binanews.id | Jakarta – Indonesia tengah memasuki periode bonus demografi yang menjadi peluang strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan mampu menjawab tantangan dunia kerja yang terus berubah.
Perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), hingga transformasi dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk terus memperbarui tata kelola, sistem pembelajaran, serta pengembangan talenta agar tetap relevan dengan kebutuhan masa depan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi Indonesia baru mencapai 32,89 persen. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata dunia yang mencapai 40 persen, serta tertinggal dibandingkan Malaysia (43 persen), Thailand (49,29 persen), dan Singapura (91,09 persen).
Sementara itu, BPS tahun 2024 mencatat masih terdapat 3,4 juta penduduk Indonesia berusia 16–18 tahun yang belum pernah bersekolah atau tidak bersekolah lagi. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak kedua dalam kategori tersebut, yakni sebesar 28,40 persen.
Di sisi lain, laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan 59 persen angkatan kerja dunia akan membutuhkan pelatihan ulang (reskilling), sedangkan 39 persen keterampilan inti dunia kerja diproyeksikan berubah pada 2030. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi tata kelola perguruan tinggi menjadi kebutuhan mendesak agar mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi perubahan global.
Menanggapi tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mulai menerapkan pola pikir yang adaptif dan transformatif dalam tata kelolanya. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Dies Natalis Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS), Kamis (23/7).
“Hanya kampus yang adaptif sajalah yang akan mampu mempertahankan diri,” tegas Wamen Fauzan.
Menurut Wamendiktisaintek, perubahan yang berlangsung sangat cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, dan transformasi dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk terus mengevaluasi relevansi sistem pendidikan yang dibangun. Perguruan tinggi harus mampu menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masa depan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Wamen Fauzan menambahkan bahwa bonus demografi merupakan peluang yang hanya datang sekali dalam sejarah perjalanan suatu bangsa. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan momentum tersebut dapat dimanfaatkan melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif, dan berorientasi pada masa depan.
“Jangan sekali-kali kita terlena dengan bonus demografi. Yang namanya bonus adalah keuntungan alamiah. Ia datang karena perjalanan struktur penduduk yang bergerak satu arah, tidak dapat diputar kembali. Justru karena itu, bonus demografi wajib dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Wamen Fauzan.
Ia juga menekankan bahwa transformasi pendidikan tinggi harus diarahkan pada kebermanfaatan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Menurutnya, kualitas akademik menjadi fondasi utama dalam menghasilkan dampak yang nyata.
“Jumlah lulusan dan artikel yang diterbitkan kampus memang penting, tetapi masyarakat akhirnya mengajukan pertanyaan yang jauh lebih sederhana, yaitu apa manfaat nyata kampus bagi kehidupan kita? Inilah yang melahirkan paradigma Kampus Berdampak dan menjadi ruh kebijakan dan arah pembangunan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi hari ini,” kata Wamen Fauzan.
Gagasan tersebut sejalan dengan komitmen Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia hanya dapat berdiri di atas kaki sendiri melalui pendidikan yang bermutu. Komitmen itu juga tercermin dalam Asta Cita keempat yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan SDM, sains, teknologi, dan pendidikan.
Sebagai implementasinya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menginisiasi kebijakan Diktisaintek Berdampak untuk memastikan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat serta pembangunan bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UPGRIS Sapto Budoyo menyampaikan bahwa Dies Natalis ke-45 menjadi momentum refleksi atas berbagai capaian yang telah diraih kampus. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga budaya mutu, inovasi, pelayanan kepada masyarakat, dan kepercayaan publik agar perguruan tinggi semakin memberikan manfaat bagi bangsa.
“Universitas PGRI Semarang hadir bukan hanya untuk menghasilkan lulusan. Universitas PGRI Semarang hadir untuk membuka harapan, membangun peradaban, memperluas kesempatan, dan menghadirkan perubahan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” jelas Rektor Sapto.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan akan terus mendorong transformasi pendidikan tinggi yang adaptif, inovatif, dan relevan melalui semangat Diktisaintek Berdampak. Penguatan tata kelola perguruan tinggi, peningkatan kualitas pembelajaran, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu melahirkan talenta unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan sekaligus mengoptimalkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.[]
Editor : Fathurroji









