Binanews.id | Bogor–Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, listrik adalah fasilitas dasar yang kehadirannya nyaris tidak pernah dipertanyakan. Namun, jika kita menembus perbukitan terjal dan jalanan tanah liat di berbagai pelosok nusantara, cerita yang terdengar sangatlah berbeda. Kegelapan menjadi kawan akrab di malam hari bagi ratusan desa di Indonesia.
Saat daerah tertinggal tanpa cahaya, Tri Mumpuni Wiyatno hadir. Bukan sebagai pejabat pemerintah yang memotong pita peresmian, apalagi sebagai pemodal besar, melainkan sebagai fasilitator yang menyalakan kembali semangat kemandirian warga desa. Bersama suaminya, Iskandar Kuntoadji, melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), perempuan yang dijuluki “Pahlawan Cahaya” ini telah membangun lebih dari 60 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di daerah terpencil.
Bagi Tri Mumpuni, menerangi desa bukan sekadar urusan teknis mengalirkan arus listrik. Ini adalah perkara membangun peradaban dan mengembalikan harga diri masyarakat. Kepedulian sosial perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini diwariskan langsung oleh ibunya yang kerap membantu mengobati anak-anak dari keluarga kurang mampu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ibu saya tidak pernah banyak berteori, beliau langsung berbuat. Dari situ saya belajar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang kehadirannya bisa menjadi solusi bagi penderitaan orang lain,” kenang Tri Mumpuni. Kenangan masa kecil itu mengakar kuat, membentuk empati yang tajam terhadap ketimpangan sosial di sekitarnya.
Ketika menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia melihat langsung benturan keras antara kekayaan alam dan realitas kemiskinan warga. “Saya melihat ironi yang luar biasa di desa-desa kita. Air melimpah, sungai mengalir deras tanpa henti, tetapi masyarakatnya hidup dalam kegelapan yang mencekam. Di situ saya sadar, kemiskinan mereka bukan karena alam yang pelit, melainkan karena sistem yang tidak berpihak,” ungkapnya. Kesadaran inilah yang menjadi kompas hidupnya dalam menawarkan model pembangunan yang sangat berbeda dari proyek pada umumnya.
Ia tidak datang membawa turbin, memasangnya, lalu pergi. Pendekatannya adalah pemberdayaan murni. “Kalau kita sekadar datang sebagai pahlawan kesiangan, memasang mesin lalu pulang, alat itu hanya akan jadi monumen besi berkarat dalam hitungan bulan. Pembangunan sejati itu membangun manusianya, bukan sekadar mesinnya,” tegas Tri Mumpuni.
Oleh karena itu, sebelum PLTMH dibangun, ia dan timnya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk tinggal bersama warga, berdialog, dan membangun kelembagaan sosial. Warga desa diajak bergotong royong mencari batu, menggali saluran air, dan membangun rumah turbin dengan tangan mereka sendiri.
Di tengah masyarakat yang terkadang terbiasa dengan politik bantuan instan, Tri Mumpuni hadir membawa kritik tajam. Ia menolak keras mentalitas kebergantungan. “Kesalahan terbesar pendekatan pembangunan kita adalah terus-menerus menempatkan orang desa sebagai objek penderita yang harus disuapi. Padahal mereka itu cerdas dan tangguh. Bantuan yang sifatnya sekadar ‘suapan’ justru membunuh daya juang dan merendahkan martabat mereka,” ujarnya dengan lugas. Setelah listrik mengalir, warga didorong membentuk koperasi untuk mengelola iuran secara mandiri, yang hasilnya tidak hanya untuk penerangan tetapi juga menggerakkan ekonomi desa.
Prinsip ini terbukti ampuh. Desa-desa yang didampingi IBEKA kini memiliki kemandirian energi yang dikelola secara kolektif. Dedikasi luar biasa ini telah mendapat pengakuan internasional, seperti Ashden Awards hingga Ramon Magsaysay Award. Namun, piala bukanlah tujuan akhirnya. “Bagi saya, penghargaan sejati adalah ketika melihat seorang anak desa akhirnya bisa belajar dan membaca buku di malam hari karena rumahnya sudah terang. Itulah kedaulatan yang sesungguhnya,” pungkas Tri Mumpuni.[]
Editor : Fathurroji









