Binanews.id | Bogor – Tidak semua luka langsung sembuh hanya karena waktu berjalan. Ada luka yang diam-diam tinggal di kepala seseorang bertahun-tahun, membentuk rasa takut, rasa malu, bahkan membuat seseorang merasa tidak layak untuk dilihat dunia.
Hal itu pernah dirasakan Kintan, alumni penerima Beasiswa 1.000 Da’i Universitas Ibnu Kholdun (UIKA) dan Baitulmal Ummat Islam (BAMUIS) BNI yang kini aktif sebagai muslimah Key Opinion Leader (KOL) di media sosial.
Di balik kontennya yang tenang dan estetik, ternyata ada cerita panjang tentang rasa insecure akibat bullying yang ia alami sejak kecil.
“Aku pernah dibully waktu SD selama enam tahun. Dari situ sebenarnya aku jadi insecure,” ungkapnya dalam wawancara, Selasa (19/5/2026).
Saat itu, bullying belum banyak dibicarakan seperti sekarang. Ia memilih diam dan memendam semuanya sendiri. Tidak banyak orang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
Namun hidup punya cara unik untuk membawa seseorang pulang kepada dirinya sendiri.
Kintan yang awalnya tidak suka tampil di media sosial, justru perlahan menemukan keberanian saat pandemi Covid-19 memaksa banyak aktivitas berpindah ke dunia digital. Dari sana, ia mulai mencoba bercerita, membagikan pemikiran, hingga pengalaman hidupnya sebagai muslimah muda.
Bukan sekadar soal fashion atau gamis yang ia kenakan, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
“Aku pengen banyak muslimah merasakan hal yang sama. Bahwa pakai gamis itu ternyata tetap bisa nyaman, fashionable, dan tetap sesuai syariat,” katanya.
Bagi Kintan, perjalanan menerima diri sendiri bukan sesuatu yang instan. Bahkan sampai sekarang, ia mengaku masih belajar melawan rasa minder dan trauma-trauma kecil yang kadang datang tiba-tiba.
“Meskipun kadang trauma itu masih muncul, ya namanya hidup pasti ada kendalanya. Tinggal percaya aja sama rencana Allah,” tuturnya.
Media sosial yang sering dianggap tempat pamer kehidupan, justru ia gunakan sebagai ruang untuk menyampaikan cerita dan energi baik kepada orang lain. Ia memilih membangun personal branding sebagai “Gen Z Story Teller”, karena percaya bahwa cerita yang jujur bisa lebih menyentuh daripada pencitraan.
Menariknya, Kintan juga mengaku pernah merasa tidak pantas berada di lingkungan para influencer besar. Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat diundang sebuah brand gamis syar’i ke acara gathering bersama banyak KOL ternama.
Di tengah para influencer dengan puluhan ribu pengikut, ia sempat merasa kecil.
“Aku ngerasa nggak layak ada di sana. Tapi akhirnya aku bilang ke diri sendiri, ‘Kalau kamu ada di sini berarti kamu layak,’” katanya.
Kalimat sederhana itu terdengar biasa. Namun bagi banyak orang yang sedang berjuang melawan rasa insecure, penerimaan kecil terhadap diri sendiri sering kali menjadi langkah paling berat.
Kintan percaya, setiap orang sebenarnya punya luka dan ketakutannya masing-masing. Hanya saja, tidak semua orang menunjukkannya di media sosial.
Karena itu, ia mengingatkan anak muda untuk tidak terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sebab yang terlihat di internet sering kali hanya bagian terbaik seseorang, bukan keseluruhan hidupnya.
Menurutnya, yang paling penting bukan menjadi paling terkenal, tetapi menjadi pribadi yang punya arah hidup dan tetap bertumbuh.
“Aku pegang satu misi hidup, yaitu engage, empower, inspire. Jadi dimanapun aku berada, kerja apa pun aku, aku pengen tetap mengajak, memberdayakan, dan menginspirasi orang lain,” ujarnya.
Di tengah dunia digital yang semakin ramai dan bising, kisah Kintan menjadi pengingat sederhana bahwa seseorang tidak harus sempurna dulu untuk bisa memberi dampak baik bagi orang lain.
Kadang, justru orang-orang yang pernah merasa paling hancur diam-diam sedang belajar menjadi cahaya untuk dirinya sendiri dan orang lain.









