Binanaews.id | Bogor–Tahun 2014 menjadi salah satu persimpangan penting dalam perjalanan hidup H. Hendi Sofyan. Setelah hampir sepuluh tahun berkarier di perusahaan minyak multinasional Petronas, ia memutuskan kembali ke Leuwiliang Bogor dan bergabung dengan BPRS Amanah Ummah.
Sejak berangkat menempuh pendidikan ke Malaysia, keluarganya memang berharap suatu saat ia kembali membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun Bank Syariah Amanah Ummah. Hanya saja, ia ingin pulang setelah merasa memiliki bekal yang cukup. Ia ingin kembali bukan sebagai anak direktur, tetapi sebagai seorang profesional yang telah merasakan bagaimana bekerja di lingkungan perusahaan kelas dunia.
Meski demikian, kepulangannya tidak serta-merta disambut dengan jabatan strategis. Tidak ada ruang istimewa yang disediakan hanya karena ia merupakan putra dari Direktur Utama. Justru sebaliknya, Hendi harus memulai semuanya dari bawah. Baginya, proses itu bukan sekadar formalitas, melainkan kesempatan untuk memahami setiap denyut kehidupan organisasi yang kelak akan dipimpinnya.
“Ketika bergabung 2014, saya mulai dari bawah. Tidak ujug-ujug langsung jadi pimpinan, nggak. Tapi mulai dari bawah,” kisahnya.
Jabatan pertamanya adalah Asisten Direksi. Bagi sebagian orang, posisi tersebut mungkin tampak administratif. Namun bagi Hendi, justru di sanalah ia memperoleh sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya. Setiap hari ia mengikuti agenda para direksi, mendampingi berbagai pertemuan, hingga menyaksikan secara langsung bagaimana keputusan-keputusan penting diambil.
“Pernah saya sebagai asisten direksi, asistennya direktur utama, asistennya direktur bisnis, ikut ke mana-mana. Kalau ada meeting, kalau ada survey, segala macam, ketemu nasabah,” paparnya.
Pengalaman itu memberinya kesempatan melihat organisasi dari jarak yang sangat dekat. Ia belajar bahwa memimpin sebuah bank tidak hanya berkaitan dengan laporan keuangan atau target bisnis. Seorang pemimpin harus mampu mendengar keluhan nasabah, memahami karakter pasar, membangun hubungan dengan mitra, sekaligus memastikan seluruh proses berjalan sesuai prinsip syariah.

Hampir dua tahun menjalani peran sebagai asisten, Hendi merasa dirinya benar-benar sedang ditempa. Setelah dinilai cukup memahami ritme organisasi, manajemen memberikan kepercayaan baru. Hendi ditunjuk sebagai Kepala Bidang Funding, divisi yang bertanggung jawab menghimpun dana masyarakat melalui berbagai produk tabungan dan simpanan. Jabatan tersebut menjadi tantangan yang berbeda karena keberhasilan sebuah bank sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dananya.
“Setelah itu saya diberikan amanah sebagai kepala bidang funding. Funding itu yang mencari dana. Tabungan utama. Tabungan. Baik pasar maupun non pasar,” paparnya.
Pengalaman panjang di bidang sales and marketing ketika bekerja di Petronas mulai menunjukkan manfaatnya. Hendi tidak hanya memahami pentingnya menawarkan produk, tetapi juga mengetahui bahwa kepercayaan merupakan inti dari setiap hubungan bisnis.
Menurutnya, produk yang baik tidak akan berkembang apabila hanya menunggu nasabah datang. Sebuah bank harus hadir lebih dahulu di tengah masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, kemudian menawarkan solusi yang sesuai. Cara berpikir seperti itulah yang perlahan mulai diterapkan dalam pengembangan penghimpunan dana di Amanah Ummah.
Keberhasilannya pada bidang funding membuat manajemen kembali memberikan tanggung jawab yang lebih luas. Kali ini Hendi dipercaya menjadi Kepala Bidang Bisnis, sebuah posisi yang tidak hanya mengelola penghimpunan dana, tetapi juga bertanggung jawab terhadap penyaluran pembiayaan kepada masyarakat.
Ruang lingkup pekerjaannya menjadi jauh lebih kompleks. Ia harus memastikan keseimbangan antara pertumbuhan dana yang dihimpun dengan kualitas pembiayaan yang disalurkan. “Bisnis itu udah mulai agak luas. Bukan hanya funding, tapi juga lending. Lending itu lempar pembiayaan. Jadi meng-handle tim 30 orang sebagai kepala bidang bisnis di kantor pusat.”
Semua pengalaman tersebut menjadi bekal yang sangat berharga. Namun menurut Hendi, tantangan sesungguhnya baru dimulai ketika pada tahun 2018 ia menerima amanah sebagai Kepala Cabang Bogor, cabang terbesar yang dimiliki BPRS Amanah Ummah.
Membuktikan Diri Lewat Prestasi, Bukan Garis Keturunan
Bulan Agustus 2018 menjadi awal dari babak baru dalam perjalanan karier H. Hendi Sofyan. Setelah melewati berbagai posisi di kantor pusat, ia dipercaya memimpin Kantor Cabang Bogor yang berada di kawasan Air Mancur. Penugasan itu bukan sekadar promosi jabatan, melainkan ujian kepemimpinan yang sesungguhnya. Cabang Bogor merupakan cabang terbesar yang dimiliki BPRS Amanah Ummah, sekaligus wajah perusahaan di pusat aktivitas ekonomi Kota Bogor.
Bagi Hendi, menjadi kepala cabang memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan memimpin sebuah divisi. Seorang kepala cabang harus mampu mengambil keputusan setiap hari, mengelola sumber daya manusia, menjaga kualitas pembiayaan, membangun hubungan dengan nasabah, hingga memastikan target bisnis tercapai tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariah. Semua tanggung jawab itu berada di pundaknya sebagai pemimpin wilayah.
“Alhamdulillah, itu pengalaman yang sangat luar biasa ketika saya jadi kepala cabang. Karena kepala cabang itu ibaratnya mininya direktur utama. Ibaratnya kalau kepala cabang itu kalau di negara itu gubernur,” ulasnya
Saat pertama kali menerima estafet kepemimpinan pada Agustus 2018, kondisi cabang sebenarnya sudah berjalan dengan baik. Namun Hendi melihat masih banyak ruang yang dapat dikembangkan.
Bekal yang diperolehnya selama sepuluh tahun bekerja di Petronas mulai diterapkan secara lebih nyata. Pengalaman di bidang sales dan marketing membuatnya memahami bahwa pertumbuhan bisnis tidak lahir hanya dari promosi produk, tetapi dari kemampuan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam budaya kerja cabang yang dipimpinnya, yaitu lebih aktif mendatangi masyarakat, memperkuat komunikasi dengan pelaku usaha, serta menjaga pelayanan yang cepat dan personal.
Lima tahun kemudian, hasil kerja tersebut dapat diukur secara nyata. Ketika Hendi mulai memimpin Cabang Bogor, nilai aset yang dikelola berada pada kisaran Rp37 miliar. Saat ia menyerahkan estafet kepemimpinan kepada penerusnya pada tahun 2023, nilai aset cabang telah mencapai sekitar Rp120 miliar.
“Waktu saya mengambil alih dari kepala cabang yang lama tahun 2018, saya ingat bulan Agustus, itu aset Cabang Bogor Rp37 miliar. Saat saya tinggalkan, saya serahkan ke penerus saya Rp120 miliar asetnya. Dalam waktu lima tahun. Dari Rp37 miliar ke Rp120 miliar. Hampir empat kali lipat,” tegasnya.

Di Amanah Ummah, keberhasilan bisnis harus berjalan seiring dengan nilai-nilai amanah, keadilan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Pertumbuhan yang dicapai tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip yang menjadi fondasi lembaga sejak pertama kali didirikan.
Tanpa disadari, masa lima tahun itu menjadi ruang pembelajaran yang paling lengkap dalam perjalanan kariernya. Jika sebelumnya ia belajar dari para direksi sebagai asisten, memahami penghimpunan dana sebagai Kepala Bidang Funding, serta mengelola strategi bisnis sebagai Kepala Bidang Bisnis, maka menjadi kepala cabang mengajarkannya bagaimana menyatukan seluruh pengalaman tersebut ke dalam satu kepemimpinan yang utuh.
Ketika masa tugasnya sebagai Kepala Cabang Bogor berakhir pada tahun 2023, sesungguhnya satu fase penting telah selesai. Ia telah melewati proses belajar, pembuktian, dan pengujian yang panjang. Tinggal satu amanah yang belum pernah dipikulnya, yaitu memimpin seluruh BPRS Amanah Ummah sebagai Direktur Utama.
Pada Agustus 2023, amanah itu akhirnya datang. Para pemegang saham memberikan kepercayaan kepada H. Hendi Sofyan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan yang selama tiga puluh dua tahun dijalankan oleh ayahnya, H. Taufiq Rahman. Namun bagi Hendi, keputusan tersebut tidak pernah ia maknai sebagai pergantian generasi semata. Ia melihatnya sebagai kelanjutan dari amanah yang telah dititipkan KH Sholeh Iskandar sejak lebih dari tiga dekade sebelumnya.
Bagaimana Hendi Sofyan mendongkrak BPRS Amanah Ummah menjadi bank syariah yang bukan hanya dikenal di Bogor dan diperhitungkan di Indonesia? Ikuti ulasan seri selanjutnya. []
Penulis : Fathurroji










