Kiprah PUI Kabupaten Bogor: Rekam Jejak dan Peran PUI untuk Umat

Bisyral

- Redaksi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor- Dalam upaya mendalami peran organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terhadap dinamika keumatan dan pendidikan berbasis keaswajaaan, Muhammad Aldiansyah, S.Pd., mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan Islam dari Universitas Islam Bogor (UIB) Ummul Quro, berkesempatan melakukan wawancara dengan Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Umat Islam (DPD PUI) Kabupaten Bogor, KH. Herdi Hendrawan, S.Ag., M.E., pada 21 Mei 2026.

Pertemuan itu mengupas sejarah PUI, nilai-nilai filosofis organisasi, kontribusi nyata di bidang pendidikan, hingga sikap politik PUI di tengah era digital dan modernisasi di wilayah Kabupaten Bogor.

Akar Sejarah dan Peran Pendiri Bangsa

Perjalanan panjang PUI di panggung sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para tokoh nasional pra-kemerdekaan. KH. Herdi Hendrawan menjelaskan bahwa benih organisasi ini sejatinya telah disemai sejak tahun 1912 melalui gerakan Hayatul Kulub di Majalengka, yang kemudian bertransformasi menjadi Persyarikatan Oelama. Di sisi lain, muncul pula Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) di Sukabumi yang dipelopori oleh KH. Ahmad Sanusi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Momentum krusial terjadi pada tahun 1952, tepatnya tanggal 5 April, ketika Mr. Samsudin menginisiasi fusi atau peleburan kedua organisasi keumatan tersebut menjadi satu wadah di Bogor, yaitu Persatuan Umat Islam (PUI). Tiga tokoh utama yang membidangi lahirnya PUI adalah KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, dan Mr. Mohamad Samsudin.

Ketiganya bukan sekadar tokoh agama, melainkan juga bagian dari anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

“Jadi pendiri PUI adalah tokoh-tokoh yang juga membidangi lahirnya negara ini. Makanya PUI sejak lama itu sudah menggunakan kata Indonesia… Ketiga tokoh ini sekarang sudah menjadi pahlawan nasional, hanya tinggal Mr. Samsudin yang belum,” ujar KH. Herdi Hendrawan.

Warisan keteladanan para pendiri inilah yang membentuk gaya kepemimpinan KH. Herdi dalam menakhkodai PUI Kabupaten Bogor. Beliau mengaku sangat terinspirasi oleh sinergi karakter KH. Ahmad Sanusi yang sangat menyatu dengan masyarakat serta mumpuni di bidang keagamaan dan politik, dipadukan dengan visi KH. Abdul Halim yang fokus pada pendidikan kemasyarakatan melalui pendirian sekolah prakarya sejak tahun 1920-an.

Baca Juga:  Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi

Menghidupkan Intisab dan Ishlashus Tsamaniyah di Akar Rumput

Sebagai organisasi yang bergerak di tengah masyarakat, PUI memiliki dua pilar filosofis utama dalam bergerak, yakni Intisab sebagai landasan kokoh dan Ishlashus Tsamaniyah (8 Perbaikan) sebagai pedoman atau tujuan perjuangan.

KH. Herdi merinci bahwa dalam Intisab terkandung prinsip Allahu Ghooya Tuna (Allah tujuan kami), wa’l-Ikhlasu mabdaunaa (ikhlas dasar kami), Wal Ishlahu Sabiiluna (perbaikan jalan kami), dan wa’l-Mahabatu Syiaarunaa (cinta kasih sayang syiar kami). Prinsip ini menuntut setiap kader untuk terjun ke masyarakat dengan niat yang murni dan pendekatan yang penuh kasih sayang.

Sementara itu, implementasi dari Ishlashus Tsamaniyah mencakup delapan aspek perbaikan yang krusial bagi kemaslahatan umat:

Perbaikan Akidah (Ishlahul Aqidah): Membantu memperbaiki dan memperkuat pondasi tauhid masyarakat.

Perbaikan Ibadah: Dilakukan melalui penguatan kajian dan taklim di masjid-masjid maupun majelis taklim.

Perbaikan Pendidikan (Ishlahu Tarbiyah): Menjadi konsen utama dengan mengelola lebih dari 40 lembaga pendidikan di Kabupaten Bogor, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Perbaikan Keluarga (Ishlahu Ailah): Diwujudkan lewat program parenting dan ketahanan pangan keluarga di majelis-majelis taklim.

Perbaikan Ekonomi (Ishlahul Iqtishod): Melalui pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pembukaan koperasi.

Perbaikan Adat: Mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal yang luhur, seperti budaya gotong royong yang mulai bergeser akibat dampak negatif era digitalisasi.

Perbaikan Kemasyarakatan (Mujtama).

Perbaikan Keumatan dan Kenegaraan.

Terkait perbaikan adat, PUI Kabupaten Bogor bersikap responsif namun tetap berhati-hati terhadap dinamika budaya lokal Sunda.

Menanggapi fenomena menonjolnya aksesori budaya hingga festival arak-arakan pusaka seperti Mahkota Binokasih yang digalakkan beberapa pimpinan daerah, KH. Herdi menegaskan pentingnya menjaga agar pelestarian adat tersebut tidak bergeser menjadi pengkultusan yang mencederai akidah. Beliau berharap rangkaian kegiatan tersebut murni diletakkan sebagai penghormatan terhadap adat sejarah, tanpa menyentuh ranah ritualitas agama yang menjauhkan masyarakat dari tauhid.

Baca Juga:  Kemendagri Gaungkan Gerakan ASRI dari Kota Bogor

Inklusivitas Pendidikan di Wilayah Pelosok dan Sikap terhadap Digitalisasi

Salah satu tantangan geografis terbesar di Kabupaten Bogor adalah kontur wilayahnya yang beragam, mulai dari perbukitan hingga pegunungan di kawasan Bogor Barat dan Bogor Selatan.

Menjawab tantangan akses pendidikan yang inklusif dan merata, KH. Herdi membeberkan fakta bahwa sebagian besar lembaga pendidikan di bawah naungan PUI justru lahir dan tumbuh subur di wilayah grassroot atau pelosok.

“Lembaga pendidikan PUI itu ada di pelosok-pelosok kebanyakan. Saya kadang-kadang tidak menduga ketika saya tanya, Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini didirikan kapan? Ada yang tahun 1958 di Nanggung, ada juga di Leuwisadeng. Kita bisa bayangkan tahun 50-an atau 60-an bagaimana kondisi geografisnya saat madrasah itu didirikan,” tutur beliau menggambarkan perjuangan para pendahulu.

Meski fokus di wilayah pelosok, PUI juga memiliki basis di perkotaan, seperti di Bondongan, yang melahirkan tokoh-tokoh agama, ketua Baznas, hingga figur politik nasional.

Di era disrupsi teknologi saat ini, PUI mengambil sikap yang proporsional terkait integrasi digital dalam dunia pendidikan.

Alih-alih sepenuhnya mengadopsi sistem digital, kurikulum PUI mengarahkan pemanfaatan teknologi digital seperlunya dan sesuai kebutuhan saja. Organisasi ini tetap mempertahankan metode konvensional (tatap muka) sebagai pilar utama untuk menjaga kedekatan emosional, moral, dan chemistry spiritual antara guru dan siswa, atau antara santri dan kiai.

Kiprah Sosial-Politik dan Moderasi (Wasathiyah)

Di tingkat nasional, isu ketahanan pangan menjadi agenda yang terus bergulir.

PUI Kabupaten Bogor memposisikan diri secara taktis melalui kontribusi nyata di bidang sosial, salah satunya dengan meluncurkan dan mengelola dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengoptimalkan aset-aset lembaga pendidikan yang mereka miliki. Sementara untuk isu energi terbarukan, PUI menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pusat, walau pelaksanaannya di tingkat daerah masih terkendala oleh besarnya pembiayaan.

Dalam ranah politik praktis, PUI menunjukkan kedewasaan berorganisasi dengan tidak mengikatkan diri pada satu partai politik tertentu. Kader-kader PUI tersebar di berbagai partai, mulai dari PKS, PBB, PPP, hingga PDI Perjuangan.

Fenomena keberadaan kader di partai nasionalis seperti PDI Perjuangan sempat memicu diskusi hangat di internal, namun KH. Herdi menegaskan bahwa kehadiran mereka di sana membawa misi dakwah.

Baca Juga:  Cara Mengosongkan Memori HP yang Penuh Tanpa Hapus Aplikasi

“Kader yang masuk ke PDI Perjuangan adalah untuk mewarnai, untuk dakwah. Bukan semata-mata untuk mencari kepentingan politik tertentu,” tegasnya.

Secara personal, KH. Herdi Hendrawan menceritakan perjalanan spiritual dan organisasinya yang unik.

Sebelum diamanahi memimpin PUI Kabupaten Bogor melalui mekanisme musyawarah (syura’), beliau merupakan pengurus aktif Nahdlatul Ulama (NU) saat bertugas di Mekah, Saudi Arabia. Baginya, perpindahan struktural ini tidak mengubah substansi ideologisnya karena PUI dan NU sama-sama memegang teguh ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang kental.

Fleksibilitas ini membuat sosoknya diterima dengan baik oleh berbagai lingkaran ormas Islam, baik NU maupun Muhammadiyah.

“PUI itu kan Wasathiyah (moderat). Jadi kita ada di tengah-tengah, dan saya ada di tengah-tengah. Saya tidak asing dengan tradisi NU, tidak asing dengan kebiasaan Muhammadiyah juga ormas yang lain,” jelas KH. Herdi.

Sikap moderat ini pula yang mendasari cara pandang PUI dalam melihat masa depan Islam di Indonesia.

Jika diibaratkan sebagai sebuah kapal yang mengarungi samudera peradaban modern, PUI memilih posisi di tengah-tengah gelombang dinamika. Posisi ini bukan berarti tidak memiliki arah, melainkan sebuah pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan agar tidak terombang-ambing oleh ekstremitas modernitas maupun ketertinggalan zaman.

Wejangan Pemungkas untuk Generasi Muda Aswaja

Menutup perbincangan mendalam tersebut, KH. Herdi Hendrawan memberikan pesan dan wejangan khusus bagi para mahasiswa, khususnya di Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor yang sedang menempuh mata kuliah keaswajaan. Beliau menekankan bahwa nilai-nilai tawazun (seimbang), ta’adul (keadilan), dan tawassuth (moderat) tidak boleh berhenti pada tataran teks kognitif semata.

“Aswaja itu sesuatu yang luar biasa. Tentu, bicara aswaja tidak cukup hanya dengan mempelajarinya, tapi juga meresapinya. Jadi aswaja itu bukan cuma sekadar ritual, bukan cuma sekadar seremonial, tapi harus menjadi bagian dari napas kita, bagian dari aliran darah kita,” pesan KH. Herdi.

Beliau menambahkan bahwa implementasi nilai tersebut di tengah masyarakat membutuhkan kepekaan hati dan kejernihan pikiran, bukan sekadar kemampuan orasi di atas podium. Melalui pendekatan yang tulus, jalinan kemitraan dan chemistry spiritual antara tokoh agama, penggerak ormas, dan masyarakat luas akan terbangun dengan kokoh demi mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis, beriman, dan beradab.

Berita Terkait

Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi
Dospulkam IPB University Hadirkan 27 Solusi Waste-to-Food di Yogyakarta
ForKot Pendobrak Jiwa Perjuangan Mahasiswa Era Orde Baru menuju Reformasi 1998
IPB University Latih Warga Desa Wisata Pentingsari Buat Kawat Komposter
LKBB Transformasi di Karang Taruna Cigudeg, Satukan Pelajar SMP-SMA se-Bogor Raya Open
Perkuat Konservasi Harimau Sumatra, TSI Jalin Kerja Sama Dengan Pusat Gadai Indonesia
Bupati Bogor Silaturahmi dengan Tokoh Muhammadiyah di Leuwiliang
SDO GPI 2026 Hasilkan 15 Rekomendasi Strategis, Formula Ijtihad Politik Menuju 2029

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Dospulkam IPB University Hadirkan 27 Solusi Waste-to-Food di Yogyakarta

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:17 WIB

ForKot Pendobrak Jiwa Perjuangan Mahasiswa Era Orde Baru menuju Reformasi 1998

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:16 WIB

IPB University Latih Warga Desa Wisata Pentingsari Buat Kawat Komposter

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:50 WIB

LKBB Transformasi di Karang Taruna Cigudeg, Satukan Pelajar SMP-SMA se-Bogor Raya Open

Berita Terbaru

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB