Binanews.id | Bogor–Di mata sebagian orang, pasar tradisional hanyalah tempat jual beli. Hiruk pikuk pedagang, suara tawar-menawar, dan deretan kios sederhana menjadi pemandangan yang biasa. Namun bagi H. Hendi Sofyan, pasar adalah ruang belajar yang sesungguhnya. Di sanalah ia melihat bagaimana ekonomi rakyat bergerak setiap hari, bagaimana ribuan keluarga menggantungkan penghidupan, sekaligus bagaimana sebuah kepercayaan dibangun dari hubungan yang sederhana.
Sejak berdiri pada tahun 1992, BPRS Amanah Ummah memang memilih jalan yang tidak banyak ditempuh lembaga keuangan lainnya. Ketika banyak bank berlomba membidik perusahaan besar atau nasabah kelas menengah atas, Bank Syariah Amanah Ummah justru menancapkan akar di pasar-pasar tradisional dan pelaku usaha mikro. Pilihan itu bukan lahir karena keterbatasan, melainkan karena keyakinan bahwa kekuatan ekonomi bangsa sesungguhnya bertumpu pada masyarakat kecil.
“Dari awal berdiri tahun 1992, kita punya business model, positioning itu adalah kita menggarap sektor pedagang pasar dan UMKM. Sehingga sampai sekarang fondasinya kita di UMKM dan pedagang pasar,” ujar Hendi yang juga menjadi Bendahara ICMI Orda Bogor Barat.
Membangun Kepercayaan dari Lapak-Lapak Sederhana
Pilihan tersebut membentuk karakter Amanah Ummah hingga hari ini. Bank ini tidak menunggu masyarakat datang ke kantor, tetapi memilih hadir lebih dulu di tengah aktivitas mereka. Setiap pagi, petugas Funding Officer (FO) turun langsung ke pasar-pasar untuk menemui para pedagang, menghimpun tabungan, sekaligus membangun hubungan yang berlangsung bertahun-tahun. Bukan sekadar transaksi, melainkan ikatan kepercayaan.

Hingga kini, jaringan pelayanan Amanah Ummah telah menjangkau sekitar 25 pasar tradisional, mulai dari Jasinga di ujung barat Kabupaten Bogor hingga Cicurug, Sukabumi. Adapun kantor BPRS Amanah Ummah Pusat berada di Leuwiliang dengan jaringan di Cabang Kota Bogor, Cabang Cicurug Sukabumi, Cabang Cileungsi dan Kantor Kas Kampus UIKA Bogor.
Para petugas BPRS Amanah Ummah yang turun ke lapangan mengenal nasabah bukan hanya berdasarkan nomor rekening, tetapi juga mengenal nama mereka, jenis dagangan yang dijual, bahkan memahami kondisi usaha masing-masing.
Bagi Hendi, kedekatan seperti itulah yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Seorang pedagang yang setiap hari menyisihkan sebagian keuntungan untuk ditabung sejatinya sedang menitipkan harapan kepada lembaga yang ia percaya. Amanah Ummah menyadari bahwa kepercayaan seperti itu hanya bisa dijaga melalui pelayanan yang konsisten dan hubungan yang tulus.
Ketika Gejolak Dunia Sampai ke Pasar Tradisional
Perjalanan lebih dari tiga dekade tentu tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi berbagai gejolak ekonomi akibat ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, hingga perubahan rantai pasok global. Dampaknya ikut dirasakan oleh pelaku UMKM dan pedagang pasar yang menjadi tulang punggung nasabah Amanah Ummah.
Ketika harga bahan bakar meningkat, biaya produksi ikut naik. Harga barang melonjak, daya beli masyarakat menurun, dan omzet para pedagang ikut tertekan. Situasi itu pada akhirnya berpengaruh terhadap kemampuan mereka untuk menabung maupun membayar angsuran pembiayaan.

“Ketika omzet para pedagang berkurang, akan berimbas juga kepada pendapatan funding kita, kemudian juga berimbas kepada kemampuan mereka untuk mengangsur,” jelas Hendi.
Bagi banyak lembaga keuangan, kondisi seperti itu mungkin dianggap sebagai ancaman. Namun Hendi melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ia percaya bahwa lembaga yang sehat tidak dibangun dengan meninggalkan akar yang selama ini menopangnya, melainkan dengan memperkuat fondasi melalui diversifikasi. Bagi Amanah Ummah, bertahan bukan berarti mengubah arah, tetapi menambah kekuatan agar tetap mampu mendampingi masyarakat dalam situasi apa pun.
Membuka Jalan Baru Melalui Dunia Pendidikan
Dari cara pandang itulah lahir langkah strategis untuk memperluas pelayanan ke sektor pendidikan. Langkah ini bukan berarti meninggalkan UMKM atau pedagang pasar, melainkan menghadirkan penyeimbang agar pertumbuhan perusahaan tetap terjaga ketika satu sektor menghadapi tekanan ekonomi.
“Selain segmen UMKM dan pedagang pasar, juga kita membuka segmen baru sejak beberapa tahun yang lalu, yaitu lembaga Pendidikan,” tuturnya.
Keputusan tersebut ternyata bukan semata-mata strategi bisnis. Ada benang merah yang menghubungkannya dengan sejarah panjang BPRS Amanah Ummah. KH. Sholeh Iskandar, penggagas berdirinya lembaga ini, sejak awal memandang pendidikan, dakwah, dan ekonomi sebagai tiga pilar yang saling menguatkan. Karena itu, ketika Amanah Ummah memperluas pelayanan kepada sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi, sesungguhnya lembaga ini sedang melanjutkan cita-cita besar para pendirinya.
Kini, lebih dari seratus lembaga pendidikan telah menjadi mitra Amanah Ummah. Jaringannya membentang dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, madrasah, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi. Masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pola kerja sama yang dibangun pun disesuaikan dengan karakter setiap institusi.
“Kalau dihitung-hitung, pusat dan cabang, kalau lembaga pendidikan saya rasa lebih dari seratus. Sudah ratusan lah. Dari mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi,” ujarnya.
Menurut Hendi, sektor pendidikan memiliki keunggulan tersendiri. Aktivitasnya berjalan relatif stabil dan tidak terlalu dipengaruhi fluktuasi ekonomi jangka pendek. Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi bukti yang paling nyata. Ketika banyak pedagang mengalami penurunan omzet, bahkan tidak sedikit yang gulung tikar, lembaga pendidikan justru mampu bertahan dengan baik.
“Ketika COVID saja, ketika pedagang pasar banyak yang terdampak sekali, bahkan ada yang gulung tikar. Tapi lembaga pendidikan relatif stabil. Relatif tahan banting.”
Hubungan yang dibangun Amanah Ummah dengan dunia pendidikan pun jauh melampaui transaksi keuangan. Ada pesantren yang memiliki dana lebih dan membutuhkan tempat yang aman untuk mengelolanya. Ada pula pesantren yang sedang berkembang dan memerlukan pembiayaan untuk membeli lahan, membangun asrama, maupun menambah ruang belajar.
“Ada pesantren yang kelebihan dana. Ada pesantren yang memang membutuhkan dana. Contohnya untuk pembebasan lahan, membangun asrama, membangun ruang kelas. Mereka mengajukan pembiayaan,” paparnya.
Salah satu bentuk sinergi itu tampak di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Di lingkungan kampus yang dahulu dirintis KH. Sholeh Iskandar kini berdiri kantor kas BPRS Amanah Ummah yang melayani berbagai transaksi keuangan kampus, mulai dari pembayaran biaya pendidikan hingga layanan pembiayaan bagi sivitas akademika.

“Kita menempatkan satu kantor kas khusus di Kampus UIKA. Jadi transaksi perputaran keuangan kampus itu masuk semua lewat kantor kas kita.”
Di mata Hendi Sofyan, pasar dan sekolah sebenarnya memiliki satu kesamaan. Keduanya adalah tempat lahirnya masa depan. Karenanya tak heran jika keluarga H Taufiq Rahman mendirikan Yayasan Pendidikan Darul Muta’allimien Tingkat Raudlatul Athfal dan Madrasah Ibtidaiyah di Leuwiliang sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pendidikan.
“Saat ini jumlah murid yang belajar di RA dan MI Darul Muta’allimien berjumlah 500 siswa. Alhamdulillah untuk MI berbasis infaq dari wali murid,” ungkap Hendi yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Darul Mutaallimien di Kec.Leuwiliang.
Di pasar, orang tua bekerja keras menghidupi keluarganya. Di sekolah dan pesantren, anak-anak mereka dipersiapkan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Ketika keduanya dapat didampingi secara bersamaan, maka ekonomi dan pendidikan akan berjalan beriringan.
Nah, bagaimana selanjutnya BPRS Amanah Ummah mendapatkan prestasi dari berbagai kalangan atas kinerjanya selama ini? Ikuti ulasan seri berikutnya di edisi terakhir.[]
Penulis : Fathurroji









