Binanews.id | Dunia ini begitu menggiurkan dengan segala isinya, kadang membuat kita sebagai hamba merajut cinta yang lain yang mampu memalingkan segalanya. Berhati-hatilah dalam mencintai! Dunia ini penuh tipu daya yang memabukan dan membuat kehilangan arah. Ada candu yang lebih mematikan yaitu mencintai sesuatu melewati batas kecintaan pada Allah Swt. Kecintaan yang menuhankan cinta menjadi pembunuh batin yang luar biasa, meniadakan kedudukan Allah Swt dalam hati (qold) manusia.
Kecintaan pada mahkluk, benda, dan sejenisnya secara berlebihan akan menghilangkan orientasi tauhid, tetunya sebagai seorang muslim perlu mengkontrol agar tidak lupa diri. Keseimbangan akal dan hati (qolb) menjadi hal utama dalam mengendalikan diri sehingga mempunyai batas (rambu). Hal yang paling menarik adalah apabila kita mencintai sesuatu dengan berlebihan (Al-Ghuluw/الغلو) Allah akan menguji hambanya dengan kesenangan dan kecintaannya tersebut. Jadi berhati-hatilah apabila kita berada pada kondisi tersebut dan segera kepada Allah Swt.
Seorang muslim perlu menjaga kesehtan mental dalam menjalani kehidupannya dengan bersikap adil pada hati (qolb). Memberikan ruang dan porsi terbaik, yaitu memporsikan hati sebagai mana peruntukannya dan akal sebagaimana fungsinya. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah [2] 165:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).”
Kecintaan pada mahluk dan sejenisnya membuat manusia mudah terikat dan bergantung, hingga hatinya condong pada yang fana dan melupakan Yang Maha Kekal. Ia bisa menjadi lalai, menaruh harap berlebihan pada sesuatu yang terbatas, dan kecewa saat apa yang dicintainya tidak mampu memenuhi harapannya. Ketika cinta kepada makhluk diletakkan di bawah cinta kepada Allah, maka cinta itu menjadi lebih sehat, tidak berlebihan, tidak membutakan, dan justru menguatkan keimanan.
Kadang kita berbuat sesuatu yang tidak adil pada diri kita sendiri, membawa batin kita memyelesaikan hal-hal yang bersifat fisik yang sebetulnya hal tersebut bisa diselesaikan dengan hanya melibatkan fisik saja, sehingga batin kita letih karena sering terlibat dalam permasalahan yang semestinya tidak perlu melibatkan batin (qolb) atau sebaliknya menekan batin untuk menyelesaikan masalah yang berujung pada kekecewaan, kesedihan, kemarahan, dan menghilangkan fungsi akal.[]









