Rintisan BPRS Amanah Ummah: Memilih Orang Amanah, Bukan Bankir

Sejarah BPRS Amanah Ummah (Seri 2 dari 6)

Tim Redaksi

- Redaksi

Selasa, 7 Juli 2026 - 07:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Dalam perjalanan sebuah lembaga, ada keputusan-keputusan yang baru terasa nilainya setelah puluhan tahun berlalu. Demikian pula yang terjadi pada BPRS Amanah Ummah. Jauh sebelum bank ini resmi beroperasi, KH Sholeh Iskandar telah dihadapkan pada satu keputusan penting, yaitu menentukan siapa sosok yang akan memikul amanah untuk memimpin lembaga yang sedang beliau rintis.

Keputusan tersebut tidak dapat dipandang sebagai proses mencari seorang direktur semata. Bagi KH Sholeh Iskandar, lembaga keuangan syariah bukan sekadar institusi bisnis yang mengejar keuntungan, melainkan instrumen untuk memperkuat perekonomian umat. Karena itu, sosok yang dipilih harus memiliki karakter yang mampu menjaga amanah.

Pilihan itu ternyata tidak jatuh kepada ekonom, akademisi, atau praktisi perbankan yang telah berpengalaman. Di luar dugaan banyak orang, KH Sholeh Iskandar justru menunjuk H. Taufiq Rahman, seorang pengusaha yang kesehariannya mengelola usaha toko emas dan aktif dalam aktivitas perdagangan di pasar Leuwiliang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keputusan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan, bahkan bagi orang yang dipilihnya sendiri. H. Taufiq Rahman merasa dirinya bukan sosok yang tepat untuk memimpin sebuah lembaga keuangan. Ia tidak pernah belajar ilmu perbankan, tidak memiliki pengalaman mengelola institusi keuangan, dan tidak pernah membayangkan akan memimpin sebuah bank syariah.

Hendi Sofyan Direktur Utama BPRS Amanah Ummah mengenang bagaimana ayahnya (H Taufiq Rahman) sering menceritakan perasaan tersebut kepada keluarga. Menurutnya, sang ayah selalu memandang amanah itu sebagai tanggung jawab yang jauh melampaui kemampuan yang dimilikinya saat itu.

“Beliau adalah seorang pengusaha, pedagang pasar, pedagang toko emas. Jadi beliau itu orang pasar. Pendidikan beliau juga bukan sarjana, lulusan SMA. Tidak punya latar belakang perbankan dan tidak punya pengalaman memimpin bank,” kenang Hendi yang juga Bendahara ICMI Orda Bogor Barat.

Baca Juga:  Madrasah Diniyah Takmiliyah akan Diakui, Ini Dua Model Kolaborasinya
hendi sofyan dirut bank syariah amanah ummah
Hendi Sofyan Direktur Bank Syariah Amanah Ummah

Perasaan itulah yang membuat H. Taufiq Rahman berulang kali menolak permintaan KH Sholeh Iskandar. Setiap kali diminta menerima amanah tersebut, beliau selalu mengemukakan alasan yang sama, belum layak dan tak pantas.

Hendi mengungkapkan, penolakan tersebut berlangsung hingga beberapa kali. Akan tetapi, KH Sholeh Iskandar tidak pernah mengubah keputusannya. Beliau tetap meyakini bahwa H. Taufiq Rahman adalah orang yang tepat untuk memimpin Amanah Ummah. Keyakinan itu tidak dibangun atas dasar keahlian teknis, melainkan karena beliau melihat karakter yang dimiliki orang yang dipilihnya.

Sampai akhirnya datang pertemuan yang menjadi titik balik perjalanan itu. H. Taufiq Rahman kembali menyampaikan alasan penolakannya. Namun kali ini, menurut cerita yang terus dikenang keluarga, raut wajah KH Sholeh Iskandar mulai berubah sehingga membuat suasana menjadi berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.

“Katanya, alisnya sudah mau naik. Berarti tandanya sudah mau marah. Terpaksa diterima,” kenang Hendi sembari tersenyum.

Keputusan itulah yang kemudian mengubah arah perjalanan hidup H. Taufiq Rahman. Dari seorang pedagang, ia memasuki dunia yang sama sekali baru dan harus belajar memahami berbagai aspek pengelolaan lembaga keuangan syariah. Semua proses itu dijalani dengan keyakinan bahwa amanah harus ditunaikan sebaik-baiknya, meskipun pada awalnya terasa begitu berat.

Waktu kemudian menjadi saksi bahwa pilihan KH Sholeh Iskandar bukanlah keputusan yang keliru. Selama tiga puluh satu tahun memimpin Amanah Ummah, H. Taufiq Rahman berhasil menjaga keberlangsungan lembaga tersebut melewati berbagai dinamika ekonomi nasional. Mulai dari krisis moneter tahun 1998 hingga perubahan regulasi industri keuangan syariah, Amanah Ummah tetap mampu bertahan dan terus berkembang.

Baca Juga:  Antisipasi Dampak Abu Vulkanik, Bupati Bogor Terapkan PJJ Bagi Siswa PAUD Hingga SMP

Bagi Hendi Sofyan, perjalanan panjang itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa seorang pemimpin tidak selalu dipilih karena paling ahli atau paling berpengalaman. Ada kualitas lain yang sering kali lebih menentukan, yaitu integritas, kejujuran, dan kesediaan menjaga amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

“Saya melihat Almarhum punya insting yang luar biasa. Beliau memilih bukan karena orang itu ahli bank. Mungkin beliau melihat bahwa orang ini amanah dan bisa memimpin bank dengan baik. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang terbukti,” ujarnya.

gedung bprs amanah ummah

Visi yang Melampaui Zamannya

Semakin sering mendengar cerita tentang KH Sholeh Iskandar, Hendi Sofyan semakin memahami bahwa sosok tersebut memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan kebanyakan orang pada zamannya. Kiai Sholeh tidak hanya memikirkan kebutuhan masyarakat hari ini, tetapi juga membayangkan seperti apa kondisi umat puluhan tahun yang akan datang.

Pandangan jauh ke depan itu terlihat dalam hampir setiap keputusan yang beliau ambil. Bukan hanya ketika memilih pemimpin Amanah Ummah, melainkan juga ketika membangun berbagai lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial yang hingga kini masih terus memberikan manfaat bagi masyarakat Bogor dan sekitarnya.

Salah satu contoh ketika KH Sholeh Iskandar memutuskan membangun Universitas Ibn Khaldun di lokasi yang saat itu dianggap kurang menjanjikan. Banyak orang menilai kawasan tersebut terlalu jauh dari pusat aktivitas kota sehingga dipandang kurang strategis untuk sebuah kampus.

Hendi mengaku pernah merasakan sendiri suasana kawasan tersebut ketika masih bersekolah di SMA Negeri 2 Bogor. Menurutnya, kondisi wilayah itu sangat berbeda dengan yang terlihat sekarang. Akses transportasi belum ramai, lalu lintas masih lengang, dan aktivitas ekonomi belum berkembang seperti saat ini.

Baca Juga:  Menkeu Tegaskan Babinsa Tidak Dilibatkan Menagih Pajak Rakyat

“Dulu UIK itu kayak tempat jin buang anak, sepi. Karena saya pernah SMA 2 di situ. Dulu sepi banget, angkot jarang lewat,” kisahnya.

Namun waktu membuktikan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah yang sangat visioner. Kawasan yang awalnya dipandang sepi kini berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan Kota Bogor. Aktivitas pendidikan, perdagangan, kesehatan hingga bisnis tumbuh pesat, sementara nilai aset di kawasan tersebut meningkat berkali-kali lipat dibandingkan ketika pertama kali dibangun.

Menurut Hendi, KH Sholeh Iskandar mampu melihat potensi sebuah kawasan jauh sebelum orang lain menyadarinya. Cara berpikir seperti itulah yang kemudian menjadi inspirasi dalam membangun berbagai lembaga yang beliau dirikan. “Itu salah satunya yang saya lihat, ini punya insting dan visi yang jangka Panjang,” tuturnya.

Bagi Hendi, pelajaran terbesar yang diwariskan KH Sholeh Iskandar bukan hanya tentang pentingnya membangun lembaga, melainkan bagaimana membangun sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Pendidikan, kesehatan, dakwah, dan ekonomi tidak pernah dipandang sebagai bidang yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar besar untuk meningkatkan kualitas hidup umat.

Karena itulah, menjelang akhir hayatnya, KH Sholeh Iskandar masih sempat menggagas berdirinya lembaga keuangan syariah yang kemudian dikenal sebagai BPRS Amanah Ummah. Meski tidak sempat menyaksikan lembaga tersebut beroperasi, visi yang beliau tanamkan terus hidup dan menjadi arah bagi setiap generasi yang melanjutkan perjuangan itu.

Berikutnya adalah estafeta membangun BPRS Amanah Ummah dari generasi yang lebih muda. Siapa dia? Ikuti ulasan sejarah Bank Syariah Amanah Ummah seri berikutnya.[]

 

Penulis : Fathurroji

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB