Bedah Buku di UQI Bogor, Prof Hamid: Pesantren adalah Sekolah Kehidupan

Tim Redaksi

- Redaksi

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor— Pesantren tidak cukup dipahami sebagai tempat santri mengejar nilai akademik. Lebih dari itu, pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang membentuk manusia secara utuh, mulai dari intelektual, moral, spiritual, kemandirian hingga kemampuan hidup bersama dan memimpin.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA.Ed., M.Phil., dalam Bedah Buku Pendidikan Islam Holistik: Ciri Khas Sistem Pendidikan Pondok Modern di Gedung Serba Guna Ummul Quro Al-Islami (UQI), Bogor, Senin (26/10/2026).

Kegiatan yang diikuti para guru UQI dan civitas akademika Universitas Islam Bogor tersebut sekaligus mempertemukan kembali tradisi pendidikan UQI dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Hubungan keilmuan keduanya memiliki kedekatan karena pendiri UQI, almarhum KH Helmy Abdul Mubin, merupakan alumni Gontor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesantren sebagai Sekolah Kehidupan

Menurut Prof. Hamid, salah satu kekuatan pesantren adalah kemampuannya menciptakan lingkungan pendidikan yang berlangsung hampir sepanjang waktu. Santri tidak hanya belajar ketika berada di kelas, tetapi juga ketika berada di asrama, masjid, lapangan olahraga, organisasi hingga saat berinteraksi dengan sesama santri.

Pesantren dengan demikian menjadi sebuah sekolah kehidupan. Pengetahuan yang diperoleh di kelas bertemu langsung dengan pengalaman hidup sehari-hari.

“Pesantren adalah tempat penanaman jiwa-jiwa keikhlasan, kesederhanaan dan sebagainya,” ujar Prof. Hamid.

Ia menjelaskan, pendidikan di pesantren menyentuh berbagai aspek kehidupan santri, baik intelektual, moral maupun spiritual. Melalui sistem Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi muda yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus karakter.

Konsep tersebut menjadi bagian dari cita-cita para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor dalam menyiapkan generasi yang mampu hidup dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Sinergi Pendidikan, UIB dan dan Universitas Darul ’Ulum Jombang Jalin Kerja Sama

Dalam sistem pesantren, lingkungan pendidikan juga tidak terbatas pada sekolah. Seluruh warga pesantren menjadi bagian dari masyarakat pendidikan. Madrasah, sekolah atau KMI menjadi ruang pembelajaran formal, sedangkan asrama berfungsi layaknya rumah tangga tempat santri belajar menjalani kehidupan sehari-hari.

Peserta Bedah Buku Pendidikan Islam Holistik di UQI Bogor

Pendidikan Holistik Mengembangkan Manusia Seutuhnya

Prof. Hamid menerangkan, pendidikan holistik pada dasarnya merupakan proses pengembangan manusia seutuhnya. Karena itu, kemampuan seorang santri tidak dapat hanya diukur berdasarkan nilai akademik.

Setidaknya terdapat beberapa unsur penting dalam pendidikan holistik di pesantren, di antaranya kegiatan olahraga, penghargaan terhadap santri sebagai individu, pengalaman sebagai bagian penting pembelajaran, pendidikan yang menyeluruh, kesempatan memilih kegiatan sesuai potensi, serta pembentukan spiritualitas.

Santri, misalnya, diberikan ruang untuk mengikuti berbagai aktivitas yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dari sinilah bakat yang mungkin tidak terlihat melalui nilai di kelas dapat berkembang.

Menurut Prof. Hamid, sistem pendidikan holistik yang telah lama dipraktikkan pesantren justru masih relatif sedikit dibahas secara mendalam dalam kajian maupun penelitian. Padahal, praktik pendidikan tersebut dapat dilihat dalam kehidupan santri sehari-hari.

Kesederhanaan Bukan Berarti Kemiskinan

Salah satu nilai penting yang ditanamkan dalam kehidupan pesantren adalah Panca Jiwa, yakni keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan berpikir.

Prof. Hamid menekankan bahwa makna kesederhanaan harus dipahami secara tepat. “Sederhana itu bukan berarti miskin dan tidak punya,” katanya.

Kesederhanaan lebih berkaitan dengan sikap hidup, kemampuan menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan serta tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran keberhasilan.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya disampaikan dalam pelajaran. Santri harus mengalami dan mempraktikkannya dalam kehidupan pesantren.

Dari Mengetahui hingga Belajar Memimpin

Dalam paparannya, Prof. Hamid juga menghubungkan pendidikan pesantren dengan prinsip pembelajaran yang menempatkan peserta didik bukan hanya sebagai penerima pengetahuan.

Baca Juga:  Mobile Water Treatment UNDIP Siap Dukung Penanganan Bencana di Jawa Tengah

Santri belajar untuk mengetahui (learning to know), melakukan atau mengerjakan sesuatu (learning to do), hidup bersama (learning to live together), mengembangkan dirinya, hidup mandiri, berdisiplin hingga belajar memimpin.

Karena itu, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal ujian.

Santri dapat memperoleh pengalaman memimpin organisasi, mengatur kegiatan, menyelesaikan persoalan bersama, berkomunikasi dengan orang lain, mengatur dirinya sendiri hingga bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari pendidikan yang terkadang tidak tercatat dalam angka di rapor, tetapi mempunyai pengaruh besar ketika seseorang memasuki kehidupan masyarakat.

Kecerdasan Santri Tidak Cukup Diukur dari IQ

Prof. Hamid juga menyoroti cara pandang terhadap kecerdasan anak. Menurutnya, kecerdasan tidak semestinya hanya diukur melalui tes IQ maupun prestasi akademik.

Dalam proses pendidikan terdapat beragam kecerdasan yang dapat dikembangkan, antara lain logis-matematis, linguistik, visual-spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, kinestetik dan naturalistik.

Kecerdasan interpersonal, misalnya, dapat berkembang melalui aktivitas kepemimpinan dan organisasi. Kecerdasan intrapersonal tumbuh ketika santri belajar mengelola dirinya, sedangkan kemampuan kinestetik dapat berkembang melalui olahraga dan aktivitas fisik.

Cara pandang tersebut membuat keberhasilan pendidikan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu ukuran.

“Sukses itu tahu apa yang perlu dia kerjakan,” ujar Prof. Hamid.

Seorang anak, menurutnya, tidak serta-merta dapat disebut gagal ketika tidak memperoleh nilai akademik yang bagus. Bisa jadi ia memiliki kemampuan lain yang justru berkembang ketika memperoleh lingkungan dan kesempatan yang tepat.

IPK Bukan Satu-satunya Penentu Kesuksesan

Pandangan tersebut juga berlaku pada jenjang pendidikan tinggi. Prof. Hamid mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai satu-satunya tolok ukur masa depan.

Dalam dunia kerja dan masyarakat, seseorang tidak hanya ditanya mengenai nilai akademiknya, tetapi juga apa yang mampu ia kerjakan.

Kemampuan berbahasa, berkomunikasi, bekerja sama dan berkolaborasi menjadi semakin penting. Program studi yang ditempuh seseorang pun tidak selalu menjamin bidang tersebut akan terus dibutuhkan dalam bentuk yang sama di masyarakat.

Baca Juga:  HUT Ke-81 RI, Rektor UNIDA Bogor Tekankan Pendidikan, Penguatan Karakter dan Ketauhidan

Karena itu, mahasiswa dengan IPK yang belum tinggi tidak seharusnya kehilangan optimisme. Mereka dapat memperkuat kompetensi lain, termasuk kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab serta keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.

