Binanews.id | Bogor–Dalam upaya nyata mewujudkan kawasan pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan (Zero Waste Tourism), tim dosen IPB University sukses menggelar rangkaian pelatihan komprehensif bertajuk “Waste-to-Food Integrated System” di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam), sebuah inisiatif pengabdian masyarakat di mana banyak tim dosen IPB diterjunkan ke berbagai daerah di seluruh Indonesia untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Kegiatan intensif yang melibatkan 25 perwakilan pengelola desa wisata, pengelola homestay, lembaga pengelola sampah desa wisata dan masyarakat ini diselenggarakan pada Minggu, 11 Oktober 2026. Menariknya, kehadiran tim IPB yang turut menginap di desa untuk merasakan langsung suasana kearifan lokal Pentingsari disambut dengan sangat hangat oleh para warga.
Suasana akrab tak berjarak langsung terasa sejak awal acara. Ketua Tim, Rici Tri Harpin Pranata, Dosen Komunikasi Digital Media Sekolah Vokasi IPB, membuka pelatihan dengan sapaan dan kelakar yang mencairkan suasana. “Sebenarnya kehadiran kami di sini tidak penting, yang penting apa? Pentingsari. Pentingsari?! Pentiiing banget!” kelakarnya yang disambut tawa riuh para peserta pelatihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiga Praktik Utama dan 27 Teknik Komprehensif
Dalam sambutannya, Rici memaparkan bahwa IPB hadir bukan dengan niat untuk menggurui, melainkan untuk saling berbagi dan bertukar ilmu yang aplikatif. Pada hari itu, warga menerima tiga pelatihan utama secara langsung. Pertama, pemanfaatan sampah dedaunan kering menjadi pupuk menggunakan wadah Kawat Komposter yang dipandu oleh Tri Budiarto, Dosen Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian IPB. Kedua, pengelolaan limbah organik rumah tangga menggunakan Bio Composter Bag portabel yang didemonstrasikan langsung oleh Rici Tri Harpin Pranata.
Sesi ketiga yang tak kalah menyita perhatian dipandu oleh Firman Muhammad Basar, Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi IPB. Beliau memandu para ibu-ibu menyulap sisa kulit buah yang biasa dibuang menjadi produk camilan lezat bernilai jual tinggi, dalam bentuk manisan.
Namun, pengabdian tim ini tidak berhenti pada tiga demonstrasi praktik itu saja. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, tim IPB menyerahkan sebuah modul berjudul “Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pupuk dan Produk Pangan Berkelanjutan”. Modul yang didesain secara khusus untuk kawasan desa wisata ini merangkum total 27 metode pengolahan limbah yang bisa dieksplorasi dan diterapkan lebih jauh oleh warga. Metode ini dapat menjadi tambahan salah satu objek wisata di Desa Wisata Pentingsari.
Beberapa teknik lanjutan yang dibahas rinci di dalam modul tersebut meliputi pembuatan Eco-Enzyme pencuci serbaguna, pembuatan cuka alami, budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) untuk pakan ternak berprotein tinggi, pembuatan pupuk cair (POC), silase pakan ternak terfermentasi, hingga teknik budidaya jamur dari serbuk kayu. Modul ini diplot menjadi semacam “kitab panduan” bagi desa wisata untuk terus berinovasi mengubah sampah (waste) menjadi ketahanan pangan (food) dan bernilai ekonomi.
Datang Sebagai Wisatawan, Pulang Sebagai Keluarga
Inisiatif, materi yang aplikatif, serta kedekatan tim dosen IPB ini menuai apresiasi luar biasa dari masyarakat setempat. Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Ibu Ciptaningtyas, mengungkapkan rasa terima kasih dan kebanggaannya atas sinergi kolaborasi ini.
“Pentingsari sudah menjadi desa wisata yang berkelanjutan, di mana aspek kelestarian lingkungan itu sangat penting. Program dari IPB ini sangat baik untuk kami, dan ilmu yang diajarkan hari ini ternyata tidak kaleng-kaleng, sungguh luar biasa mendalam,” ungkap Ibu Ciptaningtyas di hadapan para peserta.
Beliau juga menyoroti ikatan kekeluargaan kuat yang langsung terjalin antara warga dan tim. “Sesuai dengan jargon kebanggaan kami: ‘Datang sebagai wisatawan, pulang sebagai keluarga. “Kami berharap Pak Rici, Pak Tri, Pak Firman, dan tim IPB sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Pentingsari. Kami juga berharap ilmu yang diajarkan kepada 25 orang perwakilan hari ini bisa segera diduplikasi untuk seluruh masyarakat Pentingsari,” tambahnya dengan penuh harap.
Ke depan, fasilitas pengolahan sampah dan praktik daur ulang inovatif dari program Dospulkam ini dirancang untuk diintegrasikan sebagai paket eduwisata baru. Wisatawan yang berkunjung ke Pentingsari tidak hanya akan menikmati keasrian alam dan budaya lokal, tetapi juga diajak belajar langsung mengelola lingkungan—membuktikan bahwa pelestarian alam dan kemajuan pariwisata dapat berjalan beriringan secara harmonis.









