Gerakan Intelektual: Pemetaan Pemuda Muhammadiyah dalam Menyelesaikan Masalah Pendidikan

Irwan Maulana, M.Pd (Pengamat Pendidikan dan Dosen Universitas Islam Bogor)

Irwan Maulana

- Redaksi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Islam sebagai agama rahmatan lil alamin membawa kesejukan dan perdamaian bagi alam semesta. Hal ini dapat dibuktikan melalui kajian Sejarah yang mendalam dari zaman Nabi Adam hingga saat ini. Saya ambil contoh, ketika Islam diturunkan di Jazirah Arab, negara ini dikelilingi oleh dua peradaban besar, yaitu Romawi dan Persia. Pada saat itu, terjadi kemerosotan moral disana. Salah satu kemerosotan itu adanya kebiasaan mengadu budak dengan Binatang buas di Romawi. Sedangkan di Persia ada tradisi bahwa raja dapat menikahi putrinya sendiri. Di jazirah Arab sendiri terdapat kemerosotan moral yang sangat luar biasa hingga kemudian Islam datang dan menghapus seluruh tradisi buruk itu.

Pada zaman abad pertengahan, Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan. Pada saat itu para penduduk eropa lebih senang memakai gamis karena gamis adalah simbol kemajuan pada saat itu. Hal ini memang lumrah sebab agama, ideologi, atau negara apapun yang memimpin peradaban akan selalu diikuti oleh bangsa yang lain sehingga tidak heran jika kita temukan anak muda Indonesia yang bertingkah laku kebarat-baratan sebab, peradaban Barat saat ini masih menjadi kiblat berbagai macam tren dalam kehidupan. Jika umat Islam ingin diakui di dunia maka satu-satunya jalan adalah dengan cara menjadi pusat peradaban. Satu-satunya cara untuk memimpin peradaban adalah dengan cara iqra, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Kata Iqra sendiri jika diterjemahkan secara lebih luas yaitu pendidikan.

Pendidikan merupakan aspek penting untuk membangun peradaban. Tidak mungkin kemajuan sebuah bangsa dapat dipisahkan dari pendidikan. Pendidikan mampu membawa manusia pada pembebasan diri kepada berbagai macam ketidaktahuan sehingga manusia mampu membaca alam semesta dan kemudian memanfaatkannya sebagaimana tujuan Allah menciptakannya. Pendidikan memiliki sebuah landasan, yaitu landasan filosofis. Landasan filosofis ini berbicara tentang nilai, Nilai yang dianut oleh sebuah bangsa. Nilai ini menjadi kepercayaan komunal yang akan diterjemahkan dalam berpikir, merasa, berucap dan bertindak, bahkan akan terlihat dalam pengelolaan sistem bermasyarakat. Nilai ini dapat bersumber dari berbagai macam sumber, yaitu agama, akal sehat, tradisi, dan filsafat.

Baca Juga:  Pemuda Muhammadiyah Bogor Gelar Konsolidasi dan Teguhkan Arah Kaderisasi Kepemudaan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akal sehat, tradisi, dan filsafat tentu membutuhkan substansi konstan. Sesuatu yang konstan ini adalah nilai yang dapat diuji dari masa ke masa. Nilai ini adalah agama. Tentu agama yang dimaksud adalah agama Islam sebab agama Islam adalah agama yang dapat diuji baik nilai, ajaran, maupun ritualnya. Sumber pendidikan Islam pada dasarnya adalah al-Quran, Sunnah, dan Ijtihad. Tiga sumber ini tidak dapat dipisahkan sebab mereka saling menguatkan. Tiga sumber ini harus dipahami dan dihayati terutama oleh pemuda sebagai pemegang estafeta kemajuan umat Islam.

Pemuda Muhammadiyah merupakan organisasi kepemudaan Islam yang menjadi salah satu organisasi otonom (ortom) di lingkungan Muhammadiyah. Pemuda Muhammadiyah pada dasarnya menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai landasan ideologis dalam berfikir, merasa, berucap, dan bertindak sehingga diharapkan mampu membawa perubahan bagi Masyarakat sekitar. Pada saat tulisan ini ditulis, usia Pemuda Muhammadiyah genap berusia 94 tahun. Usia 94 tahun ini digambarkan sebagai usia yang matang, penuh kebijaksanaan, dan penuh pengalaman. Usia ini sudah cukup ideal untuk mampu mengetahui, memahami, dan menjawab permasalahan yang ada terutama dalam bidang pendidikan. Setidaknya ada beberapa permasalahan pendidikan yang hingga saat ini masih perlu diselesaikan, yaitu:

Pemerataan Pendidikan

Pemerataan pendidikan merupakan suatu permasalahan yang serius dan perlu usaha kolektif untuk menyelesaikannya. Pendidikan yang tidak merata akan menyebabkan SDM yang tidak merata, maka efeknya akan sangat luar biasa, yaitu kesenjangan sosial dan ekonomi yang sangat melebar, sulitnya memberantas dan memutus kemiskinan, rendahnya kualitas sumberdaya manusia, berpotensi terjadinya kriminalitas karena adanya jobless di Masyarakat, melemahnya persatuan bangsa, dan merosotnya moral di suatu Masyarakat. Oleh karena itu, Pemuda Muhammadiyah perlu mengambil peran untuk menjawab tantangan ini. Program-program seperti Gerakan literasi, diadakannya taman baca, pendidikan berbasis relawan, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan pemuda setempat dapat dilakukan oleh Pemuda Muhammadiyah. Hal ini sebagai aksi nyata dalam menjawab tantangan pemerataan pendidikan yang tengah dihadapi bangsa ini.
Kesenjangan Kualitas Pendidikan
Kesenjangan kualitas pendidikan merupakan masalah serius yang harus dicarikan solusinya. Kesenjangan kualitas pendidikan adalah kondisi dimana Masyarakat tidak mendapatkan akses kualitas pendidikan yang sama antar satu tempat dengan tempat lainnya. Hal ini setidaknya dapat terjadi dikarenakan dua hal, pertama kualitas guru yang tidak merata, kedua kualitas pendidikan yang baik hanya dapat dirasakan oleh kalangan Masyarakat menengah ke atas. Pemuda Muhammadiyah dapat menjadi pelopor untuk mengentaskan masalah ini. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengirim kader terbaiknya untuk memberikan pendidikan di daerah dengan kualitas pendidikan rendah. Kemudian, para kader juga dapat membangun koneksi baik dengan pemerintah pusat maupun pengusaha untuk kemudian membantu Masyarakat agar mendapatkan kualitas pendidikan yang layak. Pemuda Muhammadiyah dapat menjadi mitra kritis bagi pemerintah. Hal ini perlu dilakukan agar pemerintah lebih memperhatikan pemerataan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. Pemuda Muhammadiyah juga dapat berkolaborasi dengan pihak lain semata-mata untuk menciptakan kemerataan kualitas pendidikan.

Baca Juga:  Pemuda Negarawan, Menata Bogor Istimewa

Kesenjangan Sarana dan Prasarana

Kesenjangan sarana dan prasarana menjadi salah satu permasalahan yang serius saat ini. Sarana merupakan segala sesuatu yang mendukung langsung proses pembelajaran seperti kursi, meja, penghapus, dan papan tulis, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang tidak mendukung langsung proses pembelajaran akan tetapi keberadaannya sangat mendukung proses pembelajaran, misalnya toilet, lapangan, ruang UKS, dll. Sarana dan prasarana merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Realita saat ini masih banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana yang layak. Para siswa masih banyak yang belajar di lantai, banguna sekolah yang seadanya, serta kondisi sarana dan prasarana yang tidak dapat mendukung proses pembelajaran. Fungsi sarana dan prasarana adalah untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Guru penjaskes akan lebih mudah mengajarkan cara main basket jika sekolah memiliki lapangan dan bola basket. Guru biologi akan lebih mudah memberikan pengalaman belajar yang baik jika sekolah memiliki labolatorium yang baik. Kesenjangan sarana dan prasarana di sekolah akan mempengaruhi kondisi kualitas para lulusan. Hal ini akan menjadi masalah ke depan jika tidak diatasi dengan serius. Dalam konteks menyelesaikan permasalahan ini, pemuda Muhammadiyah dapat menjadi pelopor untuk memberikan masukan kritis dan tajam kepada pemerintah agar memperhatikan sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah. Kemudian, melalui semangat al-Maun, Pemuda Muhamadiyah juga dapat melakukan penggalangan dana untuk menyelesaikan permasalahn tersebut. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi serta akses jejaring yang dimiliki, pemuda Muhammadiyah mampu menjadi pelopor perbaikan kesenjangan sarana dan prasarana pendidikan yang ada dengan atau tanpa bantuan pemerintah.

Baca Juga:  Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Rendahnya Pemerataan Kualitas Guru

Kualitas guru merupakan faktor paling utama dalam menentukan keberhasilan suatu pendidikan. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mentransfer nilai kepada para siswanya. Keberhasilan pendidikan sebetulnya tidak ditentukan oleh kurikulum, mau berapa ratus kali pemerintah mengganti kurikulum, kalua kualitas gurunya tidak diperhatikan, maka hasilnya akan sama saja. Tidak akan ada perubahan. Ada beberapa penyebab mengapa kualitas guru kita rendah, yaitu pertama kualitas pendidikan calon guru belum merata; kedua distribusi guru masih belum merata; ketiga pelatihan guru yang belum menyentuh substansi pendidikan; keempat rendahnya budaya literasi dan riset pada guru; kelima kesejahteraan guru yang belum merata; keenam perubaahan zaman yang sangat cepat. Beberapa masalah yang disebutkan ini harus segera diantisipasi terutama oleh Pemuda Muhammadiyah. Adapun kualitas pendidikan bagi calon guru yang belum merata pemuda Muhammadiyah dapat menguslkan agar pembukaan guru ASN lebih banyak di daerah 3T. Melalui kampus-kampus Muhammadiyah juga pemuda Muhammadiyah dapat mengirimkan para mahasiswa terbaiknya untuk memberikan pendidikan di daerah 3T. Pemuda Muhammadiyah juga dapat bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk memberikan pelatihan bagi guru. Pelatihan ini tidak hanya memberikan materi teknis, akan tetapi materi substansial yang menyentuh para guru untuk memahami tugas-tugasnya sebagai pendidik. Adapun mengenai kesejahteraan guru yang masih rendah serta perubahan zaman yang begitu cepat, pemuda Muhammadiyah dapat mengusulkan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan para guru terutama yang ada di daerah 3T. Selain itu, pemuda Muhammadiyah juga dapat melakukan penggalangan dana baik pada tigkat regional, nasional maupun interasional untuk membantu meningkatkan kesejahteraan para guru. Hal ini perlu dilakukan agar para guru dapat hidup layak dan fokus memberikan pendidikan. Adapun perubahan yang begitu cepat dapat diatasi dengan cara menggali kesadaran kepada para guru akan pentingnya mengupgrade diri. Segala ilmu itu harus diketahui, dipahami, dan kemudian dikendalikan untuk kemaslahatan manusia.

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB