Binanews.id | Bogor–Tumpukan dedaunan kering kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola kawasan wisata alam. Selain mengganggu estetika lanskap, pembakaran sampah daun juga berpotensi mencemari udara. Menjawab persoalan tersebut, tim dosen IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) memperkenalkan inovasi “Kawat Komposter” di Desa Wisata Pentingsari, Kabupaten Sleman.
Kegiatan edukatif yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) ini dihadiri oleh pengurus desa wisata, pengelola homestay, kelompok pengelola sampah desa wisata dan warga setempat. Mereka tampak antusias mengikuti setiap tahapan praktik pengolahan limbah organik kering yang sebelumnya sering kali dibiarkan menumpuk tak terpakai. Program Dospulkam sendiri merupakan inisiatif pengabdian kepada masyarakat dari IPB di mana banyak tim dosen disebar ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia untuk menerapkan inovasi tepat guna.
Solusi Aerobik untuk Sampah Kering
Sesi pelatihan ini dipandu secara interaktif oleh Tri Budiarto, Dosen Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian Sekolah Vokasi IPB. Di hadapan peserta, ia menjelaskan bahwa sampah organik kering seperti serasah daun dari area desa wisata Pentingsari sebenarnya menyimpan potensi besar. Material tersebut adalah sumber karbon alami yang sangat baik untuk mengembalikan kesuburan tanah jika diolah dengan benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kawat komposter ini adalah solusi yang sangat sederhana, murah, namun luar biasa efektif. Bentuknya berupa tabung jaring kawat yang didesain agar udara bisa masuk secara bebas dari segala arah. Sirkulasi oksigen yang baik atau sistem aerobik ini adalah kunci utama agar proses pembusukan oleh mikroba berjalan cepat, merata, dan yang terpenting, tidak menimbulkan bau busuk yang bisa mengganggu wisatawan,” jelas Tri Budiarto di sela-sela demonstrasi perakitan kawat.
Dalam sesi praktiknya, Tri Budiarto memandu warga menyusun lapisan bahan organik menggunakan metode layering (pelapisan) yang tepat. Warga diajarkan untuk menyusun lapisan tanah subur setebal 5-10 cm di bagian paling bawah sebagai fondasi dasar dan sumber mikroba lokal. Setelah itu, diikuti dengan sisa makanan atau sampah dapur basah sebagai sumber nitrogen, dan ditutup dengan lapisan tebal daun kering sebagai sumber karbon.
Setelah tersusun rapi di dalam kawat, campuran tersebut disiram menggunakan cairan bioaktivator (seperti EM4 atau Mikroorganisme Lokal/MOL) yang sudah dilarutkan dengan air bersih dan molase. “Proses pelapisan dan penyiraman ini bisa terus diulang setiap harinya setiap kali ada sampah baru, sampai kawat benar penuh. Nanti setelah 3 sampai 6 minggu, kompos di bagian bawah akan matang sempurna. Cirinya berubah warna jadi cokelat kehitaman, teksturnya remah, dan baunya harum menyegarkan seperti tanah setelah turun hujan,” tambah Tri sambil memperlihatkan contoh kompos matang.
Mendukung Eduwisata Berkelanjutan
Kehadiran instalasi Kawat Komposter yang mudah dirakit ini diharapkan tidak hanya sekadar mengatasi masalah limbah dedaunan di jalanan desa. Lebih dari itu, fasilitas ini dirancang untuk menjadi bagian dari atraksi edukasi lingkungan bagi wisatawan.
Ketua Tim Dospulkam IPB, Rici Tri Harpin Pranata, berharap inisiatif ini dapat terus dilanjutkan. “Kami berharap ke depan hasil dari kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi bisa berkembang menjadi salah satu materi eduwisata bagi wisatawan,” ungkapnya. Senada dengan hal tersebut, Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Ibu Ciptaningtyas, menaruh harapan besar agar program ini terus berkelanjutan. “Pentingsari sudah menjadi desa wisata yang berkelanjutan, di mana aspek kelestarian lingkungan itu sangat penting. Harapan saya, program dari IPB ini tidak terhenti sampai di sini, melainkan bisa diduplikasi secara berkelanjutan oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.
Melalui langkah-langkah praktis dan aplikatif ini, Desa Wisata Pentingsari semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang mensinergikan pesona alam dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.