Disiplin Harus Mendidik, Bukan Sekadar Menghukum

Aspek lain yang mendapat perhatian Prof. Hamid adalah kedisiplinan di pesantren. Menurutnya, disiplin merupakan instrumen penting untuk membangun mental dan kebiasaan bekerja secara tertib.

Namun, pola pembinaan disiplin juga perlu terus disesuaikan dengan perkembangan generasi.

Ketika pendekatan hukuman fisik tidak lagi menjadi pilihan, pendidik dituntut lebih kuat dalam memberikan pembinaan terhadap cara berpikir santri. Konseling dan dialog menjadi penting untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya dihadapi seorang anak.

Santri yang melakukan pelanggaran, menurutnya, jangan terburu-buru disingkirkan. Mereka perlu diajak berbicara dan disadarkan mengenai kesalahannya.

Disiplin juga harus dibangun secara struktural dan dimulai dari keteladanan orang-orang yang berada di atasnya. Setiap aturan perlu disertai pengarahan sehingga santri memahami alasan di balik sebuah ketentuan

Pesantren Perlu Menjawab Tantangan Media Sosial

Prof. Hamid turut menyinggung tantangan pesantren pada era media sosial. Menurutnya, persepsi masyarakat terhadap kehidupan pesantren kini turut dipengaruhi oleh berbagai informasi dan framing yang beredar di ruang digital.

“Media harus dilawan dengan media,” ujarnya.

Karena itu, pesantren perlu semakin mampu menjelaskan proses pendidikannya kepada masyarakat, termasuk kepada orang tua santri.

Kehidupan pesantren memang menuntut aktivitas yang padat. Santri belajar, berorganisasi, berolahraga, menjalankan ibadah dan berbagai kegiatan lain yang dirancang sebagai bagian dari proses pendidikan.

Di sinilah komunikasi menjadi penting. Orang tua perlu memahami bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan memberikan seluruh kenyamanan kepada anak.

Sebaliknya, terdapat proses ketika anak harus belajar menghadapi kesulitan, menyelesaikan masalah, mengatur waktu dan bertanggung jawab terhadap dirinya.

Melalui proses tersebut, kedisiplinan tidak diarahkan untuk membatasi kemampuan berpikir. Disiplin justru menjadi latihan agar seseorang mampu menerjemahkan pemikiran ke dalam tindakan dan menjalankan pekerjaan secara bertanggung jawab.

Itulah pendidikan holistik yang menjadikan pesantren bukan sekadar tempat bersekolah, melainkan ruang untuk belajar hidup. (Adhius)

Penulis : Adhius

Berita Terkait

UIB Gelar FGD Pengembangan Model Pendidikan Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal
Pembukaan POSMAD di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Berlangsung Meriah 
Penguatan Peran Ketahanan Nasional Guru PPKn di Era Digital
Rektor UNIDA Gontor Bedah “Buku Pendidikan Islam Holistik” di Ummul Quro Al Islami Bogor
INAIS dan IPB University Gelar Pelatihan Halal dan Produk Olahan Susu
PKM Mahasiswa Unpam di SMAN 1 Cikande Bekali Generasi Muda dengan Keterampilan Bisnis 
BKPI UIB Ummul Quro Bogor Perluas Jejaring Global lewat sinergi Akademik
Sri Hendriani di UIB: Humas Pemerintah Harus Adaptif dan Mampu Membangun Kepercayaan Publik

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 20:40 WIB

UIB Gelar FGD Pengembangan Model Pendidikan Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:32 WIB

Pembukaan POSMAD di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Berlangsung Meriah 

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Penguatan Peran Ketahanan Nasional Guru PPKn di Era Digital

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Rektor UNIDA Gontor Bedah “Buku Pendidikan Islam Holistik” di Ummul Quro Al Islami Bogor

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:06 WIB

Bedah Buku di UQI Bogor, Prof Hamid: Pesantren adalah Sekolah Kehidupan

Berita Terbaru

Pendidikan

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:55 WIB