Binanews.id | Jakarta- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,05 persen atau 261,84 poin ke level 4.923,26 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Selasa (20/10/2026).
Tekanan jual masif terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp18.032 per dolar AS serta kenaikan harga minyak mentah global. Minyak Brent tercatat di level US$107,90 per barel, sedangkan WTI mencapai US$100,15 per barel.
Kondisi tersebut turut menekan seluruh indeks utama. LQ45 turun 5,53 persen ke level 480,43, Jakarta Islamic Index (JII) melemah 5,93 persen menjadi 283,57, sementara KOMPAS 100 terkoreksi 5,63 persen ke posisi 620,91.
Saham-aham berkapitalisasi besar menjadi sasaran aksi jual. BBCA anjlok 6,86 persen ke Rp4.820, BBRI turun 6,82 persen ke Rp2.460, dan TLKM melemah 6,84 persen ke Rp1.770. Sementara itu, BMRI terkoreksi 2,65 persen ke level Rp3.300.
Aktivitas perdagangan sesi pertama mencatat nilai transaksi mencapai Rp10,03 triliun dengan volume 16,89 miliar saham.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan. TMPO melonjak 28,79 persen ke Rp170, disusul PNSE yang naik 25 persen ke Rp480 dan TRUK menguat 24,84 persen ke Rp4.020.
Pelemahan IHSG tersebut mencerminkan tekanan besar di pasar saham domestik, seiring kombinasi sentimen nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi global yang memicu kekhawatiran investor.









