Binanews.id | Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah Pulau Jawa ternyata dipicu oleh dua hal di pembangkit listrik, yaitu: (1) force outage, yaitu gangguan mendadak yang tidak direncanakan; (2) derating, yaitu penurunan kapasitas produksi.
Pengamat sekaligus pakar sistem tenaga listrik STEI ITB, Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa menipisnya cadangan batubara atau minyak membuat operator sengaja menurunkan daya pembangkit hingga 60%. Jika dipaksa 100% dan bahan bakar habis, PLTU butuh waktu hingga 2 hari untuk menyala kembali. Lalu, bagaimana solusinya
Kurangi Beban Konsumsi Listrik Demi Hindari Total Black Out
Dalam teori operasi sistem tenaga listrik, seharusnya ada cadangan daya agar sistem tetap aman ketika terjadi gangguan. Saat beban puncak, pemadaman bergilir terpaksa dilakukan dengan tujuan mengurangi beban agar sistem tetap memiliki cadangan daya dan mencegah terjadinya mati total (total blockout)>
Tantangan Baru dari Fenomena El Nino Godzilla
Kedatangan El Nino yang membawa kekeringan ekstrem diprediksi akan memukul sistem kelistrikan dari dua sisi, yaitu (1) konsumsi naik, cuaca panas membuat penggunaan AC Melonjak; (2) Pasokan Turun, debit air menyusut tajam, mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat (Sumber itbvofficial)









